Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2019

My Passion is My Life 2

Berawal dari tingginya kesukaanku dalam hal membaca, mulai dari novel, blog, beberapa artikel pilihanku, ribuan cerpen, majalah religi seperti Annida dan Ummi membuatku terpacu untuk menulis. Walau menulis saat itu sekedar tertuang dalam buku diary dan buku catatan. Di bangku kuliyah, aku belum begitu tertarik untuk menulis. Tidak ada sama sekali keinginan  ke arah itu. Semua fokus belajar meski sempat terganggu dengan beberapa kesalahan dan Alhamdulillah dapat ku lalui dengan baik. Ketertarikanku menulis mulai muncul saat ratusan blog ku baca. Blogger favoritku saat itu adalah Azimah Rahayu. Tulisan tulisannya banyak menginspirasiku. "Wah asik juga ya jadi blogger" pikirku saat itu. Seiring berjalannya waktu, aku pun mulai mencoba menulis di kolom catatan facebook. Hanya beberapa, selebihnya tidak ku lanjutkan karena terkendala banyak hal. Maklum, bila sudah berkeluarga terlebih menyandang status emmak, segalanya butuh penyesuaian dan adaptasi. Saat bayi mulai lah...

Air dan Sirih

" pergilah ke ustad khair. Minta air buat bu lek. Penyakit ini semakin hari bertambah parah. Serasa nyeri dan panas." Perintah Bu Lek Nadin menyuruh Mina keponakan semata wayang meminta air ke ustad Khair yang terkenal mustajab doanya. "Sudah dua dokter yang didatangi. Belum sembuh juga. Bu lek khawatir terserang penyakit angin" tambahnya. Mina segera melajukan motornya dengan membawa sebotol ait mineral. Sesampainya di sana ia segera memarkir motor dan melihat keadaan rumah, meyakinka kalau ustad Khair ada. Mushollah kayu berdiri tegak di halaman rumah. Dedaunan kering berserakan di halaman dan teras rumah. Pepohonan rindang bergerak keras mengikuti angin kencang siang itu. Mina memperhatikan keberadaan sandal sebagai pertanda bahwa penghuni rumah ada. Nyatanya tidak ada satu sandal pun. Ia memilih duduk di bagian luar mushollah cangkruk. Sebuah kontak ia hubungi untuk bertanya keberadaan ustad. "Assalamualaikum"  Terdengar suara dari lawan b...

My Passion is My Life

Pertemuan kali ini sangatlah asik. Bagaimana tidak? Kali ini kita membahas tentang passion yang dimulai dari sebuah pertanyaan unik dari Coach L berbunyi" Apa warna passionmu?" Waw passion. Sepintas terbersit dalam benak mengingat ingat arti passion. "Emmmh sepertinya passion is hobby?" jawabku pada diriku sendiri. Namun karena kurang yakin, ku browsing lewat mbah google mencari makna passion. Di sana ku temukan satu definisi yang sesuai dengan pemahamanku bahwa passion adalah aktifitas yang tidak pernah merasa bosan untuk dilakukan, tidak memperhitungkan untung dan ruginya dan tentunya dilakukan secara ikhlas. Well ku simpulkan passion is hobby menurut aku sih. Dan jawaban dari pertanyaan di atas adalah kuning muda. Berhubung aku sedang terpikat dengan hijab Daffi berwarna kuning muda maka jawabanku ya warna itu. Bagiku malam ini warna kuning berasa keren dan cerah. Selanjutnya, coach L bertanya " mengapa Allah memberimu passion?" jawabanku untuk ...

Prinsip Hidup

"Bagaimana ya tentang pelakor yang ditaburi uang dengan isteri sahnya? Kok aku kasihan sama janda itu?" Mirna membuka dialog dengan Maya, sahabat karib terbaiknya. "Ya itu kembali ke pribadi masing-masing ya!" Jawab Maya, sahabat Mirna saat itu. Di sela-sela perbincangan, Mirna terfikir akan peristiwa menarik yang viral saat itu. "Aku janda. Tetapi aku selektif. " Tambahnya. "Maksudnya selektif? " Tanya Mirna penasaran.  "Gini lo ya. Aslinya tidak ada yang mau berstatus janda. Berat lo berstatus ini." Jawabnya seraya menyediakan secangkir kopi Cappucino buat Mirna sahabat karibnya. "Janda itu banyak yang mencemooh. Meski tidak sedikit juga yang berempati." "Janda itu sasaran empuk pria hidung belang. Jadi kalau kita tidak selektif berkomumikasi ya jatuhlah nama baik kita. " Tambahnya. "Gitu itu banyak nggak yang godain kamu?" Tanya Mirna penasaran. " Aku mesti jawab apa nih? Jawab ...

