Skip to main content

Aku dan bajuku



Setiap orang akan mati bersama dengan apa yang dicintainya. Maka apa yang kau cintai?

Hai, namaku Rinai. Aku adalah isteri kedua dari seorang pedagang beras. Menurut orang yang mengenaliku, aku adalah seorang isteri yang beruntung karena dipersunting oleh pak Ai, pedagang terkaya di kotaku.

Dengan pencapaian omzet yang tinggi, mereka mengira pak Ai dapat memenuhi semua keinginanku termasuk mengoleksi pakaian bermerk. Namun apalah daya, hidup selalu sawang sinawang. Apa yang mereka kira, tidak seperti realitanya.

Setiap kali aku mengajaknya mengunjungi sebuah butik, si Mbak dan anak-anaknya alias sang isteri tua berusaha menghalangiku. Banyak cara yang telah mereka lakukan hingga terkadang aku berada diambang keputus asaan.

Namun, sebagai isteri muda aku tak mau kalah strategi.

" Mas, pulangkan saja aku! Kita cerai sekarang. Titik!" Ucapku saat itu.

Suasana yang tadinya hangat tiba-tiba hening.
"Mbak dan anak-anakmu sepertinya tidak mau menerimaku"  tambahku dengan wajah yg kubuat sesedih mungkin. Biasanya laki-laki paling tidak tahan melihat perempuan sedih.

" lo say, ya jangan gitu lah. Kan kita baru nikah 5 hari lalu. Apa kata dunia nanti bila mereka tahu kalau kita cerai? "

Pak Ai berusaha menahan Rinai. Kali ini posisi duduk mereka semakin berdekatan.
"Aku kan sudah janji mau ajakin kamu ke singapura, Hemmm?" bujuk pak Ai tak mau kalah dengan jurus Rinai.

"Tapi kapaan? pergi ke butik buat beli beberapa baju incaranku saja susahnya minta ampun. Apalagi ke Singapura?" keluh Rinai dengan suara yang sedikit dimanja-manjain.

Sambil mengelus rambut panjang Rinai yang terawat dan wangi, Pak Ai berusaha meringankan uneg-uneg yang sempat terluap tadi.

" Sabar Ya! Liburan semester kan sudah dekat nih. Ibu dan anak- anak berencana pergi berkunjung ke rumah neneknya, dan saat itulah kita pergi ke butik manapun yang kamu suka."

"Bener g bohong?" " kalau gagal lagi, aku pulang nih." Rinai sedikit mengancam padahal dia juga tak mau lepas dari pria kaya itu.

"Iya iya..apa sih yang enggak buat kamu." jawab pak Ai genit seraya mencubit manjah dagu Rinai yang indah.

----------------------------------*****------------------------

Rinai adalah seorang perempuan cantik yang tumbuh dengan kehidupan serba instan. Sejak kecil ia tumbuh dengan kasih sayang dan perhatian kurang dari kedua orang tua. Nenek adalah satu-satunya orang yang perduli terhadapnya. Pasca cerai,  Ibu Rinai memutuskan untuk menjadi seorang TKW di negeri orang. Ayahnya yang masih muda, beristeri lagi dengan seorang janda di kampungnya.

Awalnya, Rinai tumbuh menjadi anak yang mandiri. Di umurnya yang ke 14 tahun, di saat anak seusianya sibuk aktif di bangku sekolah, Ia sudah mampu memenuhi kebutuhannya dan nenek dari bekerja sebagai seorang pramuniaga di toko kosmetik.

Tak jarang, Rinai juga diminta membersihkan rumah sang pemilik toko sehingga bayaran yang diterimapun dirasa lebih dari cukup.

Hidup di kota tempat asal sang ibu telah banyak mempengaruhi karakter Rinai sebagai anak desa yang lugu. Dengan rambut di cat kuning dan baju serba minim adalah pakaian khas yang sudah terbiasa ia kenakan sejak bekerja di toko itu.

Lingkungan bebas khas perkotaan menjadi bagian penting yang berperan dalam membentuk karakternya. Hidup dengan seorang nenek yang mulai renta dan tanpa pantauan orang tua menjadikan Rinai tumbuh sebagai remaja kurang aturan. Di usianya yang masih belasan tahun, ia sudah tahu rasanya pacaran, tersakiti bahkan ternodai. Ibarat layang-layang, lebih sering mengulurkan tali dari pada menariknya sehingga sering layang-layang nyaris hilang dan lepas dari talinya.

-------------------------*****--------------------

" Mas hari ini antarkan aku ke toko jamu ya!" Ajak Rinai di seberang telepon.

"Lo say, jamu minggu lalu sudah habis ya? Bukannya kamu beli banyak waktu itu? Tanya Pak Ai penuh tanya.

