Skip to main content

Rengekan si Adek


Tiap kali saya membuka HP, si adek selalu berucap, " Apa itu , ya?". Kalimat tanya dengan ribuan penafsiran. Apakah ia mengajukan pertanyaan sebagai ungkapan komplein? Ataukah memang murni bertanya? Ataukah pura-pura bertanya agar diberi ijin akses membuka youtube?

Sejak tahun lalu saya dan suami bersepakat mengurangi penggunaan HP bagi anak-anak. Artinya, sebagai orang tua, kita harus memberi tauladan terlebuh dahulu berupa mengurangi intensitas penggunaan HP di hadapan anak-anak. Hal itu lebih efektif dari pada hanya sekedar melarang.

Anak adalah peniru ulung orang tua. Untuk membiasakan hal positif pada mereka, lebih efektif dengan sistem memberi contoh secara langsung dari pada ngomel panjang lebar bikin bibir dower tak berpahala.

Sama ketika kita menginginkan anak dapat mengerjakan shalat lima waktu dengan baik. Cara efektif untuk itu ya dimulai dari orang tua sebagai orang terdekat memberi contoh bagi mereka.

Penggunaan HP baru saya berikan ketika beradala dalam kondisi sibuk dengan kewajiban domestik seperti membersihkan rumah, mencuci baju dan melipat pakaian. Ketika si adik mulai jenuh karena terlalu lama saya biarkan bermain sendiri, biasanya ia mulai merengek tidak jelas.

Semua mainan terdekat menjadi bahan lemparan. Seolah ingin menunjukkan " Ibu, aku butuh diperhatikan." " Ibu, aku butuh ditemani."

Kejadian demikian berasa sangat mengenaskaan bila cucian kita belumbtuntas, lipatan baju bari terlipat separuh, sampah sayur dan kulit bumbu bertebaran di dapur tercinta dan terakhir cucian piring yang belum teratasi sehabis sarapan pagi. Serasa seperti kapal pecah ya?

Langkah terakhir yang saya lakukan adalah memutarkan beberapa video anak di aplikasi youtube agar sejenak ia tenang dan aman. Nah ketika si kecil bersedia untuk anteng sebentar, cuss segera selesaikan tugas-tugas rumah dengan cepat. Selagi suamu dan si kakak belum pada datang .

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...