Skip to main content

Sebuah Rasa





Nina adalah seorang janda dengan satu anak
Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina.

Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan.

Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat.

Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus.

Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini.

Sementara Nina, sudah dua hari merasa aneh sebab sebuah telpon yang diterimanya dari seorang teman lama.

Setelah ditelusuri sebabnya ternyata belakangan baru diketahui bahwa sang teman lama ternyata menyimpan rasa pada Nina, yang masih setia dengan cinta mendiang suaminya.

Sebut saja Deri. Deri adalah seorang duda yang baru bercerai dengan isterinya karena ketahuan selingkuh dengan teman kantornya. Pekerjaannya yang padat, membuatnya lebih sering di luar rumah dari pada berkumpul dengan isteri dan anak-anaknya.

Dalam group telegram sekolah yang mempertemukan mereka berdua, disitulah Deri menunjukkan ketertarikannya pada Nina. Awalnya Nina bersikap cuek dengan segala perhatian Deri. Sapaan demi sapaan meski terkesan basa-basi mampu ia tepis.

Namun belakangan, Deri selalu mengiriminya bait-bait puisi yang dapat menggeser sedikit benteng pertahanan hatinya sebagai seorang janda.

Bait-bait puisi luapan rasa cinta Deri sejenak mampu menghipnotis logikanya. Seolah mampu mengisi ruang kosong yang telah lama bersarang di sudut hati Nina.

Yang menjadi masalah, puisi-puisi itu tidak dikirim secara langsung ke telegram Nina. Deri lebih sering meluapkan perasaannya dalam group sekolah yang mempertemukan mereka kembali.

Teman-temannya pun menangkap hal yang sama dengan Nina. Bahwa Deri menyukai Nina. Kini Nina merasa bingung dan bimbang. Apa memang Deri punya hati padanya. Tapi mengapa caranya demikian? Tak terima dirinya yang merasa dipermainkan, Nina memberanikan diri bertanya langsung pada Deri.

"Assalamualaikum" sapa Nina di aplikasi telegram yang ditujukan pada Deri.
Beberapa menit terjawab, " Waalaikumsalam. Di awal purnama ini, warna apa yang tengah menyelimuti hatimu?" tanya Deri mulai menunjukkan sisi romantisnya.

Nina yang sebenarnya suka diperlakukan demikian,  lebih memilih bersikap seolah tidak peka.
" Ada sebuah puisi yang hendak ingin ku tanyakan padamu?" jawab Nina segera.

" Puisi yang mana? Apakah kau terusik dengan puisi itu?" balas Deri.

" Hanya ingin bertanya, sosok yang kau tuju dalam puisi itu siapa? Masalahnya teman-teman beranggapan puisi itu ditujukan padaku. Mereka mengira kita menjalin sebuah hubungan."

"parahnya, ada teman yang beranggapan akulah penyebab keretakan rumah tanggamu." terang Nina jelas pada dialog chat yang dikirimnya via telegram.

" Boleh Aku telpon kamu ?" tanya Deri di seberang.

"Boleh" jawab Nina segera.

Tak lama, ponsel Ninapun berdering. Nama Deri tertera jelas di layar ponsel. Sepintas hati Nina berdebar menerima telpon Deri. Akh kayak anak SMA saja. Pikirnya mengusir ketegangan dan kekakuan keduanya.

"Puisi yang mana, aku g faham pembicaraanmu tadi?" tanya Deri.

"bukan. Aku hanya ingin bertanya sosok yang dimaksud dalam puisi itu siapa?"

Terdengar suara deru mobil di sela pembicaraan mereka. " Nina, itu hanyalah sebuah puisi. Aku hanya sekedar menulisnya. Tak ada niatan lain" Deri yang tidak pernah menduga bila Nina akan bertanya, berusaha tidak mengakui bahwa yang dituju adalah Nina.

"kenapa aku bertanya A jawabmu B? Seolah kamu menghindari pertanyaanku. Sikapmu yang demikian justeru semakin jelas menyimpulkan bahwa kamu bukanlah pria baik-baik." jawab Nina mulai marah. Tersinggung karena merasa dirinya dipermainkan Deri.

"Oiya, aku sedang di rumah. Aku harap kamu jawan baik-baik pertanyaanku lewat telegram. Aku takut ketahuan Arim. Ia pasti tidak terima kalau ibunya sedang berkomunikasi dengan pria asing bukan muhrim." jawab Nina sambil segera mengakhiri pembicaraan.

"sibuk kah? Ok ok aku balas. Assalamualaikum" jawab Deri.

"Waalaikumsalam" jawab Nina.

Dari pembicaraan itu, Deri tak pernah mau berterus terang tentang sosok yang dituju dalam puisi itu. Justeru ia semakin lancar mengungkapkan perasaannya lebih dalam. Teman seangkatan yang turut membaca hanya dapat menyimak dan menyayangkan sikap Deri yang terkesan pengecut dan lebih senang menebar fitnah.
--------------------------******----------------------

Dalam kebimbangan yang mendera, Nina berusaha memunculkan kembali ingatan masalalunya. Romansa cintanya dengan sang mendiang suami. Ia luapkan kebimbangannya dalam  bentuk tulisan. Pikirnya, biarlah ini menjadi bukti bahwa ia sangat mencintai suaminya.


Teruntuk soulmateku di alam sana.


D-unia dimana aku menemukanmu. Sebagai suami berhati malaikat. Yang selalu menjaga keluarga kita dari ancaman dan marabahaya.
E-nggan menyerah sebelum berhasil melakukan segala yang kamu anggab baik untuk kita.
E-ntah dulu, hari ini atau esok.
M-anusia tidak pernah bisa menentukan batas ujian dan umurnya. Karena sejatinya kita hanyalah insan yang harus selalu berusaha, berjuang, mempertahankan kebahagiaan ini hingga Allah sendiri yang mengakhiri.
A-kan tetapi dalam kerasnya perjuangan, Allah pasti mengirimkan beberapa orang dan beberapa hal yang bila tidak benar-benar teguh pendirian mengingatNya, bahwa Dia Maha Tahu dan Melihat, kita akan tergelincir, terjerembab ke jurang kenistaan yang tidak Allah Ridhoi.
S-halat dan sabar adalah dua kunci yang selalu kami pegang untuk selalu berada dalam lindunganNya.
Y-a Mujibassailin...istajib du'ana Ya Allah.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...