Pagi yang cerah dengan sinar mentari hangat dua sahabat tengah asyik menikmati mekarnya bunga mawar terhampar indah di hadapan mereka. Berlin sahabat karib Niken adalah orang sibuk yang sangat susah ia temui. Sudah berhari-hari ia memendam kesedihannya pada Torik, sang mantan pacar yang berprofesi sebagai Dosen di kotanya.
Setelah beberapa kali gagal bertemu, akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu di taman kota dekat kantor Berlin bekerja.
Saat bertemu, Niken memberondong beberapa alasan yang dikeluhkan tentang kekecewaannya terhadap Toriq selama ini. Sesekali matanya berair sebab rasa sedih begitu dalam ia rasakan.
Berlin sahabat bijak yang dikenalnya sejak kecil, sangat tau karakter Niken. Ia berusaha menata nasehatnya agar tidak menyinggung perasaan Niken.
"Sejauh mata memandang menembus makna dibalik ucapan lembut dan merahnya bibirmu tentang seseorang yang sangat kau benci, itu semua hanyalah penilaian subjektivitasmu. Buktinya, sikap orang yang kau benci pada semua orang tak seburuk penilaianmu".
Berlin mulai menanggapi keluhan Niken. Dalam dua hari ini, Niken hampir nyaris mengganggu konsentrasinya bekerja sebagai pegawai kantor perpajakan di kotanya.
"ingatanku terpaku pada sebuah pesan singkat nan padat
' Cintai siapapun sekedarnya, membencipun sekedarnya'.
Bisa jadi Allah sang pemilik hati, membalik itu semua. Seseorang yang dianggab musuh, bisa jadi suatu saat akan menolongmu dengan tulus. Sebaliknya, orang yang dibangga banggakan justeru kelak menyisakan luka berbekas".
Berlin menambah deretan nasehat bijak yang memang sudah menjadi prinsipnya saat ini. Sambil duduk menyamai posisi Niken, berlin berusaha menghentikan tangisnya dengan segulung tissue tentunya.
Niken yang sedang labil, saat itu lebih banyak menangis karena rasa kecewa begitu dalam yang ia rasakan terhadap sang mantan.
" Tapi dia pembohong"
Tambah niken seolah tak terima keluhannya diluruskan seketika itu oleh sahabat bijaknya.
" Dia gak disukai tetangganya, dia g asik. Mudah tersinggung juga."
Niken semakin menjadi menjelekkan sang mantan pacar dengan penilaiannya sendiri.
" Donni teman kantor Toriq menyampaikan padaku kalau dia itu juga serg telat ngantor".
Niken terus mengungkapkan kejelekan Toriq agar Berlin percaya dan mau turut membencinya. Dia tidak menyadari bahwa yang menjadi sumber masalah justeru dirinya sendiri.
Sebagai sahabat dekat, Berlin sangat tau sifat Niken yang lebih sering berburuk sangka, mudah terhasud kabar burung dan asal berbicara tanpa ada proses bertanya atau berklarifikasi terhadap yang bersangkutan.
"aku berencana membuka aibnya di acara pernikahan tetangganya minggu depan. Agar semua tau sifat buruknya. Sehingga orang-orang, bahkan orang terdekatnyapun akan menjauhinya."
Niken mengungkapkan rencana buruknya pada Berlin. Persahabatan mereka sangat erat sehingga hal itu tak membuatnya merasa aneh berbicara berlebihan.
Seolah tak ingin terpengaruh oleh keluhan Niken yang saat itu dalam suasana labil, Berlin melanjutkan jurus nasehatnya yang lain. Sambil membuka HP untuk mencari arti ayat yang diingat di mesin pencari google,
"Pernah ku dengar sebuah ayat al-Qur'an menyerukan untuk berbaik sangka pada siapapun, begini bunyinya "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12)"
Dengan jelas dan pelan Berlin membacakannya pada Niken yang mulai semakin menjadi kesedihannya.
