Skip to main content

Serpihan Hati Mumu

Cinta itu menyinari. Ibarat Matahari dan Bulan selalu bersinar tulus meski awan menutupi. Lantas, apa susahnya meniru Bulan?

Menyinari disini bermakna luas. Kasih sayang tulus, mencurahkan perhatian, menghormati termasuk jg memaafkan dengan tulus.Kali ini saya akan bercerita tentang buah dari sikap sabar. Betapa sabar membawa keberuntungan. "Man shobaro, Faza". " Barangsiapa bersabar maka beruntung"

" Tak sumpahi jadi bunga lo ya!"
Pak Jaja meluapkan kemarahannya atas sikap ceroboh Mumu yang berulangkali keliru ngelist dagangannya di gudang sepatu kian menjadi. Mumu sebagai karyawan baru di toko itu tampak takut dengan sikap keras Pak Jaja, sang pemilik toko.
" Maafkan saya pak. Pikiran saya sedang......."

" Ah ...sudah...sudah....kamu selalu saja beralasan tiap kali berbuat salah".

"Minggu lalu karena kunyit, kemarin karena sirih, sekarangpun demikian". Tolak Pak Jaja atas upaya Mumu menjelaskan penyebab kesalahan. Seolah tak perduli dengan hadits Nabi yang berbunyi " Manusia tempatnya salah dan lupa" Pak Jaja melanjutkan omelannya.
" Semoga Besok aku tak melihatmu lagi"
Sambil bergegas menuju mobil, Pak Jaja mengingatkan Mumu yang tengah memundukkan kepalanya dalam-dalam.

Sebagai karyawan baru di toko sepatu, ia tak dapat berbuat lebih ketika teguran si bos tertuju padanya. Kalau saja tidak demi sekaleng susu untuk anakku yang belum genap dua tahun, rasanya ingin sekali mengundurkan diri dan berjualan gorengan di rumah. Kondisi ekonomi yang masih sekarat karena status barunya sebagai janda mati, membuat Mumu harus siap menjadi sosok tangguh. Demi menyambung hidup ia dan ketiga buah hatinya.

Tak seperti biasanya. Kali ini daya tampung kesabarannya serasa menipis.beberapa kali air tergenang di sudut matanya namun ia tahan agar tak sampai jatuh membasahi pipi. Ia segera menuju toilet dan menumpahkan keluh kesahnya pada Blog favoritnya.

            Apa Kabar Engkau, Cinta!


"Hai Hati, apa warna cintamu hari ini?"
Mumu mulai mengetik kalimat perkalimat di HP androidmya.

Seolah ada pembisik, dalam pikirannya berbisik dengan cepat,
"Biru kehitam-hitaman"

"Mengapa Allah memberikan rasa cinta pada manusia?"

"Agar dapat hidup damai termasuk antara si bos dan aku" khayalnya bergerak. Imajinasinya melanglang buana.

"bagaimana caramu membagikan energi cinta?"
 Kali ini ia terdiam. Terjebak dengan tulisannya sendiri. Dalam kesedihannya yang dalam, sang hati berbisik,

"Dengan mudah memberi kepada siapa saja. Maafku. Termasuk kepada Pak Jaja"

Air mata mulai jatuh satu persatu. Dalam kelemahannya, ia berusaha bersikap seharusnya makhluk Allah bersikap. Sebagai bentuk besarnya rasa cinta yang ia miliki kepada sang pemilik Akhlak, Rasulullah. Setelah dirasa baik, tulisanpun dipostingnya.
Seolah ingin memaksa logikanya yang belum kunjung berdamai, ia teringat petikan kalimat yang didengarnya dari seorang penyiar radio beberapa hari lalu.Cinta itu menyinari. Ibarat Matahari dan Bulan selalu bersinar tulus meski awan menutupi. Lantas, apa susahnya meniru Bulan?

Selang beberapa menit, Mumu yang belum siap keluar toilet membaca sebuah komentar aneh dari salah satu pengunjung blog.
" Kapan anda betul-betul mencintai?"
Ia kaget tak kepalang. Diluar dugaan ia mendapat respon aneh yang menggelitik emosi sedihnya. Aku kan mencurahkan kekesalanku pada Pak Jaja. Kok jadi bertanya begini. Dalam benaknya, ia bertanya.

Kali ini ia menjawab dari sudut pandangnya sebagai seorang janda dari penjual ayam yang baru meninggal dua bulan lalu.

" Ketika Ia mulai menerima kekuranganku"

Yap. Pak Gendo merupakan sosok suami sempurna di mata Mumu. Meski bertubuh tambun, ia mampu mencurahkan cintanya dengan tulus terhadap Mumu muda yang kala itu sedang labil dengan kondisi keluarganya yang broken home. Ingatannya liar mengenang romantika cintanya dengan pak Gendo.

Tiba-tiba, matanya terhenti pada komentar berikutnya.
" Apa saja yang anda cintai?"
Kali ini Mumu beruasaha mengembalikan kewarasannya.
" Buku, Musik, Cemilan, Dll".  Balasnya.

" Siapa saja yang kamu cintai dan berapa harga cintamu?"
Mumu yang mulai kewalahan merespon pengunjung aneh ini, berusaha menjawab dengan jujur.
" Suamiku, Anak-anakku, Kedua orang tuaku, Mertuaku, Sahabat- Sahabatku, dan lain sebagainya. Cintaku pada mereka tak terhitung batasnya. Sama seperti Matahari yang selalu bersinar meskipun awan menutupinya."

Jawaban panjang mengakhiri tulisannya. Ia segera memasukkan HP pintarnya ke dalam saku. Takut Pak Jaja datang dan menegurnya kembali.
-----------------------------------**--------------------------------

Angin pagi yang masih menyisakan aroma embun, kini menemani Mumu yang tengah berjibaku beberes rumah. Hari Minggu kali ini tak ingin terlewati begitu saja. Semalam Pak Jaja menghubunginya lewat telepon, mengabarkan ia dan keluarga ingin bersilaturrahmi ke rumahnya. Pak Jaja yang keras, kini mulai lembut padanya. Pak Jaja dan isteri ingin memberi bingkisan bantuan untuk buah hati Mumu berupa beasiswa sekolah agar mereka tidak putus sekolah.

Berulangkali ia berucap hamdalah, tanda syukurnya pada sang pencipta. Buah kesabarannya sebagai karyawan toko sepatu tempat ia bekerja.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...