Skip to main content

Secangkir Kopi Panas




Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya.

Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur.

Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna.

Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa ada sesuatu yang belum terpenuhi setelah seharian tadi mengerjakan kewajiban di wilayah domestik dan sebagai ibu siaga bagi kedua anak-anakku.

Segera ku ambil Gawai. Ku baca apa saja yang ingin ku baca tentang motivasi hidup, parenting, Novel, Cerpen, Konselling hingga ilmu agama seperti fikih, tasawuf dan lain sebagainya.

Membaca dengan kondisi kosong masih dirasa kurang lengkap sehingga aku memutuskan segera bergegas ke dapur menghidupkan kompor. Yah! Secangkir kopi eh keliru secangkir teh hangat akan melengkapi me time ku.

Tiba-tiba si paksu yang masih sibuk rekap data nota tebu yang sudah masuk pabrik gula bersuara, " bu bikinkan kopi dunk sekalian! Dari tadi pahit nih". Segera ku iyakan suara itu dari dapur " Ok!". Segera ku ramu minuman favoritnya dengan bahan, 1 sendok makan bubuk kopi kayu mas ditambah gula secukupnya dan seduhan air panas. Taaara...secangkir kopi panas siap disajikan.

"Sssrrrrtttt....." Paksu terdengar mulai menyeruput kopi panas buatanku. " Gimana Mas?" tanyaku penasaran. "Emmmh....kok kayak kolak pisang ya rasanya. Manis banget". Jawab Paksu sambil berlalu ke dapur untuk membuatnya kembali. "Eits...tuh kan?". Jawabku sekenanya. Kali ini aku cuekin saja karena tidak sekali ini saja si paksu tidak cocok dengan kopi panas buatanku.

Pernah suatu ketika kami kedatangan teman lama untuk menyampaikan surat undangan pernikahannya. Saking girangnya, si paksu menyuruhku membuatkan 2 cangkir kopi luwak. Tanpa basa basi segera ku bawakan 2 cangkir kopi panas sesuai pesanan bernampan perak.

Selang beberapa menit berlalu mereka mulai menyeruput kopi buatanku. Karena sang tamu adalah teman lama kita, tanpa basa-basi si paksu berkomentar " ibu kopi luwaknya berasa kacang ijo, maniiis banget!" aku yang mendengar hanya bisa garuk-garuk kepala sambil cengengesan. Tanpa sadar ku jawab komentarnya" lah biasanya mas bikin sendiri gitu minumannya". Sontak sang tamu menambahkan " ayo, buka kartu ini! Ketahuan gak pandai bikinin kopi suami". Seketika kami tertawa bersama.

Comments

Popular posts from this blog

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...