Berlin sangat memaklumi sifat Niken meski bisa saja dia memutuskan persahabatan dan menjauhinya sebab kekurangannya itu. Namun bukan Berlin namanya bila ia tak mampu merubah sahabatnya menjadi pribadi shalehah layaknya muslimah shalehah. Berbekal keyakinan bahwa manusia bisa berubah, Ia pun tetap menerima kekurangan Niken seutuhnya.
Dengan mengusap punggung niken seolah ingin menunjukkan empatinya, berlin melembutkan suaranya.
"Maksud dari ayat ini bisa jadi terhubung dengan pesan singkat tadi Ken. Kita tidak perlu menternak sangka buruk dalam pikiran sehingga dapat melahirkan permusuhan antar sesama. Satu hal yang perlu kita perbuat stop buruk sangka, hindari segala sumber pemicunya termasuk kebencian semu tak beralasan yang pada akhirnya melahirkan kesimpulan baru dari orang di sekitar kita kalau kita tidak terimalah, egoislah, tidak mau berintropeksi, iri dan sebagainya"
" Bukankah kedamaian dan tersambungnya silaturrahmi merupakan 2 hal kecintaan Allah dan RasulNya? Bila ingin Rasul senang, tak perlulah kita bermusuhan"
lega rasanya Berlin mengungkapkan nasehat yang selama ini ingin ia sampaikan pada karibnya itu. Sebagai sesama muslim, Berlin merasa harus mengingatkan.
Niken yang mulai melemahkan suara tangisannya berusaha memeluk Berlin. Seolah ingin menunjukkan bahwa ia sedang butuh tempat bersandar saat ini.
Dengan berniat ingin mengajak Niken untuk berafirmasi, Berlin sedikit melantangkan suaranya.
"Akhirnya aku berprinsip ,bila menyukai seseorang ya biasa- biasa saja dan bila membencinyapun tak berlebihan".
Adzan dhuhur berkumandang dari Masjid yang bersebelahan dengan taman kota, keadaan mulai mencair, Berlin segera mengajak Niken untuk bangun dari tempat duduk menuju Masjid tempat yang tepat berkeluh kesah.
Setelah beberapa kali gagal bertemu, akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu di taman kota dekat kantor Berlin bekerja.
Saat bertemu, Niken memberondong beberapa alasan yang dikeluhkan tentang kekecewaannya terhadap Toriq selama ini. Sesekali matanya berair sebab rasa sedih begitu dalam ia rasakan.
Berlin sahabat bijak yang dikenalnya sejak kecil, sangat tau karakter Niken. Ia berusaha menata nasehatnya agar tidak menyinggung perasaan Niken.
"Sejauh mata memandang menembus makna dibalik ucapan lembut dan merahnya bibirmu tentang seseorang yang sangat kau benci, itu semua hanyalah penilaian subjektivitasmu. Buktinya, sikap orang yang kau benci pada semua orang tak seburuk penilaianmu".
Berlin mulai menanggapi keluhan Niken. Dalam dua hari ini, Niken hampir nyaris mengganggu konsentrasinya bekerja sebagai pegawai kantor perpajakan di kotanya.
"ingatanku terpaku pada sebuah pesan singkat nan padat
' Cintai siapapun sekedarnya, membencipun sekedarnya'.
Bisa jadi Allah sang pemilik hati, membalik itu semua. Seseorang yang dianggab musuh, bisa jadi suatu saat akan menolongmu dengan tulus. Sebaliknya, orang yang dibangga banggakan justeru kelak menyisakan luka berbekas".
Berlin menambah deretan nasehat bijak yang memang sudah menjadi prinsipnya saat ini. Sambil duduk menyamai posisi Niken, berlin berusaha menghentikan tangisnya dengan segulung tissue tentunya.
Niken yang sedang labil, saat itu lebih banyak menangis karena rasa kecewa begitu dalam yang ia rasakan terhadap sang mantan.
