Hawa sejuk pegunungan masih menyelimuti ruang kelas kursus menulis kala itu. Mentari yang mulai meninggi belum mampu menghangatkan udara sejuk pagi. Semilir angin musim serta bunga Seruni dan Matahari bermekaran sepanjang jalan dari kaki bukit gunung Rinjani.
Beberapa peserta kursus datang bersepeda menuju tempat tersebut meski tak sedikit pula yang berjalan kaki. Ada yang mengayunkan langkahnya dengan gontai hawatir telat masuk kelas dan ada pula yang masih berjalan santai syantik ala-ala princess karena jadwal belajarnya masih jam 1 siang nanti.
Sesekali mereka saling bertegur sapa untuk memperkokoh silaturrahmi yang sempat terpisah oleh liburan semester tahun ini.
Di halaman sekolah dengan taman luas dan pepohonan rindang serta beberapa kursi kayu yang berjejer rapi menambah nuansa alam yang nyaman untuk belajar di tempat ini.
Ada masjid cantik terletak disamping taman, lengkap dengan kafe luwaknya bagi pecinta kopi yang ingin berasyik masyhuk mendiskusikan materi yang mereka dapatkan.
Beberapa orang tengah bersiap masuk menuju kelas karena jam 1 siang coach Lutfi berjadwal mengisi ruang kelas 51 Jenius Writing. Tepat jam 12. 30, Tiga ibu- ibu baper memasuki ruangan yang masih sepi dengan semangat menggebu ingin menyimak kehebatan beliau dalam menyampaikan materi.
" Kita duduk di sini saja"
Ajakku pada bunda Evi Rosita yang makin anggun dengan gamis ungunya.
" Wah, di depan saja yuk! Ntar kita g bisa menyimak dengan jelas lo pemaparan beliau"
Jawabnya sambil memindahkan tasku ke deretan meja depan saat itu.
" lah bund, itu artinya kita gak bisa berbicara sendiri lo ya saat pelajaran berlangsung"
Lanjutku.
"ya iyalah kak"
Jawab Nurlaila Ladanu dengan senyum simpulnya.
Sembari mereka duduk, peserta lain mulai berdatangan mengisi kursi kosong di belakang kami. Kelas mulai ramai dengan suara kami yang sudah saling kenal sejak tadi.
Ada yang sibuk menyiapkan buku dan pena di atas meja, ada yang masih sibuk bertelepon ria dengan rekannya dan ada pula yang sibuk pencet-pencet laptop, mengedit tulisan yang hendak di share pada hari itu.
Tepat jam 1 sang guru mulai memasuki kelas. Sebagian dari kita ada yang ketar- ketir penasaran terhadap sosok beliau. Aku berbisik pada teman sebelahku bunda Evi.
" ternyata coach lutfi ramah sekali ya"
Bunda Evi menambahkan,
" Aura positifnya terbaca dari caranya melangkah"
" Assalamualaikum sahabat"
Coach lutfi mulai menyapa kelas yang secara tiba- tiba senyap.
" Apa warna pikiranmu saat ini?"
Tanya beliau pada para peserta kelas menulis siang itu. Dengan sigap kami mengacungkan jari telunjuk untuk menjadi penjawab tercepat. Jawaban kami beraneka ragam. Ada yang menjawab pink, ada yng menjawab kuning keemasan dan aku sendiri tentunya menjawab ...ehem...ehem...rahasia dong. Segera langsung kutulis jawabanku ke dalam lembaran buku untuk ku baca ulang di rumah nanti.
Beliau lanjut bertanya,
" Mengapa Allah memberimu pikiran?"
Kali ini aku memberanikan diri menjawabnya dengan cepat,
" Agar ada pembeda antara kita sebagai manusia dengan makhluk lain seperti hewan."
" oke" " yang lain?"
Tanya beliau seraya menyapu pandangan ke seluruh peserta.
" Untuk membedakan sesuatu yang baik dan sesuatu yang buruk"
Seolah tak ingin ketinggalan, bunda Evi menjawab dengan lugas.
Coach lutfie melanjutkan pertanyaan pemanasan materi dengan sangat baik hingga seluruh pandangan peserta tak sedetikpun beralih dari sosoknya.
" Bagaimana caramu mensyukuri pikiranmu?"
" Berapa harga pikiranmu?"
"Kapan anda menggunakan pikiran dengan baik?"
Semua pertanyaan terjawab di catatan kami masing-masing.
