Berawal dari tingginya kesukaanku dalam hal membaca, mulai dari novel, blog, beberapa artikel pilihanku, ribuan cerpen, majalah religi seperti Annida dan Ummi membuatku terpacu untuk menulis. Walau menulis saat itu sekedar tertuang dalam buku diary dan buku catatan. Di bangku kuliyah, aku belum begitu tertarik untuk menulis. Tidak ada sama sekali keinginan ke arah itu. Semua fokus belajar meski sempat terganggu dengan beberapa kesalahan dan Alhamdulillah dapat ku lalui dengan baik. Ketertarikanku menulis mulai muncul saat ratusan blog ku baca. Blogger favoritku saat itu adalah Azimah Rahayu. Tulisan tulisannya banyak menginspirasiku. "Wah asik juga ya jadi blogger" pikirku saat itu. Seiring berjalannya waktu, aku pun mulai mencoba menulis di kolom catatan facebook. Hanya beberapa, selebihnya tidak ku lanjutkan karena terkendala banyak hal. Maklum, bila sudah berkeluarga terlebih menyandang status emmak, segalanya butuh penyesuaian dan adaptasi. Saat bayi mulai lah...
" pergilah ke ustad khair. Minta air buat bu lek. Penyakit ini semakin hari bertambah parah. Serasa nyeri dan panas." Perintah Bu Lek Nadin menyuruh Mina keponakan semata wayang meminta air ke ustad Khair yang terkenal mustajab doanya. "Sudah dua dokter yang didatangi. Belum sembuh juga. Bu lek khawatir terserang penyakit angin" tambahnya. Mina segera melajukan motornya dengan membawa sebotol ait mineral. Sesampainya di sana ia segera memarkir motor dan melihat keadaan rumah, meyakinka kalau ustad Khair ada. Mushollah kayu berdiri tegak di halaman rumah. Dedaunan kering berserakan di halaman dan teras rumah. Pepohonan rindang bergerak keras mengikuti angin kencang siang itu. Mina memperhatikan keberadaan sandal sebagai pertanda bahwa penghuni rumah ada. Nyatanya tidak ada satu sandal pun. Ia memilih duduk di bagian luar mushollah cangkruk. Sebuah kontak ia hubungi untuk bertanya keberadaan ustad. "Assalamualaikum" Terdengar suara dari lawan b...