" Tapi dia pembohong"
Tambah niken seolah tak terima keluhannya diluruskan seketika itu oleh sahabat bijaknya.
" Dia gak disukai tetangganya, dia g asik. Mudah tersinggung juga."
Niken semakin menjadi menjelekkan sang mantan pacar dengan penilaiannya sendiri.
" Donni teman kantor Toriq menyampaikan padaku kalau dia itu juga serg telat ngantor".
Niken terus mengungkapkan kejelekan Toriq agar Berlin percaya dan mau turut membencinya. Dia tidak menyadari bahwa yang menjadi sumber masalah justeru dirinya sendiri.
Sebagai sahabat dekat, Berlin sangat tau sifat Niken yang lebih sering berburuk sangka, mudah terhasud kabar burung dan asal berbicara tanpa ada proses bertanya atau berklarifikasi terhadap yang bersangkutan.
"aku berencana membuka aibnya di acara pernikahan tetangganya minggu depan. Agar semua tau sifat buruknya. Sehingga orang-orang, bahkan orang terdekatnyapun akan menjauhinya."
Niken mengungkapkan rencana buruknya pada Berlin. Persahabatan mereka sangat erat sehingga hal itu tak membuatnya merasa aneh berbicara berlebihan.
Seolah tak ingin terpengaruh oleh keluhan Niken yang saat itu dalam suasana labil, Berlin melanjutkan jurus nasehatnya yang lain. Sambil membuka HP untuk mencari arti ayat yang diingat di mesin pencari google,
"Pernah ku dengar sebuah ayat al-Qur'an menyerukan untuk berbaik sangka pada siapapun, begini bunyinya "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12)"
Dengan jelas dan pelan Berlin membacakannya pada Niken yang mulai semakin menjadi kesedihannya.
Berlin sangat memaklumi sifat Niken meski bisa saja dia memutuskan persahabatan dan menjauhinya sebab kekurangannya itu. Namun bukan Berlin namanya bila ia tak mampu merubah sahabatnya menjadi pribadi shalehah layaknya muslimah shalehah. Berbekal keyakinan bahwa manusia bisa berubah, Ia pun tetap menerima kekurangan Niken seutuhnya.
Dengan mengusap punggung niken seolah ingin menunjukkan empatinya, berlin melembutkan suaranya.
"Maksud dari ayat ini bisa jadi terhubung dengan pesan singkat tadi Ken. Kita tidak perlu menternak sangka buruk dalam pikiran sehingga dapat melahirkan permusuhan antar sesama. Satu hal yang perlu kita perbuat stop buruk sangka, hindari segala sumber pemicunya termasuk kebencian semu tak beralasan yang pada akhirnya melahirkan kesimpulan baru dari orang di sekitar kita kalau kita tidak terimalah, egoislah, tidak mau berintropeksi, iri dan sebagainya"
" Bukankah kedamaian dan tersambungnya silaturrahmi merupakan 2 hal kecintaan Allah dan RasulNya? Bila ingin Rasul senang, tak perlulah kita bermusuhan"
lega rasanya Berlin mengungkapkan nasehat yang selama ini ingin ia sampaikan pada karibnya itu. Sebagai sesama muslim, Berlin merasa harus mengingatkan.
Niken yang mulai melemahkan suara tangisannya berusaha memeluk Berlin. Seolah ingin menunjukkan bahwa ia sedang butuh tempat bersandar saat ini.
Dengan berniat ingin mengajak Niken untuk berafirmasi, Berlin sedikit melantangkan suaranya.
"Akhirnya aku berprinsip ,bila menyukai seseorang ya biasa- biasa saja dan bila membencinyapun tak berlebihan".
Adzan dhuhur berkumandang dari Masjid yang bersebelahan dengan taman kota, keadaan mulai mencair, Berlin segera mengajak Niken untuk bangun dari tempat duduk menuju Masjid tempat yang tepat berkeluh kesah.
Comments
Post a Comment