Skip to main content

Kopi oh Kopi



Semangkuk kopi sangrai dengan asap masih mengepul tanda biji kopi siap dihaluskan. Aroma khasnya memikat penciumanku untuk semakin berani mendekatinya.

Ku tatap pekatnya biji kopi itu serasa memaksaku untuk mencoba memakannya meski hanya sebiji.

Namun apalah daya, si tangan menahan mulutku untuk ku buka. Seolah ingin menyampaikan pesan kalau ini butuh dihaluskan terlebih dahulu. Kalau makan bijinya, pahit. Memang aromanya mantab tetapi pahit. Sabar deh.

Segera tanganku mengambil penghalus kopi dan memproses bebijian itu menjadi bubuk.
Ku raba bubuk itu apakah sudah halus ataukah masih butuh diproses lagi. Akh ternyata bubuk siap diolah menjadi minuman pembuka hidangan para tamu.

Setelah itu, segera tanganku menyambar gula, sendok dan cangkir. Oiya, air panas tentunya.

Ku aduk pelan semua bahan yang telah bercampur agar minuman menghasilkan testy yang sangat ku inginkan. Maklum, sudah lama tidak minum kopi sekalinya buat harus sempurna.

Ku cicipi minuman itu sedikit demi sedikit karena panas. Ntar lidahku kepanasan lo. Dan hasilnya, Emmmh...Perfecto!

Aromanya kian memggugah selera untuk segera ku teguk. Tapi sabar. Masih panas.

Sesekali mataku beralih ke layar TV untuk melihat acara termehek mehek yang mulai seru.

Sementara, pelan-pelan ku minum kopi itu hingga habis tak tersisa. Beberapa menit kemudian,
 " Bu, kopinya sudah jadi? Kerkaanku hampir selesai nih kopi kok gak keluar-keluar dari tadi?" tanya suamiku dari arah belakang.
Oh my god, seketika aku tersadar. Aku kan puasa kok bisa?


# Tugas panca indera

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...