Manusia makhluk sosial. Facebook adalah salah satu media online untuk bersosial.
Bagaimanakah menyikapi facebook?
-------------------------***---------------------------
Ku buka pintu masuk untuk mengenal semua orang yang suka bersosial dan 'say hello' di berandaku. Ada beberapa dari teman masa sekolah dulu, ada juga dari masa kuliah, teman-teman waktu sempat menjadi guru di dua sekolah swasta, beberapa sanak saudara dan beberapa orang di luar yang aku sebutkan tadi.
Aku mengenal mereka dari huruf-huruf yang disebarnya. Bahwa si A adalah seorang yang pintar, penuh ilmu pengetahuan dan ingin menyebarkan ilmunya padaku. Si B yang sangat menghargai waktu sehingga dimanapun ia berada haruslah menghasilkan rupiah, dialah pebisnis sejati. Si C yang selalu menjaga silaturrahmi dengan orang-orang sekitarnya sehingga terkadang ia ngirit kuota untuk update status. Sekalinya berstatus hanya untuk bercengkrama manjah dengan orang-orang sekitar sekedar menghilangkan jenuh yang mendera di dunia nyata.
Mengenal mereka dengan latar belakang dan tujuan berbeda sangatlah menyenangkan bagiku. Sebagai efek besarnya kegiranganku pada ruangan ini, tiap menit pikiranku teringat padanya. Di situ aku berfikir tentang cara agar selalu tampil eksis layaknya seorang artis dengan banyak penggemar.
Namun hal itu segera terpatahkan dengan komentar negatif para haters tentang gambar-gambar dengan segala kemewahannya yang bertebaran di berandaku. Pamerkah ? Atau pencitraan kah? Itu yang ku tangkap dari maksud komentar-komentar tersebut.
Tiba-tiba akupun seketika menjadi pasif, trauma dan enggan ber-Online- ria. Semua huruf negatif yang ku tangkap membuatku khawatir dan takut. Takut bila aku mendapat perlakuan sama dengan mereka oleh para haters.
Akupun mencari teman diskusi di dunia nyata tentang fenomena media sosial. Tak cukup dengan itu. Berita kriminal banyak ku temukan dengan sebab pembunuhan oleh rekan chattingnya membuatku was-was. Keretakan rumah tangga disebabkan oleh media sosial membuatku lunglai. Hingga berkurangnya keberkahan rizki dengan sebab dipamerkan membuatku enggan mendekatinya lagi.
Akhirnya aku berkesimpulan dalam dunia online pun kita harus berhati-hati sebagaimana dunia nyata. Tidak asal pamer khawatir kejahatan mengintai. Tidak asal update status khawatir silaturrahmi terputus karena kecewanya hati selepas membaca huruf negatif yang ditebarkan.
Facebook oh facebook, sungguh aku ini sesuatu banget padamu. Semoga segala yang telah ku lakukan tidaklah melampaui batas sehingga dapat memalingkan kewajibanku di dunia nyata. Baik sebagai makhluk kepada penciptaNya, sebagai seorang pekerja terhadap atasannya, sebagai seorang atasan terhadap bawahannya, sebagai seorang isteri terhadap suaminya, sebagai seorang suami terhadap isterinya, sebagai seorang ibu / ayah terhadap anak-anaknya, sebagai seorang anak terhadap orangtua/mertuanya dan kepada siapapun. Semoga dimanapun kita berada senantiasa bijak bersikap.
Bagaimanakah menyikapi facebook?
-------------------------***---------------------------
Ku buka pintu masuk untuk mengenal semua orang yang suka bersosial dan 'say hello' di berandaku. Ada beberapa dari teman masa sekolah dulu, ada juga dari masa kuliah, teman-teman waktu sempat menjadi guru di dua sekolah swasta, beberapa sanak saudara dan beberapa orang di luar yang aku sebutkan tadi.
Aku mengenal mereka dari huruf-huruf yang disebarnya. Bahwa si A adalah seorang yang pintar, penuh ilmu pengetahuan dan ingin menyebarkan ilmunya padaku. Si B yang sangat menghargai waktu sehingga dimanapun ia berada haruslah menghasilkan rupiah, dialah pebisnis sejati. Si C yang selalu menjaga silaturrahmi dengan orang-orang sekitarnya sehingga terkadang ia ngirit kuota untuk update status. Sekalinya berstatus hanya untuk bercengkrama manjah dengan orang-orang sekitar sekedar menghilangkan jenuh yang mendera di dunia nyata.
Mengenal mereka dengan latar belakang dan tujuan berbeda sangatlah menyenangkan bagiku. Sebagai efek besarnya kegiranganku pada ruangan ini, tiap menit pikiranku teringat padanya. Di situ aku berfikir tentang cara agar selalu tampil eksis layaknya seorang artis dengan banyak penggemar.
Namun hal itu segera terpatahkan dengan komentar negatif para haters tentang gambar-gambar dengan segala kemewahannya yang bertebaran di berandaku. Pamerkah ? Atau pencitraan kah? Itu yang ku tangkap dari maksud komentar-komentar tersebut.
Tiba-tiba akupun seketika menjadi pasif, trauma dan enggan ber-Online- ria. Semua huruf negatif yang ku tangkap membuatku khawatir dan takut. Takut bila aku mendapat perlakuan sama dengan mereka oleh para haters.
Akupun mencari teman diskusi di dunia nyata tentang fenomena media sosial. Tak cukup dengan itu. Berita kriminal banyak ku temukan dengan sebab pembunuhan oleh rekan chattingnya membuatku was-was. Keretakan rumah tangga disebabkan oleh media sosial membuatku lunglai. Hingga berkurangnya keberkahan rizki dengan sebab dipamerkan membuatku enggan mendekatinya lagi.
Akhirnya aku berkesimpulan dalam dunia online pun kita harus berhati-hati sebagaimana dunia nyata. Tidak asal pamer khawatir kejahatan mengintai. Tidak asal update status khawatir silaturrahmi terputus karena kecewanya hati selepas membaca huruf negatif yang ditebarkan.
Facebook oh facebook, sungguh aku ini sesuatu banget padamu. Semoga segala yang telah ku lakukan tidaklah melampaui batas sehingga dapat memalingkan kewajibanku di dunia nyata. Baik sebagai makhluk kepada penciptaNya, sebagai seorang pekerja terhadap atasannya, sebagai seorang atasan terhadap bawahannya, sebagai seorang isteri terhadap suaminya, sebagai seorang suami terhadap isterinya, sebagai seorang ibu / ayah terhadap anak-anaknya, sebagai seorang anak terhadap orangtua/mertuanya dan kepada siapapun. Semoga dimanapun kita berada senantiasa bijak bersikap.
Comments
Post a Comment