Saat Harus Memilih

Sudah dua hari Farihah selalu mencari Hand Phone tiap bangun tidur. Mulai rengekan hingga jeritan ia lakukan agar diberi HP. Sebagai ibu rumah tangga, ibu Fina merasa khawatir dengan perubahan puteri keduanya. Bukan apa, sejak  tetangganya masuk Rumah sakit Jiwa karena keranjingan HP, ia jadi takut hal serupa  terjadi pada buah hatinya. Akhirnya ia dan suami bersepakat untuk menjauhkan HP dari anak anak. " Eh iya lo bu, keponakan saya matanya jadi rusak. Setelah ditelusuri penyebabnya, si anak terlalu sering berinterakai dengan HP. " Kata bu Ani tetangga sebelah bercerita saat mengitari gerobak sayur pagi itu. Wah bahaya juga ya. Pikir ibu Fina saat itu. " Sepertinya memang harus dijauhkan sih bu agar anak anak berkembang secara normal." ungkap si ayah kepada ibu Fina saat makan malam. Ok, ibu Fina faham. Ia harus segera bertindak menjauhkan anak anak dari Hp. Tapi masalahnya ibu Fina memiliki acara rutinan setiap minggunya. Arisan, pengajian RT dan beber...

Sesal Rudi

Sejauh mata memandang, hanya nama janda itu yang dibaca di riwayat pencarian di akun medsos Rudi, suaminya.  "Aku lelah, Mas". Suci mengeluh. Rudi terdiam. Ia tidak dapat berbuat banyak karena kelakuannya selama ini diketahui suci. "Tak ku sangka kau sekejam ini padaku." Pedas kalimat itu terlontar dari bibir Suci yang pucat karena dua haru ia jarang makan. "Suci, ayolah...Maafkan aku! Aku khilaf." Rudi segera memotong lontaran Suci yang sudah ia terima bertubi tubi selama dua hari ini. "Tidak seburuk yang kamu kira." Rudi membela diri. "Oya? Apa yang buruk bagimu? Ketahuan setelah kau tidur seranjang dengannya? Hah? " Suci mulai meninggi. Rudi berusaha diam. Ia sangat tau karakter isterinya. "Untung baru ketahuan di HP. Coba kalau aku tahu setahun kemudian. Sudah bunting itu janda." Suci menjawab sinis. "Astaghfirullah... Suci. Aku tidak seburuk itu." Jawab Rudi. "Hallah..iya aku tahu kamu...

Mati Suri

Diujung usahanya Mirna memutuskan untuk mengahiri hidup. Memang terdengar bodoh. Mirna yang selama ini paling lantang menyuarakan perjuangan hidup, kini mati menjadi pilihan terakhir baginya. Berbagai macam ujian yang mendera tidak sanggup lagi ia hadapi. Ia lelah. Ia hanya ingin beristirahat. Ibarat film, ia ingin mengajukan permohonan cuti selama dua hari. Mengistirahatkan fisik, jiwa, hati dan fikirannya kepada sutradara film. Kali ini keputus asaan benar benar menderanya. Tidak ada lagi kata mungkin. Tidak ada lagi harapan yang menahannya untuk sekedar bertahan di posisinya sebagai manusia. Mirna terlalu fokus pada hal hal negatif yang menyerangnya hingga ia lupa menyadari bahwa ia belum berbuat apa apa untuk dirinya sendiri. Kursi ia pesiapkan. Racun tikus ia beli dua botol sebagai pesiapannya bunuh diri. Semua ia persiapkan tanpa ada satu orangpun yang tahu. " Saatnya tiba" pikirnya saat itu. Kala semua orang pergi keluar rumah, sibuk dengan aktifitasnya m...

