Dulu seorang gadis cantik bernama Laras pernah mengimpikan kalau hidup itu sebenarnya tidak perlu muluk-muluk. Banyak keinginan justru menambah beban untuk mewujudkannya. Lebih baik hidup sederhana dengan orang yang mau menerima apa adanya daripada bertahan dengan seseorang yang dicintai namun selalu bikin hatinya lelah.
Diakui secara fisik, Rio sangatlah gagah. Dengan penampilannya yang selalu tampil wah,membuat para wanita diam-diam mengejarnya. Namun setelah mereka berdua resmi berpacaran, apakah Rio memperdulikan mereka ataukah lebih memilih Laras sang kekasih hatinya?
Ternyata tanpa sepengetahuan Laras, Rio suka memberi harapan palsu kepada para gadis itu. Sementara Laras begitu bodohnya dia saat itu, yang sangat terpikat dengan segala kepalsuannya. Mau saja ya Laras mengerjakan semua tugas kuliah Rio. Demi apa coba?
Mungkin cintanya pada Rio dalam sekali sedalam sumur bu Pur di desa tetangga. Hingga hampir tiap kali Rio berbuat salah, Laras tidak pernah bisa marah.
Pernah sekali waktu dari gregetnya teman-teman Laras padanya, mereka penasaran ingin mengetahui berapa lama Laras dapat marah pada Rio bila sang pujaan hati mulai berlaku salah padanya. Faktanya, tiga puluh menit dari kemarahan Laras, mereka sudah baikan lagi. Akh...cinta...
Hingga akhirnya Allah menunjukkan kuasaNya, membuka mata Laras yang tengah merasakan cinta buta trntang kelakuan Rio yang tidak pernah diduganya selama ini.
Hancur lebur hati gadis itu serasa ingin lari dan enggan menyelesaikan skripsi. Beruntung Laras dikelilingi sahabat super baik. Meski jatuh bangun, ia dapat merampungkan Skripsi, mengikuti sidang dan wisuda.
Di malam-malam berikutnya, air mata tidak berhenti mengalir, bertanya kepada Yang memiliki hati, mengapa setega itu Rio kepadanya? Dalam perenungan, ia mulai paham bahwa apa yang disuka belum tentu baik baginya dan apa yang dibenci belum tentu buruk baginya.
Angannya terus menerawang menembus pekatnya mendung hitam yang bergayut di langit kampus saat itu. Logika tak lagi digubrisnya hingga sebuah impian sederhanapun muncul.
Bahwa suatu ketika kelak dia akan tinggal di tempat dengan penuh kesederhanaan namun cinta tak pernah habis mengisinya. Saling menyayangi dengan tulus karena Allah. Itu semua merupakan hal yang tidak dapat dibeli oleh apapun kecuali murni pemberian Allah yang sangat menyayanginya.
Suatu malam pada sebuah do'a terpanjangnya, Laras melantunkan sebuah pinta. Kira-kira begini isinya,
"Tuhan, bila Rio bukanlah jodohku, kirimkan aku sosok yang mau menerima aku apa adanya. Kirimkan sosok yang bila berjauhan dariku, tidak membuatku curiga. Kirimkan sosok yang tulus mencintaiku apa adanya." Laras menutup doanya dengan sebuah harapan yang benar-benar keluar dari hati terdalamnya.
Hingga akhirnya dua minggu setelah berdo'a, hadirlah seorang teman sealumni di pesantren dulu ingin memadu kasih dengannya. Raihan namanya. Segala perhatian ia curahkan namun Laras yang sudah hancur seperti Ambulance rusak enggan menanggapinya. Ia hanya bilang, bila ingin serius, langsung saja datangh ke rumah untuk melamarnya.
Tanpa diduga, ucapan itu ditanggapi serius oleh Raihan. Beberapa lama dari itu, ia dan keluarga melamar Laras yang kala itu masih tinggal di kota trmpat ia kuliah. Mereka resmi bertunangan selama setahun guna memberi waktu kepada kedua orangtua menyiapkan materi pernikahan.
Tibalah waktu yang ditunggu saat dua keluarga melebur menjadi satu karena keinginan dua sejoli untuk menyempurnakan separuh agama Allah. Diantara untaian do'a para undangan yang hadir, terselip mimpi yang akan mereka bangun setelah acara pernikahan.

Comments
Post a Comment