Skip to main content

Posts

My Passion is My Life 2

Berawal dari tingginya kesukaanku dalam hal membaca, mulai dari novel, blog, beberapa artikel pilihanku, ribuan cerpen, majalah religi seperti Annida dan Ummi membuatku terpacu untuk menulis. Walau menulis saat itu sekedar tertuang dalam buku diary dan buku catatan. Di bangku kuliyah, aku belum begitu tertarik untuk menulis. Tidak ada sama sekali keinginan  ke arah itu. Semua fokus belajar meski sempat terganggu dengan beberapa kesalahan dan Alhamdulillah dapat ku lalui dengan baik. Ketertarikanku menulis mulai muncul saat ratusan blog ku baca. Blogger favoritku saat itu adalah Azimah Rahayu. Tulisan tulisannya banyak menginspirasiku. "Wah asik juga ya jadi blogger" pikirku saat itu. Seiring berjalannya waktu, aku pun mulai mencoba menulis di kolom catatan facebook. Hanya beberapa, selebihnya tidak ku lanjutkan karena terkendala banyak hal. Maklum, bila sudah berkeluarga terlebih menyandang status emmak, segalanya butuh penyesuaian dan adaptasi. Saat bayi mulai lah...
Recent posts

Air dan Sirih

" pergilah ke ustad khair. Minta air buat bu lek. Penyakit ini semakin hari bertambah parah. Serasa nyeri dan panas." Perintah Bu Lek Nadin menyuruh Mina keponakan semata wayang meminta air ke ustad Khair yang terkenal mustajab doanya. "Sudah dua dokter yang didatangi. Belum sembuh juga. Bu lek khawatir terserang penyakit angin" tambahnya. Mina segera melajukan motornya dengan membawa sebotol ait mineral. Sesampainya di sana ia segera memarkir motor dan melihat keadaan rumah, meyakinka kalau ustad Khair ada. Mushollah kayu berdiri tegak di halaman rumah. Dedaunan kering berserakan di halaman dan teras rumah. Pepohonan rindang bergerak keras mengikuti angin kencang siang itu. Mina memperhatikan keberadaan sandal sebagai pertanda bahwa penghuni rumah ada. Nyatanya tidak ada satu sandal pun. Ia memilih duduk di bagian luar mushollah cangkruk. Sebuah kontak ia hubungi untuk bertanya keberadaan ustad. "Assalamualaikum"  Terdengar suara dari lawan b...

My Passion is My Life

Pertemuan kali ini sangatlah asik. Bagaimana tidak? Kali ini kita membahas tentang passion yang dimulai dari sebuah pertanyaan unik dari Coach L berbunyi" Apa warna passionmu?" Waw passion. Sepintas terbersit dalam benak mengingat ingat arti passion. "Emmmh sepertinya passion is hobby?" jawabku pada diriku sendiri. Namun karena kurang yakin, ku browsing lewat mbah google mencari makna passion. Di sana ku temukan satu definisi yang sesuai dengan pemahamanku bahwa passion adalah aktifitas yang tidak pernah merasa bosan untuk dilakukan, tidak memperhitungkan untung dan ruginya dan tentunya dilakukan secara ikhlas. Well ku simpulkan passion is hobby menurut aku sih. Dan jawaban dari pertanyaan di atas adalah kuning muda. Berhubung aku sedang terpikat dengan hijab Daffi berwarna kuning muda maka jawabanku ya warna itu. Bagiku malam ini warna kuning berasa keren dan cerah. Selanjutnya, coach L bertanya " mengapa Allah memberimu passion?" jawabanku untuk ...

Prinsip Hidup

"Bagaimana ya tentang pelakor yang ditaburi uang dengan isteri sahnya? Kok aku kasihan sama janda itu?" Mirna membuka dialog dengan Maya, sahabat karib terbaiknya. "Ya itu kembali ke pribadi masing-masing ya!" Jawab Maya, sahabat Mirna saat itu. Di sela-sela perbincangan, Mirna terfikir akan peristiwa menarik yang viral saat itu. "Aku janda. Tetapi aku selektif. " Tambahnya. "Maksudnya selektif? " Tanya Mirna penasaran.  "Gini lo ya. Aslinya tidak ada yang mau berstatus janda. Berat lo berstatus ini." Jawabnya seraya menyediakan secangkir kopi Cappucino buat Mirna sahabat karibnya. "Janda itu banyak yang mencemooh. Meski tidak sedikit juga yang berempati." "Janda itu sasaran empuk pria hidung belang. Jadi kalau kita tidak selektif berkomumikasi ya jatuhlah nama baik kita. " Tambahnya. "Gitu itu banyak nggak yang godain kamu?" Tanya Mirna penasaran. " Aku mesti jawab apa nih? Jawab ...