Sebuah Upaya

Aroma melati tercium dari arah kanan dimana aku berdiri mematung  seorang diri. Ingatanku beralih kepada sebuah tas hitam yang tergeletak begitu saja di pojok ruang. Mungkinkah isinya kumpulan bunga melati? Ah mustahil. Kresseeek...kreeesssekk.. Tas itu bergerak dan berbunyi seolah ada makhluk gesit terbelenggu di dalamnya. Kucing kah? Pikirku bertanya. Ah tidak mungkin. Suaranya parau seperti bukan binatang. Ingin ku dekati tas itu dan segera ku lihat isinya. Tetapi langkahku tertahan oleh lolongan seorang anak yang menjerit ketakutan.."Ampuuun...Ampuuun..kasihani saaaayaaa". Suara itu sangat menyayat hati. Ku tutup kedua telinga agar tak mendengar jeritan itu. Diam. Tak bersuara. Tiba tiba bayangan seorang anak kecil memandangku kosong di samping tas membuatku enggan mendekati. Namun segera ku tutup mulutku dengan kedua tangan agar jeritan tak keluar dari rongga mulut. Bayangan itu hilang. Perlahan ku seret kakiku yang terasa berat untuk mendekati tas. Namun g...

Rujak Manis

Dulu saat belum punya anak kedua, paling anti yang namanya makanan pedas dan asam seperti rujak. Saat semua teman teman menikmati kesegaran rujak hanya aku sendiri yang enggan menyantapnya. Penyakit maag menjadi alasan utama penolakanku tiap kali ada yang mengajakku menikmati rujak manis. Kala itu, saat hamil anak pertama suami yang sedang ngidam rujak dapat menikmatinya tanpa ku ikut nimbrung. Sekarang, hari ini kondisi itu berbalik 180 derajat. Sejak kehamilan kedua yang bawaannya selalu ingin memakan rujak manis membuatku terbiasa dan menjadi suka pedas. Entah mengapa seolah penyakit maaghku sembuh. Tiap kali menyantap rujak biasanya perut tidak bisa dikondisikan. Selain terasa sakit pasti pusing. Hal ini tidak lagi ku rasakan saat kehamilan kedua. Hingga banyak orang yang memberiku saran untuk tidak terlalu berlebihan mengkonsumsi pedas. Kasihan mata si dedek bayi saat lahir nanti. Alasan mereka demikian. Namanya orang hamil, makan batupun bila tidak dituruti akan menj...

Move On

Move On itu solusi tepat bagi mereka yang masih mencintai dirinya sendiri. Ia tidak akan membiarkan diri bertahan dengan sakit, membusuk dan menjadi mayat hidup. Sementara waktu tetap berputar, dari pagi hingga petang. Dari petang hingga kembali pagi. Ada banyak hal positif yang dapat dilakukan dari pada sedih merutuki diri, meratapi janji yang ternodai. Hempaskan..... Bila perlu bersiram diri berniat bersuci Dari hadas, najis dan Si Do'i Mandi merupakan cara tepat untuk membuat relax otot otot dan saraf yang tegang terlebih bila airnya hangat. "Bila ada masalah yang menimpamu, mandilah pada jam 2 atau 3 malam. Niatkan membuang balak". Nasehat seorang guru padaku. Tanpa banyak kata, ku praktekin saja. Ternyata lumayan juga hasilnya. Pikiran lebih plong saat pagi, lebih fresh dan kepala adem untuk menghadapi sebuah masalah dan menyelesaikan. Harapan besar menunggu di depan, setiap hari Ia tak akan datang kecuali kau hampiri. Bukankah dunia tidak selebar...

Sederhana itu...

Rahma menyiapkan tiga baju untuk dikenakan dalam sebuah acara. Sebelum dikenakan, sepertia biasa ia meminta pertimbangan kak Roni yang sekaligus berperan sebagai ayah baginya. Baju pertama berwarna coklat susu. Baju lebaran tahun lalu. Tampilannya sederhana. Bahkan nyaris terlihat bukan seperti baju idul fitri karena motifnya yang polos. Kala itu baju ia beli sehari sebelum idul fitri. Kemungkinan ia kehabisan stok model karena telat beli baju. Anggapannya saat itu. Baju kedua berwarna hijau toska dengan kombinasi hitam dan merah. Terkesan mahal. Ia beli 3 bulan sebelum idul fitri tahun ini. Ia tidak ingin peristiwa lalu terulang kembali oleh karenanya ia memutuskan membeli via online meski rugi ongkos kirim sebagai konsekuensi yang harus diterima saat itu dalam bertransaksi jual beli online. Baju berikutnya berwarna pink bermotif garis-garis. Harganya murah tapi modelnya kekinian ala-ala Sabyan gitu. Ia mencoba memberi kesempatan kepada sang kakak  untuk memilih baju m...

Obsesi Langsing?

