Skip to main content

Mata Mengunci Jam Dinding

" Wah, sudah 178 chat?"

Ucapku saat mbuka WA tadi malam selepas menidurkan si bungsu.
Jemariku mulai lincah menyapu layar android, mengusapnya dan sesekali sentuhan manja si telunjuk membuka notifikasi facebook dan beberapa fanspage event challenge.

" Ya Ampun, dua hari tak buka hp, rupanya aku tertinggal banyak informasi"

Pikirku berbicara sendiri. Meskipun bukan pebisnis online yg tiap waktu buka HP agar mendapat informasi terbaru, aku yang punya hobby menulis juga tak kalah aktif membuka HP setiap hari. Hanya saja ranahku tentang tulis menulis dan kepenulisan. Berimajinasi dan berkhayal, mencari ide bagaimana membuat tulisan memikat, gurih dan lezat seperti anggota JeWe lainnya.

Pikiran teringat untuk membaca chating sahabat JeWe satu persatu. Ada yang sudah setor 10 tugas, 8, 7 ataupun 3 tugas karangan. Sepintas saya berfikir,

" Dari beberapa anggota kelas, kok sekarang aku jadi anggota tertinggal ya"

" kalau begitu, aku harus bikin beberapa tulisan agar tak kalah dengan yang lain"

Jariku mulai membuka aplikasi my diary untuk membuat tulisan baru sekaligus mengarsipnya agar tidak hilang.

Tapi ya itu, berhubung malam sudah larut, tiap beberapa menit mataku tak lepas melihat jam hawatir kelewat hingga shubuh. karena saking asiknya menulis, terkadang sampai lupa waktu dan sering tidak ingat bila malam adalah waktu terbaik beristirahat.
Dan akupun mulai menulis sebuah dialog
"wah, sudah 178 chat?"


Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...