Salah satu keutamaan menghafal al-Qur'an adalah mendapatkan syafaat dari sisi TuhanNya. Bila menghafal al-Qur'an adalah ibadah, Bolehkah kita meniatkan hafalan untuk mendapatkan manfaat dunia?
"A'udzubillahiminasyaitonirrajiim"
"Bismillahirrahmanirrahiim" Lantunan ayat-ayat al-Qur'an mengalir indah dari bibir mungil para pesrta Hafiz Indonesia.
Suasana studio menjadi haru dengan lantunan merdu mereka termasuk sang presenter, Irfan Hakim. Beberapa kali ia tertangkap kamera sedang menyeka air mata haru karena bangga atas kemampuan mereka dengan usia dini mampu menghafal surat-surat pendek juz ke 30 dengan lancar.
------------------------------------*****-------------------------
Saat berqaylulah di ruang tengah, Ibu Ani yang sedang menikmati acara favoritnya, terpukau dengan kemampuan para peserta. Ia berfikir bagaimana agar Rinai sang puteri sulung juga dapat menghafal surat-surat pendek dengan lancar.
Sebagai lulusan pesantren salaf, selama ini, ia dan suami dinilai special di hati tetangga sekitar.
"Rinaii...sini deh" Panggil ibu Ani tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kaca.
"Iya...ada apa ma? Aku sedang mengganti baju Barbie nih" Jawab Rinai dari teras depan rumah.
Tiba-tiba ibu Ani berdiri di depan pintu,
"Nak, coba deh kamu lihat...acara TV nya bagus.."Ajaknya pada Rinai. "cepat naaak" Ibu Ani menarik lengan kurus Rinai yang tengah asyik bermain boneka Barbie. Dengan sedikit malas Rinai mengikuti arah tarikan sang ibu menuju ruang tengah.
Rinai terdiam tidak berkomentar apapun tentang acara itu. Selama ini, tuntutan sang ibu padanya menghafal al-Qur'an juz ke 30, cukup menekan hati dan pikirannya. Berulangkali ia meyakinkan diri kalau itu semua untuk kebaikan dirinya. Meski tetap saja di titik jenuhnya sebagai anak-anak, ia merasa bahwa ini merupakan sebuah paksaan.
"Rinai, bulan depan Romadhan akan tiba. Biasanya, di waktu nuzulul qur'an, ada banyak perlombaan yang diadakan para takmir masjid. Untuk turut memeriahkan itu, kamu ikut lombanya ya!"
Ibu Ani berencana jauh hari agar Rinai ikut lomba.
"Lumayan lo Rin, hadiahnya." ibu Ani menyebutkan hadiah yang akan diperoleh bila menang.
"Rinai belum bisa, ma. Surat al fajr saja baru 20 ayat yang dihafal. Sisanya belum lancar." Seketika Rinai menolak halus ajakan ibu.
"Makanya dari sekarang dimuroja'ah terus..agar lancar!" Ibu Ani tetep tidak mau mengalah. Ia merasa Rinai mampu melakukannya.
"Nanti lah ma, aku pikir kembali." Jawab Rinai sekenanya seolah tidak tertarik dengan rencana ibu siang itu.
Ibu Ani adalah seorang ibu yang penuh semangat dengan segala hal terkait kemajuan sang anak. Sebagai penghafal al-qur'an, ia tidak mau anak-anaknya tertinggal dalam pelajaran al-qur'an. Tidak heran bila ia menggembleng mereka dengan hafalan sedini mungkin. Selain belajar di rumah, Rinaipun disekolahkan di TPQ terbaik di kotanya.
Jadwal belajar yang padat harus Rinai lalui. Pagi hari ia belajar di Madrasah Ibtidaiyah, sore di TPQ dan malam di surau. Belum lagi kewajiban-kewajiban yang diberi sang ibu seperti menghafal beberapa hukum bacaan tajwid dan les bahasa inggris. Ibu Ani merupakan tipikal orang tua perfeksionis. Ia berharap banyak pada puteri sulungnya itu.
Hingga suatu ketika,
"Rinaiii, Ayo nak dimuroja'ah dulu hafalannya!" .
Sore itu ibu Ani yang sedang sibuk menyiram bunga menganggap Rinai lebih banyak bermain dari pada belajar.
