Skip to main content

Pembiasaan beribadah

Bulan Ramadhan bulan penuh hikmah. Terbukanya pintu rahmat dan ampunan serta pahala yang dilipatgandakan di setiap amal shaleh yang diperbuat merupakan keutamaan bulan ini. Terdapat beberapa ibadah yang hanya dapat kita lakukan di bulan ini. Seperti berpuasa selama satu bulan penuh, shalat terawih berjamaah dan menunaikan zakat fitrah.

Dalam menjalani ibadah selama Ramadhan, setiap ummat islam tak ingin melewatkan waktunya begitu saja dengan kegiatan yang tidak berarti. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga setengah baya berlomba-lomba untuk menjalani bulan ini dengan khidmat. Buka puasa bersama, patroli keliling dan ngabuburit merupakan kegiatan pelengkap yang hanya dapat dilakukan di bulan ini. Semua akan berpahala bila dilakukan dengan niat beribadah.

Dalam menjalankan puasa, anak- anak pun tak ingin melewatkan waktunya dengan sia-sia. Ketika orang tua bangun untuk bersahur, mereka antusias mengikutinya. Ketika orang tua berpuasa, mereka pun turut tidak makan meski hanya 2 atau 4 jam setelah sahur. Selepas itu mereka mulai menunjukkan rasa hausnya dengan bahasa verbal ataupun bahasa kiasan.

Sebagai orang tua, kita tidak lantas membatasi keinginan mereka untuk mencoba ibadah- ibadah tersebut. Kita dapat mendukungnya dengan banyak keringanan yang diberikan agar semangat mereka dalam beribadah tidak luntur. Semisal untuk anak usia 5 sampai 6 tahun, kita dapat mengajarkan mereka berpuasa dengan 4 kali berbuka. Dimulai dari waktu imsak dalam menahan makan dan minum hingga jam 09.00 pagi baru diperbolehkan berbuka puasa. Setelah itu melanjutkan puasa lagi hingga waktu bedug. Setelah berbuka puasa untuk kedua kalinya, berpuasa lagi hingga asar tiba. Setelah berbuka puasa untuk ketiga kalinya dapat dilanjutkan lagi puasanya hingga magrib tiba. Semua pembiasaan dapat dilakukan secara bertahap sesuai batas kemampuan mereka.

Ibadah lain yang dapat dibiasakan sejak dini yaitu shalat terawih secara berjamaah. Pembiasaan ini dapat kita lakukan di Masjid yang kita suka sesuai kesepakatan dengan anak. Berangkat dari sebuah ungkapan yang berisi " anak - anak tidak selalu mendengarkan nasihat orang tua, melainkan anak-anak peniru ulung tindak tanduk mereka" kita sebagai orang tua haruslah memiliki tekad kuat untuk mengajarkan sekaligus menanamkan pengalaman berharga bagi mereka sejak usianya yang masih belia agar terekam dalam ingatan tentang kenangan manis bersama orang tua selama beribadah di bulan Ramadhan.

Dalam mengajarkan anak berbadah, kita dapat memulainya dengan  ibadah yang diwajibkan dan dianjurkan secara bertahap. Kita mengajarkan kepada mereka tanpa paksaan melainkan dengan seruan menyenangkan dan tindak nyata yang dapat ditiru serta pemberian hadiah sebagai Reward penyemangat. Kematian tidak ada yang tahu kapan datangnya. Bila tidak dimulai sejak dini dalam pembiasaan- pembiasaan beribadah, lantas kenangan apa yang dapat kita sisakan dalam benak anak-anak kita?


Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...