Saat Harus Memilih

Sudah dua hari Farihah selalu mencari Hand Phone tiap bangun tidur. Mulai rengekan hingga jeritan ia lakukan agar diberi HP. Sebagai ibu rumah tangga, ibu Fina merasa khawatir dengan perubahan puteri keduanya. Bukan apa, sejak  tetangganya masuk Rumah sakit Jiwa karena keranjingan HP, ia jadi takut hal serupa  terjadi pada buah hatinya. Akhirnya ia dan suami bersepakat untuk menjauhkan HP dari anak anak. " Eh iya lo bu, keponakan saya matanya jadi rusak. Setelah ditelusuri penyebabnya, si anak terlalu sering berinterakai dengan HP. " Kata bu Ani tetangga sebelah bercerita saat mengitari gerobak sayur pagi itu. Wah bahaya juga ya. Pikir ibu Fina saat itu. " Sepertinya memang harus dijauhkan sih bu agar anak anak berkembang secara normal." ungkap si ayah kepada ibu Fina saat makan malam. Ok, ibu Fina faham. Ia harus segera bertindak menjauhkan anak anak dari Hp. Tapi masalahnya ibu Fina memiliki acara rutinan setiap minggunya. Arisan, pengajian RT dan beber...

Sesal Rudi

Sejauh mata memandang, hanya nama janda itu yang dibaca di riwayat pencarian di akun medsos Rudi, suaminya.  "Aku lelah, Mas". Suci mengeluh. Rudi terdiam. Ia tidak dapat berbuat banyak karena kelakuannya selama ini diketahui suci. "Tak ku sangka kau sekejam ini padaku." Pedas kalimat itu terlontar dari bibir Suci yang pucat karena dua haru ia jarang makan. "Suci, ayolah...Maafkan aku! Aku khilaf." Rudi segera memotong lontaran Suci yang sudah ia terima bertubi tubi selama dua hari ini. "Tidak seburuk yang kamu kira." Rudi membela diri. "Oya? Apa yang buruk bagimu? Ketahuan setelah kau tidur seranjang dengannya? Hah? " Suci mulai meninggi. Rudi berusaha diam. Ia sangat tau karakter isterinya. "Untung baru ketahuan di HP. Coba kalau aku tahu setahun kemudian. Sudah bunting itu janda." Suci menjawab sinis. "Astaghfirullah... Suci. Aku tidak seburuk itu." Jawab Rudi. "Hallah..iya aku tahu kamu...

Mati Suri

Diujung usahanya Mirna memutuskan untuk mengahiri hidup. Memang terdengar bodoh. Mirna yang selama ini paling lantang menyuarakan perjuangan hidup, kini mati menjadi pilihan terakhir baginya. Berbagai macam ujian yang mendera tidak sanggup lagi ia hadapi. Ia lelah. Ia hanya ingin beristirahat. Ibarat film, ia ingin mengajukan permohonan cuti selama dua hari. Mengistirahatkan fisik, jiwa, hati dan fikirannya kepada sutradara film. Kali ini keputus asaan benar benar menderanya. Tidak ada lagi kata mungkin. Tidak ada lagi harapan yang menahannya untuk sekedar bertahan di posisinya sebagai manusia. Mirna terlalu fokus pada hal hal negatif yang menyerangnya hingga ia lupa menyadari bahwa ia belum berbuat apa apa untuk dirinya sendiri. Kursi ia pesiapkan. Racun tikus ia beli dua botol sebagai pesiapannya bunuh diri. Semua ia persiapkan tanpa ada satu orangpun yang tahu. " Saatnya tiba" pikirnya saat itu. Kala semua orang pergi keluar rumah, sibuk dengan aktifitasnya m...