Ku buka pintu kelas Jenius Writing, menurut beberapa testimony, kelas ini sangatlah seru. Semua orang yang pernah singgah keluar dengan kebahagiaan tiada tara. Tentunya dengan wajah dan hati sumringah.
Mengenal pintu kelas ini membuat rasa penasaranku kian dalam untuk semakin memasukinya. Karena terbukti banyak siswa pemula yang lulus dengan lincah dan menggugah hati para pembaca. Lalu sepenuh hati ku masuki pintu ini dengan ucapan bismillah niat ngalap berkah dari sang kekasih Allah.
Saat kumulai melangkahkan kaki kananku memasuki ruangan dimana ada banyak wajah-wajah ramah dengan niat sama denganku, tiba-tiba terbukalah pintu rahasia terletak di sebelah meja yang ku tuju. Di situlah ku temukan beberapa alat seperti pena, buku, HP dan Laptop,
Di sana juga terdapat banyak gelembung udara berwarna-warni. Ada merah, hijau, ungu, pink, biru hingga hitam. Di dalamnya bertuliskan ide-ide, rahasia sukses penulis pemula, kata-kata yang memotivasi serta harapan dan do'a.
Ku datangi mereka satu persatu. Ku baca pelan-pelan, ku baca dan resapi, ku rekam dalam hati dan pikiran. Hingga sampailah aku pada pintu berwarna biru bercampur putih bertulislan ' Khusus Penulis Jenius'.
Dengan rasa penasaranku yang kian besar, ku terus melangkahlan kakiku ke dalam ruangan itu. Aku melihat beberapa orang yang sibuk dengan bukunya. Ada sebagian lagi dengan laptopnya. Di belakang kursi bertuliskan 'Penulis Professional'. Aku datangi salah satu dari mereka. Di sampingnya tergeletak buku panduan menjadi penulis profesional. Ku buka halaman perhalaman lalu ku simpulkan bahwa mereka hanya menulis dengan cinta dan usaha tentunya. Dengan motto Menulis itu sedekah. Menulis bahagia.
Langkahku terus bergerak menyisir pintu perpintu ruang kelas itu hingga sampailah aku pada pintu unik berwarna ke emasan bertuliskan beberapa huruf hijaiyah dan beberapa huruf abjad. Ku buka pintu itu. Di dalamnya ku temukan keberanian. Berani menghayal, berani berimajinasi, berani salah, berani berexplor dan berani mempraktekkan segala materi yang tersedia di ruangan ini.
Langkahku terus terayun ke depan menuju sebuah pintu dengan warna yang sangat menyilaukan mata yaitu silver. Awalnya hati terasa gelisah memasukinya. Rasa was-was segera menyerang pikiranku. Sejenak ku berfikir untuk segera keluar, hengkang dari ruangan ini. Namun si penasaran tak kunjung sirna. Ia mencegah langkahku keluar dan mendorongku kembali ke ruangan menuju pintu silver itu.
Saat ku memasuki ruangan...wusss...wusss... Hembusan angin harapan menyisir rambutku. Mengusap wajahku yang mulai kelelahan. Aku merasa segar, tenang dan damai berada di dalamnya. Ketika berbalik arah, ku temukan diriku dengan wajah baru yang lebih segar penuh semangt. Gumamku padanya, " Kau kah itu?" dengan memandangnya di setiap detail tubuhnya, ia yang lebih segar hanya tersenyum manis dengan mata berbinar bak rembulan bersinar.
Di sini ku merasakan sebuah perasaan baru yang tak pernah ada dalam ratusan rasa sebelumnya. Jiwaku damai setelah menyadari bahwa aku bisa menulis, membuat tulisan yang menginspirasi banyak orang.
Mengenal pintu kelas ini membuat rasa penasaranku kian dalam untuk semakin memasukinya. Karena terbukti banyak siswa pemula yang lulus dengan lincah dan menggugah hati para pembaca. Lalu sepenuh hati ku masuki pintu ini dengan ucapan bismillah niat ngalap berkah dari sang kekasih Allah.
Saat kumulai melangkahkan kaki kananku memasuki ruangan dimana ada banyak wajah-wajah ramah dengan niat sama denganku, tiba-tiba terbukalah pintu rahasia terletak di sebelah meja yang ku tuju. Di situlah ku temukan beberapa alat seperti pena, buku, HP dan Laptop,
Di sana juga terdapat banyak gelembung udara berwarna-warni. Ada merah, hijau, ungu, pink, biru hingga hitam. Di dalamnya bertuliskan ide-ide, rahasia sukses penulis pemula, kata-kata yang memotivasi serta harapan dan do'a.
Ku datangi mereka satu persatu. Ku baca pelan-pelan, ku baca dan resapi, ku rekam dalam hati dan pikiran. Hingga sampailah aku pada pintu berwarna biru bercampur putih bertulislan ' Khusus Penulis Jenius'.
Dengan rasa penasaranku yang kian besar, ku terus melangkahlan kakiku ke dalam ruangan itu. Aku melihat beberapa orang yang sibuk dengan bukunya. Ada sebagian lagi dengan laptopnya. Di belakang kursi bertuliskan 'Penulis Professional'. Aku datangi salah satu dari mereka. Di sampingnya tergeletak buku panduan menjadi penulis profesional. Ku buka halaman perhalaman lalu ku simpulkan bahwa mereka hanya menulis dengan cinta dan usaha tentunya. Dengan motto Menulis itu sedekah. Menulis bahagia.
Langkahku terus bergerak menyisir pintu perpintu ruang kelas itu hingga sampailah aku pada pintu unik berwarna ke emasan bertuliskan beberapa huruf hijaiyah dan beberapa huruf abjad. Ku buka pintu itu. Di dalamnya ku temukan keberanian. Berani menghayal, berani berimajinasi, berani salah, berani berexplor dan berani mempraktekkan segala materi yang tersedia di ruangan ini.
Langkahku terus terayun ke depan menuju sebuah pintu dengan warna yang sangat menyilaukan mata yaitu silver. Awalnya hati terasa gelisah memasukinya. Rasa was-was segera menyerang pikiranku. Sejenak ku berfikir untuk segera keluar, hengkang dari ruangan ini. Namun si penasaran tak kunjung sirna. Ia mencegah langkahku keluar dan mendorongku kembali ke ruangan menuju pintu silver itu.
Saat ku memasuki ruangan...wusss...wusss... Hembusan angin harapan menyisir rambutku. Mengusap wajahku yang mulai kelelahan. Aku merasa segar, tenang dan damai berada di dalamnya. Ketika berbalik arah, ku temukan diriku dengan wajah baru yang lebih segar penuh semangt. Gumamku padanya, " Kau kah itu?" dengan memandangnya di setiap detail tubuhnya, ia yang lebih segar hanya tersenyum manis dengan mata berbinar bak rembulan bersinar.
Di sini ku merasakan sebuah perasaan baru yang tak pernah ada dalam ratusan rasa sebelumnya. Jiwaku damai setelah menyadari bahwa aku bisa menulis, membuat tulisan yang menginspirasi banyak orang.
Comments
Post a Comment