Skip to main content

Liburan yang Tak Dirindukan


Bulan Januari adalah bulan pertama yang mengawali setiap pergantian tahun. Di dalamnya terdapat asa, cita-cita dan do'a agar di bulan-bulan berikutnya terajut kisah manusia dengan indah.

Nathan, salah satu pengusaha muda berbakat tengah melakukan perjalanan jauh ke sebuah kota kecil demi sebuah urusan kerja yang harus diselesaikan. Karena jarak tempuh yang jauh itu ia memutuskan bermalam di sebuah hotel terbaik kota itu.

Di waktu yang bersamaan, Yona seorang janda muda sedang melancong ke kota itu guna terapi penyembuhan akan sakitnya sebuah kehilangan lantaran kematian suami tercintanya lima bulan lalu. Di hotel yang sama dengan Nathan, janda cantik itu melewati malamnya untuk beberapa hari.

---_---------------------------****------------------------------

Pagi cerah dengan sinar mentari yang agak tertutup awan, Yona memulai perjalanannya dengan menyeduh secangkir teh hangat di ruang makan hotel itu.

Keindahan parasnya kian memikat dengan maxi dress tipis berwarna milo terpadu dengan cardigan kuning kesukaannya. Pashmina hijau terlingkar manis di leher menegaskan wajah oval dan hidung mancung janda berdarah blesteran itu.

Ketika Yona mulai menikmati hangatnya teh manis, seorang waitress berjalan ke arah kursinya dengan sepiring Roti bakar panas. Ia meletakkan hidangan itu di meja Yona yang tampak bingung.

"Pesanan siapa mbak?"

Tanya Yona.

Dengan senyum ramah khas seorang pelayan, si waitress menjawab,

"Bukankah ini pesanan anda tadi?"

Dalam waktu bersamaan seorang laki-laki yang tengah sibuk dengan Gawai dari sudut ruang, arah berlawanan dengan meja Yona, bertepuk tangan beisyarat kepada waitress kalau ia salah meja.
"Mbak, itu pesanan saya!.
Dengan tersipu malu si Waitress meminta maaf dan langsung mengantarkan hidangan itu ke pemesannya.

Sejenak mata Nathan dan Yona beradu pandang. Nathan terkesima dengan paras Yona bak bunga edelweis yang mekar di penghujung musim hujan.

Yona dengan cueknya, segera bergegas menuju pintu keluar berjalan menelusuri taman halaman hotel menunggu Taxi yang akan membawanya ke jalan pusat perbelanjaan kota itu.

Setibanya di jalan tujuan, Yona merapikan pashmina yang mulai lepas dari lehernya. Selang berapa detik, sebuah Taxi berhenti tepat di belakang Yona. " Wah, sebuah kebetulan ini!" pikir Nathan ketika itu.

"Mbak, boleh tau hendak kemana?" Tanya Nathan menyamai langkah Yona.
" Saya mau membeli beberapa potong pakaian khas kota ini untuk oleh-oleh" Yona menjawab tegas terlihat malas menanggapi sapaan Nathan.

Ketika mereka berjalan beberapa langkah,  tiba-tiba sekelompok pengamen datang mengitari mereka berdua. Dengan menyanyikan lagu Rendy Pandugo yang berjudul Silver Rain, mereka mulai beraksi.

🎢🎡 When i met you we were ten
 Even though things were different then,
i still get the bu5erflies around you
 i get weak down to my knees 🎢🎡

Mereka berdua terbawa alunan lagu yang diiringi suara gitar dan tepukan tangan beberapa remaja pengamen itu. Sang vokalis menyodorkan dua kuntum bunga untuk Nathan dan Yona,
" Untuk pasangan bahagia hari ini"
Ucapnya sambil nyengir kuda.

Tanpa menunggu lama Nathan segera mengeluarkan beberapa lembar uang untuk mereka. Nathan menatap Yona yang bingung dengan status mereka karena tidak seperti anggapan pengamen itu.
"Simpan saja! Anggap itu kenangan dariku untukmu".
Seru Nathan yang mengekori langkah Yona dari belakang.

Rencana Nathan menyelesaikan urusan kerja hari ini teralihkan oleh pertemuan mereka yang penuh drama romantis. Seolah alam turut mendukung pertemuan ini.

Berdua mereka berjalan menelusuri pusat perbelanjaan itu. Sekali waktu terdengar gelak tawa Yona karena cerita kocak Nathan.

Hari berlalu begitu cepat hingga sore tiba. Kedekatan mereka kian menjadi ketika Nathan mengajaknya berselphi bersama di atas jembatan sebuah sungai dengan panorama alam yang indah.

Hingga matahari mulai menghilang di bawah garis cakrawala barat, mereka terjebak hujan pada sebuah area wisata yang tampak sepi pengunjung. Mereka pun memutuskan berteduh sejenak menghindar dari derasnya air hujan dan kerasnya angin saat itu.

Beberapa menit duduk bersama, rasa suka menyeret mereka melakukan hal lebih dari sekedar teman. Tak puas di situ, mereka melanjutkan gejolak cintanya di salah satu kamar hotel tempat mereka tinggal.

Sekitar jam 02.00 dini hari, gawai Nathan berdering keras. Setengah mengantuk ia langsung menekan tombol Yes dan terdengar nyaring suara seorang anak balita yang sibuk bertanya di seberang sana.
"Ayah kapan pulangnya?"
"kalau pulang, Loli belikan mainan Barbie ya!"

Sontak Nathan yang tengah berbaring di sebelah Yona terperanjat bangun. Ia khawatir suara Yona terdengar puteri kecil yang tengah menelponnya.
"Segera Ayah pulang, Nak!"

Yona, dengan mata sedikit membelalak menyerangnya dengan beberapa kata tanya yang tak mampu seorang Nathan jawab kala itu.
"Kamu sudah berkeluarga?"
"Mengapa kamu tidak bilang dari tadi?
"Ada seorang isteri setia menunggumu di sana, dan kamu?"
Dengan tubuh yang hanya ditutupi selembar selimut Yona berdiri penuh luapan emosi kemarahan.

Nathan yang kini terpojok, hanya sanggup berucap,
"Maafkan Aku! Aku tak berniat begini. Aku akan mempersuntingmu sebagai isteri keduaku. Apakah kau mau?"
Kali ini Nathan bersimpuh di kedua kaki Yona, yang masih belum percaya dengan status asli Nathan.

Segera ia menarik kakinya menjauh.
"Tega kamu ya! Berlaku begini padaku. Hanya mentang-mentang aku seorang janda lantas kau berani semena-mena padaku?"
Yona segera melempar sepatunya ke arah Nathan.
"Tak semudah yang kau putuskan. Andai kau jujur sejak awal, kita tak akan berakhir begini."
Air mata mulai jatuh membasahi pipi putih Yona.

Nathan yang kala itu menyadari kalau hubungan itu dilakukan atas saling suka tidak mau terima begitu saja atas sikap Yona yang menyalahkannya sepihak.
"Yona, bukankah tadi kita sepakat kalau kita saling suka? Mengapa kau menyudutkanku seolah kesalahan aku yang mengawali?"

Yona dengan badan yang masih terbungkus selimut seketika mengambil semua barang-barangnya dan berlalu keluar menuju kamarny sendiri.
Brakkkk...suara bantingan pintu terdengar keras meninggalkan Nathan yang penuh sesal seorang diri.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...