Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris.
"Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati.
Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya.
"Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula.
"Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk.
"ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusaha menghiburnya.
" lah adik ini gimana sih? Aku ngomong sebenarnya nanti justeru marah. Ngomong begini juga masih marah". Doni memeluk sang isteri dari belakang yang tengah sibuk merapikan hijabnya.
" ih mas, tau gak sih. Penyakit ini
benar-benar melumpuhkan mentalku untuk sekedar bertemu muka dengan siapapun". Jawabnya sambil memandang bayangan mereka dalam cermin rias besar.
"sudah, jangan mengeluh. Aku gak akan meninggalkanmu kok hanya karena penyakit ini. Yuk berangkat! Sudah siang nih". Doni segera menarik lengan Nina untuk segera masuk mobil.
------------------------******------------------------
Tepat jam 08.00 Nina dan Doni sampai di ruang pendaftaran rumah sakit umum daerah tersebut. Doni segera menyuruh Nina untuk duduk di kursi yang tersedia sementara Doni segera mendaftarkan sang isteri untuk periksa ke dokter saraf.
Setelah proses administrasi dilakukan, Dengan menenteng sebuah map, Ia dan sang isteri segera menuju lantai dua untuk mendatangi ruang poli saraf.
Di sana sudah ada 6 pasien yang sejak pagi menunggu dokter saraf datang. Nina berusaha menutupi penyakitnya dengan masker wajah yang sempat ia buka di ruang administrasi tadi. Sejam, dua jam, tiga jam berlalu sang dokter belum juga datang.
Dinginnya AC diruangan itu mulai mengganggu Nina yang tidak sabar menunggu. Berkali-kali ia lihat jam tangan yang sudah menunjukkan angka 11. Ponsel dari tadi dimainkannya hampir mengalami kritis baterai. Sebentar lagi mati nih ponsel. Pikirnya sambil melirik jam tangan untuk kesekian kalinya.
Tiba-tiba dari arah utara tempat ia dan pasien lain menunggu, datang seorang dokter dengan badan tegap dan bermata sipit. Dokter itu tersenyum manis pada mereka dan segera memasuki ruang poli.
Satu persatu pasien memasuki ruangan poli. Dan kini giliran Nina yang masuk ke ruangan. Nina dan Doni duduk bersebelahan di kursi pasien yang tersedia. " selamat pagi!" sapa sang dokter pada mereka. " ada yang bisa kami bantu?" tanyanya dengan suara lembut tapi penuh hormat.
Doni menjelaskan penyakit sang isteri dengan baik. Ia menyebutkan beberapa keluhan yang dirasakan sang isteri dalam dua hari ini.
" Ok. Boleh saya lihat wajahnya mbak?" tanya sang dokter.
" Baik dok". Jawab Nina segera melepas masker wajahnya.
" Coba gerakkan alisnya mbak!" perintah sang dokter tanpa beranjak dari tempat duduknya.
Nina berusaha menggerakkan kedua alisnya namun yang bergerak hanya satu alis.
" Nggak bisa dok!" jawabnya.
" Baiklah. Sudah berapa hari terkena penyakit ini? " tanya sang dokter kembali.
" Sudah dua hari dok".
" Ok. Begini. Penyakit yang mbak Nina alami bukanlah penyakit stroke. Dia disebut Bellpalsy. Penyakit ini melumpuhkan saraf ke tujuh bagian sisi wajah. Makanya muka mbak terasa kaku sebelah." sang dokter mulai berusaha menjelaskan.
" Apa mbak dan mas baru datang dari perjalanan jauh?" tanyanya untuk yang kesekian kali.
" Ndak tuh dok. Memang kenapa?" tanya Nina yang masih penasaran apa itu Bellpalsy.
" Penyakit ini biasanya disebabkan oleh AC mobil mb. Jadi kalau wajah terlalu lama terpapar AC, ya jadi kaku begini." sang dokter menjelaskan dengan penuh ketelatenan.
Nina mengingat-ingat apakah ia sering terpapar AC.
" Oiya, saya sering kipasan dan sering keramas dok. Habisnya cuacanya panas sekali sekarang." jawabnya menjelaskan.
" Nah itu dia. Kipas juga bisa menyebabkan bellpalsy."
" Begini saja, saya kasih resepnya sementara waktu. Hari senin datang lagi untuk fisioterapi ya!" sang dokter mulai menulis resep yang harus dibeli di apotek.
" Sementara waktu hindari mengkonsumsi yang dingin-dingin dulu ya! Kalau nik mobil, sebisa mungkin jangan hifupkan AC. Kaca jendela juga jangan dibuka terlalu lebar. Dan jangan sering keluar malam." sang dokter menjelaskan pantangan yang harus dihindarinya.
" Baik dok!" Nina dan Doni segera bangkit dari kursinya. Dan sembari menyalami sang pasien, dokter tersebut menyemangati Nina" semoga lekas sembub ya mbak. Yang sabar!"
------------------------*******----------------
Sejak saat itu pasangan suami isteri sering keluar masuk Rumah sakit. Ia melakukan fisioterapi dua kali seminggu. Ia juga melakukan face massage di salon terdekat. Selain juga mengkinsumsi obat. Tak hanya itu. Ia dan suami juga mengunjungi dukun saraf agar penyakit Nina segera sembuh.
Kini penyakit itu sudah sembuh. Dan Nina mulai bisa tersenyum kembali karena usaha mereka yang tak kenal lelah.

Comments
Post a Comment