Semangkuk kopi sangrai dengan asap masih mengepul tanda biji kopi siap dihaluskan. Aroma khasnya memikat penciumanku untuk semakin berani mendekatinya.
Ku tatap pekatnya biji kopi itu serasa memaksaku untuk mencoba memakannya meski hanya sebiji.
Namun apalah daya, si tangan menahan mulutku untuk ku buka. Seolah ingin menyampaikan pesan kalau ini butuh dihaluskan terlebih dahulu. Kalau makan bijinya, pahit. Memang aromanya mantab tetapi pahit. Sabar deh.
Segera tanganku mengambil penghalus kopi dan memproses bebijian itu menjadi bubuk.
Ku raba bubuk itu apakah sudah halus ataukah masih butuh diproses lagi. Akh ternyata bubuk siap diolah menjadi minuman pembuka hidangan para tamu.
Setelah itu, segera tanganku menyambar gula, sendok dan cangkir. Oiya, air panas tentunya.
Ku aduk pelan semua bahan yang telah bercampur agar minuman menghasilkan testy yang sangat ku inginkan. Maklum, sudah lama tidak minum kopi sekalinya buat harus sempurna.
Ku cicipi minuman itu sedikit demi sedikit karena panas. Ntar lidahku kepanasan lo. Dan hasilnya, Emmmh...Perfecto!
Aromanya kian memggugah selera untuk segera ku teguk. Tapi sabar. Masih panas.
Sesekali mataku beralih ke layar TV untuk melihat acara termehek mehek yang mulai seru.
Sementara, pelan-pelan ku minum kopi itu hingga habis tak tersisa. Beberapa menit kemudian,
" Bu, kopinya sudah jadi? Kerkaanku hampir selesai nih kopi kok gak keluar-keluar dari tadi?" tanya suamiku dari arah belakang.
Oh my god, seketika aku tersadar. Aku kan puasa kok bisa?
# Tugas panca indera
Comments
Post a Comment