Terus terang suasana kelas kala itu sangat hidup, segar, berkesan dan menyenangkan. Terlebih beliau menutup materi dengan bacaan ummul kitab yang sekaligus berfungsi doa bagi kami semua dari tulisan atau kalimat per kalimat yang kami ucapkan tadi.
Dalam materinya, beliau juga menyampaikan trik mencari ide saat pikiran buntu. Diantaranya menyebutkan 13 anggota badan ditambah 13 benda di sekitar kita lalu sisipkan kata kerja provokatif diantara keduanya. Aku mulai memperaktekkan dan memilih dari ketiga belas anggota badanku untuk ku jadikan judul karangan 3 paragraf.
Telinga mengangkat gelas
By Andi Hadinah
Setiap selesai shalat shubuh
Aku terbiasa dengan rutinitasku sebagai ibu
Membuat sarapan dengan berbagai bumbu
Menghidangkannya sebelum anak sulung berangkat sekolah dan berteriak merdu
Di atas meja bertaplak abu-abu
Beruntung jarak antara sekolah dan rumah sangatlah dekat tak berdebu
Selepas keberangkatannya ke sekolah
Aku masih berkutat dengan beberes rumah
mengurus suami dan si adik dengan ramah
Sesekali membuka WA dan mencari berita
Meski terkadang harus sembunyi-sembunyi
Khawatir terlihat si adik yang sudah mandi
Tiba-tiba datang penjual jamu
Dengan bersepeda biru
Memanggil pembeli agar segera laku
Telingaku yang mendengar spontan mencari gelas dan berlalu
Untuk membeli jamu gendongan cap iboe
Materi berakhir dengan tanya jawab peserta yang berkesimpulan,
1. Tidak ada tulisan sempurna kecuali Al- Qur'an
2. Menulis adalah skill yang berkembang dengan praktek dan latihan
3. Tulisan akan bernyawa bila penulis tidak membohongi isi hatinya
4. Saat menulis fiksi, kita harus mulai mengoptimalkan otak kanan
5. Kepanjangan LDA adalah Lekat, Dekat dan Akrab
Yess! Begitulah pengalaman pertama kami mengikuti materi kelas ini. Kami bersyukur dapat belajar di tempat indah ini. Ketika mengajar, beliau tak pernah lupa mengajak kami selalu bersyukur atas apa yang kami miliki saat ini. Selamat bertemu kembali coach di pertemuan berikutnya!!🙏
Beberapa peserta kursus datang bersepeda menuju tempat tersebut meski tak sedikit pula yang berjalan kaki. Ada yang mengayunkan langkahnya dengan gontai hawatir telat masuk kelas dan ada pula yang masih berjalan santai syantik ala-ala princess karena jadwal belajarnya masih jam 1 siang nanti.
Sesekali mereka saling bertegur sapa untuk memperkokoh silaturrahmi yang sempat terpisah oleh liburan semester tahun ini.
Di halaman sekolah dengan taman luas dan pepohonan rindang serta beberapa kursi kayu yang berjejer rapi menambah nuansa alam yang nyaman untuk belajar di tempat ini.
Ada masjid cantik terletak disamping taman, lengkap dengan kafe luwaknya bagi pecinta kopi yang ingin berasyik masyhuk mendiskusikan materi yang mereka dapatkan.
Beberapa orang tengah bersiap masuk menuju kelas karena jam 1 siang coach Lutfi berjadwal mengisi ruang kelas 51 Jenius Writing. Tepat jam 12. 30, Tiga ibu- ibu baper memasuki ruangan yang masih sepi dengan semangat menggebu ingin menyimak kehebatan beliau dalam menyampaikan materi.
" Kita duduk di sini saja"
Ajakku pada bunda Evi Rosita yang makin anggun dengan gamis ungunya.
" Wah, di depan saja yuk! Ntar kita g bisa menyimak dengan jelas lo pemaparan beliau"
Jawabnya sambil memindahkan tasku ke deretan meja depan saat itu.
" lah bund, itu artinya kita gak bisa berbicara sendiri lo ya saat pelajaran berlangsung"
Lanjutku.
"ya iyalah kak"
Jawab Nurlaila Ladanu dengan senyum simpulnya.
Sembari mereka duduk, peserta lain mulai berdatangan mengisi kursi kosong di belakang kami. Kelas mulai ramai dengan suara kami yang sudah saling kenal sejak tadi.
Ada yang sibuk menyiapkan buku dan pena di atas meja, ada yang masih sibuk bertelepon ria dengan rekannya dan ada pula yang sibuk pencet-pencet laptop, mengedit tulisan yang hendak di share pada hari itu.