Sudah enam kali Mirna berdiri di depan kaca lemari seraya memandangi badannya yang mulai mengembang. Berkali kali ia tekan perutnya yang besar. Menempelkan telapak tangan di kedua pipi, memandang bentuk lengan atas bagian dalam yang kian membesar dan... " Ah..harus diet nih sepertinya" ucap Mirna pada bayangan yang berdiri di depannya. " Dulu sebelum punya anak, perutku langsing. Aku bebas tentuin baju yang mana saja. Tetapi sekarang? Mengapa semua serba mengembang? " Tanya Mirna pada bayangan yang seolah tertawa mengolok badannya yang gemuk. Akhir-akhir ini ia juga sering dijuluki si gembrot. Sedikit menyakitkan sih? Namun pembicaraan terakhir dengan Lula memotivasi tekadnya yang sempat surut untuk berdiet. Minimal mengecilkan ukuran perut. "Baiklah, aku akan meniru Lula. Mengandalkan agar-agar selama berdiet." ucapnya penuh kesungguhan. "Semoga usaha terakhir ini berdampak positif" harapnya. Mirna mulai berburu agar-agar dari merk...

Sebuah Keteledoran

Hari itu pagi cerah untuk keluarga kecilku yang hendak bersilaturahmi kembali ke kerabat suami. H +3 Idul Fitri, kami sekeluarga mengawali perjalaman menuju rumah mertua terlebih dahulu. Sudah menjadi tradisi di daerah kami bila lebaran tiba, para pasangan keluarga bersilaturahmi mendatangi sanak saudara dan kerabat, bertanya kabar, bersambung ikatan yang dirasa longgar sebab rutinitas kesibukan masing-masing. Lebaran merupakan momen pas untuk saling berkunjung kepada kerabat dekat maupun jauh. Panas terik matahari tidak menghalangi tekad kami untuk berkunjung. Mumpung masih dalam nuansa lebaran, 24 jam kami maksimalkan sebaik mungkin. "Ibu mau main ke sini" suami memberi tahuku yang sedang menemani si adik beristirahat. "Kok tahu? Siapa yang ngabarin?" tanyaku. "Barusan bapak telepon". Jawab suami cepat. Ia segera memberitahu si mbah mertua kalau orang tuaku hendak berkunjung. "Wah ayo panggil isterimu ke dapur. Bantu aku masak!" pe...

Rasa Mual Ani

Rasa Mual belum hilang pada Ani yang dari tadi sibuk browsing beberapa artikel di gawai tercinta. Berbagai cara sudah dilakukannya untuk menghilangkan mual yang tak kunjung reda. Ia pun beberapa kali sibuk mengalihkan pikiran kepada berita-berita lucu dan membahagiakan. Tapi itu berefek sementara, beberapa waktu berikutnya ingatannya kembali kepada kejadian pagi tadi. Saat tugas koreksian diusahakan dikerjakan dengan cepat, ia pun memilih sebungkus buskuit dan segelas teh hangat sebagai teman cemilan tadi malam. Rasa lelah seharian kemarin mendampingi murid-murid berlatih gerak jalan tidak digubrisnya. Ia kerahkan sisa tenaga yang ada untuk segera menyelesaikan beberapa koreksian UTS murid-murid sekolah. Di sela-sela mengoreksi, sesekali ia makan biskuit yang baru dibelinya sepulang dari berlatih. Namun saat koreksian baru terselesaikan dua kelas dari empat kelas, tubuh Ani meminta haknya beristirahat. Ia pun hilang pergi ke dunia mimpi tanpa meringkas barang-barang disekita...

Tajhin Sora

(Ibu Rima sedang sibuk mengaduk bubur beras yang hampir matang) "Ratna, sana pergi beli mie kuning, telur dan kacang goreng ya" perintah bu Rima. "Baik Bu" Ratna segera mengambil kerudung, dompet dan kontak motor. Motor distarter dan langsung tancap gas. Selang beberapa menit, Ratna datang dengan sekantong pesanan sang ibu. Lantas ia letakkan semua belanjaan di meja dapur seraya membantu memasak bubur  agar selesai lebih cepat. "Telurnya digoreng dan sekalian diiriskan ya!" "Cabe merahnya juga". Suruh ibu. "baik, bu"Jawab Ratna. (disela-sela memasak, Ratna menanyakan apa yang menjadi keluhannya selama ini). "Mengapa kita harus buat begini sih bu?" "Ini kan makanan Manusia lanjut usia?." cerca Ratna "Eits, jangan begitu. Ini adat yang semetinya dilestarikan.Tujuannya baik kok."  Jawab ibu Rima santai. "Menurut yang ibu dengar di pengajian muslimat kemarin, ada banyak kejadian i...

