Skip to main content

Karena Bermain Adalah Kebutuhan




Siang itu panas mentari menyengat kulit,
Membuat semua mata orang menyipit
Sebagian besar dari kami beristirahat
Membuang lelah  dan rasa kantuk berat

Namun, hal ini tidak berlaku bagi sebagian anak-anak aktif
Meski siang tetap saja mereka melakukan hal-hal positif
Seperti berenang dan bersepeda bersama
Bersenda gurau dan bercengkrama
Termasuk Iqbal anakku yang pertama.

" ibu kenapa sih, Iqbal kan cuma mau main. Kenapa Iqbal g dibolehin main? Iqbal hanya mau mencari ikan?
Iqbal hanya mau berenang.
Iqbal hanya mau bermain".
Beberapa rentetan keluhan ia luapkan padaku siang itu sepulang dari sungai yang baru ini sering ia kunjungi, bersama dengan beberapa teman kelasnya.

Dengan tangis yang tak bisa dibendung bak Lava yang keluar dari gunung merapi, ia beringsut keluar bergegas membawa sepeda ontelnya kembali.

Selang beberapa menit kemudian,
" Iqbal, nak! Jangan jauh-jauh mainnya. Ayo sholat dhuhur dulu. Sebentar lagi madrasah" kejarku berlari secepat kuda. Aku terdiam termangu, pikirku berkata yah tertinggal lagi. Sudah hilang orangnya. Seketika aku pun berusaha memahami karakternya sebagai anak aktif.

Sudah beberapa hari ini Iqbal senang bermain ke sungai kecil bersama teman-teman kelasnya. Entah karena usianya yang sudah 8 tahun, seolah aku masih belum percaya kalau ia mulai besar dan menyikapinya seperti ia masih anak- anak dulu.

Berhubung ia sudah kelas dua SD , aq berencana tahun ini ia harus mulai terbiasa dengan rutinitas padat. Agar ketika belajar di pesantren kelak, tidak kaget dan sudah terbiasa. Maka akupun mengarahkan iqbal untuk belajar di tiga tempat dalam sehari. Pagi sekolah SD, jam dua belajar di madrasah diniyah, saat maghrib mengaji di surau.

Sempat ia mengeluh padaku kalau waktu bermainnya kurang. Namun ku jelaskan alasan arahanku dan memberinya pemahaman bahwa hidup bukan untuk bermain saja.

Ditengah padatnya kegiatan, iqbal berusaha memaksimalkan waktunya untuk bermain. Sehingga siang hari saat sebagian anak-anak tidur siang, ia tidak mau menuruti ajakanku. Jadilah aku ibu beranak dua juga hrus aktif melek. Menyesuaikan waktuku dg kegiatannya. Ketika anak kedua tidur siang, aku tidak boleh tidur juga.  Memantau kegiatan iqbal. Mengetahui apa saja yang dilakukannya siang hari.

Lalu lalang bersepeda di siang hari menjadi hal biasa bagiku mencari keberadaan iqbal yang bermain di area agak jauh dari rumah. Untuk memastikan posisinya bermain.

Aku tak ingin memelihara kekhawatiran berlebihan padanya yang dapat membatasi kebutuhan pentingnya sebagai anak-anak yaitu bermain. Yah, bermain bagi anak seperti bekerja bagi orang dewasa. Mereka butuh menyalurkan kreatifitas dan idenya pada sebuah permainan yang menyenangkan sehingga otak dan hatinya berada dalam suasana bebas tanpa tekanan.

Aku bukanlah tipikal orang tua yang mudah mengeluarkan jangan pada anak. Karena efek kata jangan menyisakan hukum berbalik pada siapapun. Artinya semakin kita bilang jangan, biasanya semakin menjadi untuk melakukan larangan tersebut.

Akhirnya, saya berusaha memahami terlebih dahulu keinginan anak. Menanyakan perihal keinginannya, bahaya dan tidaknya keinginan itu. Jangan sampai kata jangan justeru membatasi ruang geraknya dalam bersosial dan bermain sehingga membunuh kebahagiaannya sebagai anak.
------------------------*****-----------------------

Esok paginya, saat mentari menunjukkan keindahannya.
" ibu mau mandi di cungai".
Pinta Ridwan anakku yg kedua.
"Eemmhh,, adek mandi di sini saja ya"
Pintaku mengalihkan ajakannya.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...