Tepat jam 1 sang guru mulai memasuki kelas. Sebagian dari kita ada yang ketar- ketir penasaran terhadap sosok beliau. Aku berbisik pada teman sebelahku bunda Evi.
" ternyata coach lutfi ramah sekali ya"
Bunda Evi menambahkan,
" Aura positifnya terbaca dari caranya melangkah"
" Assalamualaikum sahabat"
Coach lutfi mulai menyapa kelas yang secara tiba- tiba senyap.
" Apa warna pikiranmu saat ini?"
Tanya beliau pada para peserta kelas menulis siang itu. Dengan sigap kami mengacungkan jari telunjuk untuk menjadi penjawab tercepat. Jawaban kami beraneka ragam. Ada yang menjawab pink, ada yng menjawab kuning keemasan dan aku sendiri tentunya menjawab ...ehem...ehem...rahasia dong. Segera langsung kutulis jawabanku ke dalam lembaran buku untuk ku baca ulang di rumah nanti.
Beliau lanjut bertanya,
" Mengapa Allah memberimu pikiran?"
Kali ini aku memberanikan diri menjawabnya dengan cepat,
" Agar ada pembeda antara kita sebagai manusia dengan makhluk lain seperti hewan."
" oke" " yang lain?"
Tanya beliau seraya menyapu pandangan ke seluruh peserta.
" Untuk membedakan sesuatu yang baik dan sesuatu yang buruk"
Seolah tak ingin ketinggalan, bunda Evi menjawab dengan lugas.
Coach lutfie melanjutkan pertanyaan pemanasan materi dengan sangat baik hingga seluruh pandangan peserta tak sedetikpun beralih dari sosoknya.
" Bagaimana caramu mensyukuri pikiranmu?"
" Berapa harga pikiranmu?"
"Kapan anda menggunakan pikiran dengan baik?"
Semua pertanyaan terjawab di catatan kami masing-masing.
Terus terang suasana kelas kala itu sangat hidup, segar, berkesan dan menyenangkan. Terlebih beliau menutup materi dengan bacaan ummul kitab yang sekaligus berfungsi doa bagi kami semua dari tulisan atau kalimat per kalimat yang kami ucapkan tadi.
Dalam materinya, beliau juga menyampaikan trik mencari ide saat pikiran buntu. Diantaranya menyebutkan 13 anggota badan ditambah 13 benda di sekitar kita lalu sisipkan kata kerja provokatif diantara keduanya. Aku mulai memperaktekkan dan memilih dari ketiga belas anggota badanku untuk ku jadikan judul karangan 3 paragraf.
Telinga mengangkat gelas
By Andi Hadinah
Setiap selesai shalat shubuh
Aku terbiasa dengan rutinitasku sebagai ibu
Membuat sarapan dengan berbagai bumbu
Menghidangkannya sebelum anak sulung berangkat sekolah dan berteriak merdu
Di atas meja bertaplak abu-abu
Beruntung jarak antara sekolah dan rumah sangatlah dekat tak berdebu
Selepas keberangkatannya ke sekolah
Aku masih berkutat dengan beberes rumah
mengurus suami dan si adik dengan ramah
Sesekali membuka WA dan mencari berita
Meski terkadang harus sembunyi-sembunyi
Khawatir terlihat si adik yang sudah mandi
Tiba-tiba datang penjual jamu
Dengan bersepeda biru
Memanggil pembeli agar segera laku
Telingaku yang mendengar spontan mencari gelas dan berlalu
Untuk membeli jamu gendongan cap iboe
Materi berakhir dengan tanya jawab peserta yang berkesimpulan,
1. Tidak ada tulisan sempurna kecuali Al- Qur'an
2. Menulis adalah skill yang berkembang dengan praktek dan latihan
3. Tulisan akan bernyawa bila penulis tidak membohongi isi hatinya
4. Saat menulis fiksi, kita harus mulai mengoptimalkan otak kanan
5. Kepanjangan LDA adalah Lekat, Dekat dan Akrab
Yess! Begitulah pengalaman pertama kami mengikuti materi kelas ini. Kami bersyukur dapat belajar di tempat indah ini. Ketika mengajar, beliau tak pernah lupa mengajak kami selalu bersyukur atas apa yang kami miliki saat ini. Selamat bertemu kembali coach di pertemuan berikutnya!!🙏
Comments
Post a Comment