Calon Isteri Tino

Pernahkah mendengar sebuah petuah lama yang berisi, bila ingin menilai kecekatan seorang wanita lihatlah tangannya? Sudah dua hari Tino merasa bingung dengan sikap ibu yang tak kunjung ramah sebagai bentuk setuju atas wanita pilihannya. Kemarin hari ia meminta Hana untuk datang dengan membawa sekotak brownies green tea kesukaan ibu. Namun sikap ibu datar seolah tak berkenan menemuinya. Selang 30 menit dari kepulangan Hana hari ini, ia memberanikan diri menemui dan bertanya atas sikap datar ibu yang sama seperti hari kemarin. Apa yang salah? Pikir Tino. Toh Hana datang bertiga dengan Vita dan Sumi yang tak lain adalah sepupu Tino. Ia tidak pernah menyuruh Hana datang seorang diri  Namun mengapa ibu bersikap datar seperti kemarin? Bukankah Hana datang dengan selalu membawa buah tangan? Kemarin Brownies sekarang Jambu kristal. Itu semua kesukaan ibu. Lalu? Tino segera menghampiri sang ibu yang tengah asik menyiram bunga di halaman. Sengaja ia temui di saat ibu santai men...

Pergi Berpahala

" Bu, besok ahad pergi jalan-jalan yuk!" Dul merajuk pada sang ibu yang tengah asik berbincang dengan bu Rima, Guru agama di sekolah Dul. "Besok ada Car Free Day juga di kota. Ke sana ya! Ajaknya masih dengan nada sama. "Dul kita bicarakan nanti ya, kan masih ada bu Rima." dengan setengah berbisik ibu memberi pengertian pada Dul putera semata wayang. Bu Rima yang sedang asik menikmati minuman Serre buatan ibu Dul tiba-tiba terbatuk keras. Ia segera meletakkan gelasnya di atas meja. Khawatir jatuh ke lantai , ia menggeser posisi gelas ke tengah meja tamu di depannya. "Wah Dul ingin pergi jalan-jalan ya?"Sambung bu Rima. "Jalan-jalan kemana Dul?" "Maunya ke pantai bu. Main pasir di sana sekalian renang." Jawab Dul terang. "Ini lo, Bu. Si Dul setiap akhir pekan maunya pergi jalan-jalan terus ke tempat wisata." Ibu Dul yang merasa tidak enak akhirnya turut angkat bicara. "Emmmh..memang setelah jalan-j...

Aku dan panca inderaku

Awal pertemuan untuk kelas kedua yang aku ikuti. Dag dig dug semua bercampur aduk dalam hati. Terbayang duluan tentang suasana kelas baru. Seseru kelas JeWe 51 Kah? Tepat jam 07.55 mataku tak berani beralih dari layar gawai. Facebook segera ku tutup. Ku ambil buku dan pena sebagai alat belajar selama kelas berlangsung. Jam 08.05 Coach Lutfi menyapa kelas dengan ramah seraya mengajukan beberapa pertanyaan. Diantaranya: 1. Berapa harga panca indramu ? 2. Mengapa Allah memberimu panca indra? 3. Bagaimana caramu menyedekahkan panca inderamu? 4. Sejujurnya, kapan anda benar benar mensyukuri panca indera itu? 5. Apa yang akan kau lakukan jika 2 panca inderamu tak berfungsi? 6. Siapa yang bahagia dengan keberadaan panca inderamu? 7. Lalu apa hubungan panca indera dengan  menulis? 8. Dari hati yang paling dalam apa yang ingin kau katakan pada panca inderamu malam ini? Dari pertanyaan di muka jawaban yang cukup mewakili tentang aku dan panca indera adalah terlebih dahulu...

