Bila memasak adalah sebuah seni pengobat kegalauan sekaligus pelipur lara, dengan apa kita mampu mengukur rasa?
Sudah dua kali Fino memakan habis masakan ibunya yang diantarkan oleh sang adik ipar tadi pagi. Resti tak habis fikir, dari segi tampilan, masakan tersebut serasa sama dengan buatannya. Apa karena itu masakan sang ibu? Awalnya ia berusaha memaklumi sikap Fino. Tetapi semakin kesini semakin muncul sebuah tanya.
Resti yang baru dua bulan menyandang status resmi isteri pegawai bank, memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga full. Kondisi kehamilan yang baru berusia empat minggu mununtutnya untuk segera resign dari pekerjaan dan bedrest total.
Banyak aktifitas yang dikerjakan dalam masa penyesuaian dengan rutinitas baru. Berbagai buku resep ia beli untuk mengisi waktu kosongnya nanti.
Pada awalnya, dua kali Resti menghidangkan masakannya kepada suami tercinta mendapat respon positif. Terbukti dua kali ia memasak, dua kali habis tak tersisa.
Namum belakangan, ini kali ke tiga Resti membuang sisa makanan di samping rumah. Sempat terbersit tanya, apakah rendang itu tidak enak? Atau tumisanku yang kurang matang? Ataukah kurang bumbu? Akh yang jelas perasaannya kian galau saat usahanya tidak direspon positif.
Beberapa kali ia menghubungi sahabatnya tiap kali memulai memasak. Bertanya takaran masing-masing bahan, bumbu dan tingkat kematangan. Bahkan hingga ditunjukan lewat video call. Tujuannya agar hidangan tidak mengecewakan suami tercinta, Fino.
Namun hasilnya tetap sama. Fino terlihat tidak selera saat menyantap hidangan yang menurutnya special. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari tahu rahasia sang mertua dalam mengolah masakan.
Resti mulai mengintai sang ibu mertua yang tengah sibuk berjibaku di dapur. Sang mertua yang sudah mulai menua, sangatlah suka memasak. Hampir tiap kali mereka berkunjung ke sana, Resti dihidangkan menu makanan khas yang tidak ia temukan di rumah-rumah makan.
Saat Resti tengah sibuk membantu, matanya tidak pernah luput dari segala yang dilakulan sang ibu mertua. Ia tidak menemukan hal lain dari proses memasak. Semua sama layaknya Resti memasak. Lalu, apa yang mmbuat Fino selalu melahap habis masakan ibunya?
Akhirnya Resti memberanikan diri bertanya barangkali ada resep rahasia dipakai sang mertua. Setelah mendengar beberapa keluhan selama ini tentang respon Fino terhadap masakannya, sang ibu mertuapun memberi rahasia khusus.
" Masaklah dengan cinta. Bukan dengan keterpaksaan. Karena memasak dengan cinta akan menghasilkan masakan nikmat dan lezat tiada tara".
Restipun terpana dengan nasehat bijak sang ibu mertua. Prasangka berlebihan selama ini hilang seketika. Ternyata sang ibu mertua memasak dengan cinta hingga yang memakanpun dapat merasakan kedahsyatan cintanya.
Seketika terlintas tanya di benaknya, besok masak apa ya agar Fino menyantapnya habis?
Sudah dua kali Fino memakan habis masakan ibunya yang diantarkan oleh sang adik ipar tadi pagi. Resti tak habis fikir, dari segi tampilan, masakan tersebut serasa sama dengan buatannya. Apa karena itu masakan sang ibu? Awalnya ia berusaha memaklumi sikap Fino. Tetapi semakin kesini semakin muncul sebuah tanya.
Resti yang baru dua bulan menyandang status resmi isteri pegawai bank, memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga full. Kondisi kehamilan yang baru berusia empat minggu mununtutnya untuk segera resign dari pekerjaan dan bedrest total.
Banyak aktifitas yang dikerjakan dalam masa penyesuaian dengan rutinitas baru. Berbagai buku resep ia beli untuk mengisi waktu kosongnya nanti.
Pada awalnya, dua kali Resti menghidangkan masakannya kepada suami tercinta mendapat respon positif. Terbukti dua kali ia memasak, dua kali habis tak tersisa.
Namum belakangan, ini kali ke tiga Resti membuang sisa makanan di samping rumah. Sempat terbersit tanya, apakah rendang itu tidak enak? Atau tumisanku yang kurang matang? Ataukah kurang bumbu? Akh yang jelas perasaannya kian galau saat usahanya tidak direspon positif.
Beberapa kali ia menghubungi sahabatnya tiap kali memulai memasak. Bertanya takaran masing-masing bahan, bumbu dan tingkat kematangan. Bahkan hingga ditunjukan lewat video call. Tujuannya agar hidangan tidak mengecewakan suami tercinta, Fino.
Namun hasilnya tetap sama. Fino terlihat tidak selera saat menyantap hidangan yang menurutnya special. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari tahu rahasia sang mertua dalam mengolah masakan.
Resti mulai mengintai sang ibu mertua yang tengah sibuk berjibaku di dapur. Sang mertua yang sudah mulai menua, sangatlah suka memasak. Hampir tiap kali mereka berkunjung ke sana, Resti dihidangkan menu makanan khas yang tidak ia temukan di rumah-rumah makan.
Saat Resti tengah sibuk membantu, matanya tidak pernah luput dari segala yang dilakulan sang ibu mertua. Ia tidak menemukan hal lain dari proses memasak. Semua sama layaknya Resti memasak. Lalu, apa yang mmbuat Fino selalu melahap habis masakan ibunya?
Akhirnya Resti memberanikan diri bertanya barangkali ada resep rahasia dipakai sang mertua. Setelah mendengar beberapa keluhan selama ini tentang respon Fino terhadap masakannya, sang ibu mertuapun memberi rahasia khusus.
" Masaklah dengan cinta. Bukan dengan keterpaksaan. Karena memasak dengan cinta akan menghasilkan masakan nikmat dan lezat tiada tara".
Restipun terpana dengan nasehat bijak sang ibu mertua. Prasangka berlebihan selama ini hilang seketika. Ternyata sang ibu mertua memasak dengan cinta hingga yang memakanpun dapat merasakan kedahsyatan cintanya.
Seketika terlintas tanya di benaknya, besok masak apa ya agar Fino menyantapnya habis?
Comments
Post a Comment