Skip to main content

Autobiographiku

Namaku dina. tepatnya Andi Hadinah. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Satu kakak perempuan dan satu adik laki laki. Aku lahir di sebuah kota tempat orangtuaku menimba ilmu, Yogyakarta, Jawa Tengah pada tanggal 24 juli 1987. Asli ibuku Bima, Nusa Tenggara Barat. Sementara bapak berasal dari sebuah kota kecil di Jawa Timur tepatnya Situbondo. Mereka bertemu di tempat kuliah yang sama sebagai mahasiswa di salah satu kampus Yogyakarta. Lulus sarjana muda, ibu menikah dengan bapak dan memutuskan untuk tinggal di kota tersebut untuk beberapaa waktu guna menyelesaikan kuliah bapak. Dua tahun setelah pernikahan, lahirlah seorang puteri cantik bernama Andi Hadinah.
    Mengapa namaku Andi sementara jenis kelaminku perempuan? Hampir setiap orang yang ku kenal pernah bertanya hal itu. Mulai dari teman, Guru ketika ku belajar di bangku SMP, Aliyah bahkan saat kuliahpun ada beberapa dosen yang penasaran akan hal itu. Adakah aku keturunan bangsawan sulawesi sehingga gelar kehormatan disematkan pada namaku? Sebenarnya nama Andi Hadinah adalah nama teman ibuku. Beliau keturunan bangsawan berasal dari sulawesi. Nama tersebut diberikan padaku dengan tujuan agar memiliki nasib yang sama dengan beliau. Tak ada kenangan yang dapat teringat dengan baik ketika itu, mungkin karena umurku masih terlalu muda.

  Ketika umurku genap 4 tahun, kami sekeluarga pulang ke kota bapak di Situbondo, Jawa Timur. Di kota ini aku tumbuh berkembang hingga dewasa seperti saat ini menjadi ibu beranak dua. Sekaligus isteri dari pak masykur, teman seangkatan waktu di Pesantren dulu. Situbondo adalah kota kecil yang terletak di jalur pantura. Dengan daerah maritim sepanjang jalan dari kota probolinggo dan banyuwangi.

  Desa kumbangsari tempat tinggalku merupakan desa kecil yang belum terlalu mengikuti gaya hidup masyarakat modern. Jarang ada masyarakat yang memiliki televisi dan handpone seperti saat ini. Saat itu aku sebagai anak desa lebih sering bermain ke sungai dan ke sawah.

  Di satu waktu mengumpulkan capung dengan getah pohon besar yang dilumurkan keujung sebatang lidih. Bila telah terkumpul, maka kami akan membakarnya layaknya penjual sate membakar sate untuk disantap bersama teman-teman sepermainan. Konon waktu itu khasiat makan capung dipercayai dapat mencegah berbagai macam penyakit sehingga kita sebagai anak desa juga langsung mempercayainya.

   Bila musim kemarau tiba, aku dan teman sepermainanku mandi di kali , jika belum lelah, bersama mereka, aku melanjutkan aktivitas mainku membuat permen gula di perapian bara api limbah kotoran sapi yang dibakar milik tetangga dengan memasukkan dua sendok gula pasir ke dalam bungkus rokok dengan sebatang lidih sebagai pegangan permen bila telah jadi permen nantinya.
   Kenangan lain yang tak terlupakan adalah ketika aku menduduki bangku SD kelas 6, aku mendapat penghargaan sebagai penulis cerita terbaik di kelas oleh wali kelas. Besar telingaku saat itu mendengar komentar wali kelas membahas secara detail tentang tulisan yang tak lagi ku ingat judul dan isinya. Beliau membahas bahwa kalimat per kalimat dari yang ku tulis terhubung dengan baik sehingga membentuk paragraf dengan penguasaan bahasa yang baik saat itu. Hal itu tak lepas dari hobiku membaca majalah yang telah terbiasa tiap menjelang tidur. Ketika di bangku SMP, aku tetap menekuni hobi membaca dengan cara berlangganan majalah majalah islami seperti Annida dan Ummi.
  Namun di bangku Aliyah, sangat disayangkan hobi ini agak terkurangi karena jadwal padat yang harus ku lewati dengan baik di pesantren demi prestasi sekolah harapan orang tua. Aturan penggunaan dua bahasa, bahasa arab dan bahsa inggeris di keseharian, memaksaku untuk meningkatkan waktu belajar dari pada menghatamkan sebuah novel yang menurutku hiburan termewah saat itu. Hampir tidak ada libur yang dapat aku lewati dengan bebas layaknya 'me time' saat waktu smp dulu. Hafalan dari beberapa mata pelajaran, membuat karangan berbahasa arab dan inggris, lomba kuis berbahasa serta segudang tugas lainnya sungguh menahanku untuk tak berlama lama tenggelam dengan novel.

Masih jelas ingatanku tentang kenangan lucu terkait hobi ini. bila diingat, rasanya tak ingin ku ceritakan pada siapapun mengingat profesiku sekarang juga sebagai pendidik di sebuah sekolah. Suatu ketika dari besarnya keinginan untuk bisa menghilangkan rasa penasaran dari novel yang ku baca, ketika kegiatan belajar berlangsung, aku menyelipkan novel ke dalam kitab materi belajar . Sehingga saat guru menerangkan aku tetap dapat membaca tanpa khawatir ketahuan beliau. Sungguh kenangan yang sangat sulit untuk dilupakan.

Selepas tamat dari Aliyah, aku melanjutkan kuliah di salah satu universitas yang bertempat di kota Apel, Malang Jawa Timur. Di kampis ini aku dapat menekuni hobiku kembali dengan membaca novel dari berbagai macam penulis karena ada fasilitas perpustakaan yang mendukung. Karya pramoedya ananta tour, seperti bumi manusia dan gadis pantai merupakan beberapa novel kegemaranku. Namun saat itu keinginan untuk menulis belum tumbuh seperti saat ini ketika mulai berumur dan beranak dua.
Kini , ketika aku telah berhasil menjadi ibu, ingin sekali menularkan hobi positif ini kepada kedua anakku agar kelak mereka menjadi pribadi yang kaya akan ilmu melebihi orang tua mereka.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...