Keseruan Iqbal

Sejak duduk di bangku kelas dua, Iqbal maikn intens pergi ke sungai. Amankah? Sepulang sekolah, seperti biasa dia panggil-panggil aku, tas dan segala atribut sekolah ia lucuti di teras rumah sambil jerit-jerit, ibu ambilkan aku baju ganti, aku ditunggu teman. Aku mau main ke sana. Sang ibu yang baru saja membuang rasa lelah karena sudah memasak, beberes rumah, mencuci baju plus menjaga si adik, ke luar rumah dengan santai. "Iqbal, seragamnya dimasukin dulu sana. Jangan ditinggal begini". Perintahku seraya menenteng baju ganti buatnya. "Ibu saja. Jadwal iqbal besok masukin bajunya sendiri" jawabnya segera berlalu dengan sepeda ke rumah temannya. Hmmmm begitulah mendidik anak laki-laki. Harus super telaten dan bisa tahan amarah. Meski terkadang emosi marah bergemuruh di dada. Bagaimana tidak? Semakin aku melarangnya untuk pergi ke rumah teman, semakin jadi pula ia pergi tanpa ijin. Padahal pertimbanganku satu, khawatir pergi ke sungai, khawatir tenggela...

Bertanya Itu Perlu

" Eh tau gak? Orang itu semalam jerit-jerit lo" cabai memulai gosipannya dengan membahas si nyonya penghuni rumah. "Kenapa jerit-jerit?" tanya lengkuas penasaran. " Sepertinya sih bertengkar. Sudah dua hari si suami berangkat pagi pulang petang." Jawab cabai sok tahu. "Wah..wah.. Kamu jangan gitu..sebaiknya bertanya dulu..entar jadi fitnah lo" tiba-tiba air di dalam botol Aqua nyeletuk. Sedikit sih tapi bermakna. "Eh, tapi iya lo, aku semalam dengar sendiri kalau orang itu jerit-jerit." Lanjut lengkuas tidak terima karena air menganggap mereka mengada-ada. Tidak lama dari itu, botol dan air dibawa si nyonya menemaninya di teras rumah. Si nyonya yang mulai tidak kuasa menahan sakit, mulai memencet tombol HP. Di seberang menjawab dengan suara kelelahan namun berusaha untuk mengerti. "Iya bu ada apa? "Tanya sang suami padanya. "Bapak, kalau sudah kerjaannya segera pulang ya! Aku minta dianterin ke dokter gig...

Cinta pertama

Cinta pertama adalah cinta yang menggetarkan. Karena di sana kita mulai tahu rasa suka. Semua anggota badan bergetar tiap kali mengingatnya. ( please, jangan ngeres pikirannya) Tidak hanya ingatan yang bergetar dan hati yang berdesir. Ketika melihat wajahnya di kue talam yang sedang kita makan, merupakan bukti kalau matapun turut bergetar. Ketika hendak melangkahkan kaki memenuhi janji untuk bertemu, kaki kita gemetar. Menandakan kakipun turut bergetar meski belum berangkat. Ketika tangan tetiba tersayat pisau saat mengupas buah sebab kaget dengan kabar buruk menimpanya, pertanda bahwa tanganpun turut bergetar. Oleh karenanya, ketika kandas tiba dan putus menjadi solusi terbaik, sebaiknya ya bersiram diri. Mengajak semua yang ada pada diri untuk sama sama segera melupakannya. ****** Begitulah cara saya keluar dari hal negatif. Dari segala masalah yang tidak selalu tentang cinta. Langkah awal membuang energi negatif ya mandi, bersiram diri pada dini hari, jam 3 pagi...

Tetanggaku, Inspirasiku

Sudah lima tahun Pak No menggeluti bisnis barunya sebagai pemborong tebu. Usaha yang ia rintis dari nol kini dirasa mulai berbuah manis. Dari yang awalnya tidak memiliki apa apa, hanya bermodal satu truk butut untuk mengangkut tebu hasil panen petani ke pabrik penggilingan, kini ia memiliki empat truk tebu yang dapat mengirim tebu ke luar kota bila pabrik gula di kotanya macet. Pencapaian yang diraih tidaklah mulus. Layaknya perintis lainnya, ada banyak rintangan yang menjadi duri di awal-awal berbisnis. Mulai dari kehilangan perhiasan sebagai modal bisnis, tertipu dalam bisnis gadai sawah sebagai perputaran roda keuangan hasil borongan, dikhianati rekan bisnis, hingga dituduh pengikut kyai kanjeng. Semua itu tidak menyurutkan semangatnya dalam merintis usaha tersebut. Justeru ia semakin melebarkan sayapnya. Prinsipnya, lulus sekolah haruslah menjadi sosok bermanfaat bagi sesama minimal sebagai pintu rizki bagi mereka yang butuh pekerjaan. Teringat dulu saat awal-awal meri...