" Ada beberapa bahan jamu yang lupa aku beli tuh " Jawab Rinai datar.

Salah satu keunikan Rinai yang membuat Pak Ai luluh dan klepek-klepek adalah  lihai menjaga kecantikan dirinya. Ia tidak hanya pandai berdandan dan rajin ke salon. Ia pandai merawat diri sehingga Pak Ai sangat betah berlama-lama dengannya.

Sebagai isteri muda, Rinai tidak ingin terlalu lama berjauhan dan kehilangan asset berharganya. Yap. Dia menyebut Pak Ai suaminya dengan sebutan ATM berjalan. Bukankah selama ini prinsip simbiosis mutualisme sudah berlaku diantara mereka. Rinai tidak pernah menyesali tindakan negatifnya meski terkesan ia berbahagia di atas penderitaan wanita lain. Toh, Pak Ai bukanlah sosok yang mudah diperrebutkan. Pikir Rinai.

---------------------*****------------------------------

Hari libur telah tiba. Kesempatan yang ditunggu datang. Rinai tidak ingin acara special yang telah lama diimpikan berlalu sia-sia. Ia mempersiapkan segalanya dengan baik. Mulai dari pakaian, tas, sandal serta beberapa pernak-pernik pelengkap busana.

Ingatannya kembali pada sebuah kenangan pertama kali bertemu dengan Pak Ai. Waktu itu sebagai seorang karyawan toko baju,  Rinai dituduh menggelapkan beberapa pakaian mahal oleh pemilik toko.

Dalam kondisi terpuruk karena sang ibu wafat akibat disiksa majikan dan wafatnya sang nenek yang nyaris bersamaan, Rinai tidak dapat berbuat lebih untuk membela diri.

Kala itu Pak Ai merupakan salah satu mitra kerja pemilik modal turut berempati terhadapnya. Sehingga semua barang hilang diganti rugi atas nama Pak Ai secara kontan. Pertemuan itulah yang mengantarkan mereka pada sebuah hubungan suci se- Iya se-Kata meski posisinya sebagai isteri muda.

Berdua mereka menelesuri sebuah jalan perkotaan dengan mobil matic baru Pak Ai. Keduanya bagai pasangan sejoli yang baru merasakan cinta. Meski usia mereka terpaut 10 tahunan jaraknya, tidak dapat mengurangi suasana hangat hari itu.

Setibanya di sebuah butik, saat Rinai tengah sibuk memilih pakaian,
"Loh kamu ngapain ke sini?" Bu Mirna, isteri tua pak Ai yang tengah mengantar kerabatnya berbelanja diam-diam muncul dari arah belakang keduanya.

Karena Rinai tak menjawab, ia pun bertanya pada sang suami.
"Pa, bukannya papa mau menyiapkan acara meeting dengan para petani beras nanti malam? Kok malah di sini?"

,"Nganu mah, ada sesuatu yang harus dibeli. Jadi kita sekalian mampir ke sini." Pak Ai membela diri.

"Papa kok melanggar kesepakatan sih. Kita kan sudah sepakat untuk tidak membawa Rinai ke tempat umum begini. Bikin malu aku aja."
Dengan emosi yang membuncah, bu Mirna berusaha menghaluskan suaranya agar tidak terdengar sang pemilik butik, teman arisannya.

"Saya yang minta ke sini kok bu." Jawab Rinai berusaha melindungi pak Ai dari kemarahan bu Mirna.

"Diam!..Kamu Lagi..di keluarga ini, kamu hanya numpang. Statusmu tak lebih hanya sebagai perusak kebahagiaan orang."

" Harusnya kamu tau diri bagaimana etika orang numpang."
Dengan menunjuk wajah Rinai, bu Mirna serasa ingin melahapnya begitu saja.

"Mah, sudah mah...sudah..." Pa Ai mendatangi bu Mirna untuk menenangkan.

" Sudah bagaimana pa, perempuan ini makin hari makin bertingkah. Sekarang ajakin papa ke sini. Besok? Dia akan meminta yang jauh lebih banyak." bu Mirna semajin tidak bisa menahan amarahnya.

"Andai kau tahu kekurangan suamiku dulu, kau tidak akan sudi menjadi isterinya."

Rinai seketika menjatuhkan barang yang dipegangnya dan segera lari ke luar menghindari mereka. Perasaannya terluka. Ia lari secepat  kuda.tak perduli dengan keramaian transportasi di sekitarnya. Hingga akhirnya ...Brakkkk.....sebuah minibus berkecapatan tinggi menabraknya dari samping hingga kepalanya berlumur darah.

"Rinaaaaaai...." Pak Ai yang mengikuti Rinai jatuh pingsan hilang kesadaran.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...