"Meski Libur, kamu jangan berleha-leha! Jangan suka menyia-nyiakan waktu, Nak. Kalau tidak, waktu yang akan menggilasmu." Panjang lebar ibu Ani memulai nasehat yang sangat menjenuhkan Rinai.
Dalam ketertekanan, Rinai yang masih duduk di bangku kelas 4, sangatlah butuh waktu khusus untuk merefresh pikiran dan suasana hati. Namun, apalah daya sang ibu tidak peka dan ayahpun terlalu sibuk dengan rutinitas pekerjaannya sendiri.
"Rinaiii" untuk kedua kalinya, ibu Ani memanggilnya dengan nada agak tinggi dari sebelumnya.
Tiba-tiba Rinai menangis sesenggukan dengan membanting Barbie kesayangannya.
"Gak mau ma...Rinai gak mau...."! Tak cukup di situ, ia mulai meluapkan emosi ketertekanannya selama ini,
"Rinai benci al-qur'an...Rinai sangat membencinya...."
Sambil menangis ia bangun dari duduknya dan berlari masuk kamar. Brakkk....bantingan pintu terdengar keras ke halaman rumah.
Ibu Ani yang sebelumnya penuh semangat menasehati Rinai spontan diam seribu bahasa. Diluar dugaan, Rinai nekat berucap dan bersikap demikian padanya. Ayah yang baru pulang kerja tanpa sengaja mendengar suara bantingan pintu. seketika ia mendatangi sang istri bertanya perihal yang terjadi saat itu.
"Begini saja bu, biarkanlah Rinai bebas tidak berkegiatan apapun selama dua hari kecuali sekolah pagi. Untuk sementara tidak usah mengungkit kejadian ini lagi. Anggap saja hari ini tidak pernah terjadi apa-apa. Biarkan dia ungkapkan keluhannya denyan baik." sebagai kepala keluarga, Ayah turut memberi saran kepada sang istri.
Sebagai seorang suami, Ayah Rinai faham terhadap karakter ibu Ani yang sering memaksakan kehendak pada anak-anak. Namun, ia hanya mampu meringankan beban puteri sulungnya dan berharap Rinai sanggup menyesuaikan diri dengan tuntutan sang ibu.
---------------------------*****----------------------------------
Keesokan hari sepulang sekolah, ibu Ani sengaja menyediakan es krim coklat buatan sendiri untuk Rinai guna mencairkan kekakuan mereka. Ia merasa suasana rumah hari itu tidaklah nyaman karena sikap bungkam Rinai. Ibu Ani berharap masalah yang terjadi segera terselesaikan dengan baik.
Keluhan demi keluhan Rinai utarakan di ruang makan siang itu. Sesekali air mata mengalir deras tanpa mampu dibendungnya. Seolah menunjukkan kalau selama ini Rinai tertekan dengan segala tuntutan itu. Hingga akhirnya ibu Ani memutuskan memindahkan Rinai belajar ngaji di malam hari ke surau sahabatnya di desa tetangga.
-------------------------------*****--------------------------------
Sebuah surau dengan tembok bangunan yang belum diplester, berdiri kokoh di halamam rumah pak Khair suami Rani. Beberapa kaca jendela belum terpasang lengkap sehingga udara segar bebas masuk mendampingi para santri belajar mengaji.
Di sekelilingnya tumbuh sayur bayam dan beberapa tanaman lain menambah kesejukan mata yang melihat, ciri khas surau desa. Beberapa gundukan pasir di halaman surau membuktikan bahwa pembangunan belum selesai.
Rinai yang hanya berdua dengan sang ibu, sedang duduk santai di cangkruk kayu yang berdampingan dengan bangunan surau. Mereka berniat mendaftarkan Rinai sebagai santri yang hendak menimba ilmu agama kepada pak Khair suami Rani.
Pak Khair dikenal kezuhudannya di mata warga setempat. Beliau adalah salah satu putera dari seorang kyai pondok salaf di salah satu kota kecil jawa timur. Sudah 15 tahun ia menetap di desa itu sebagai suami Rani, puteri seorang tokoh masyarakat desa tersebut.
Sejak surau berada di bawah bimbingan beliau, kemajuan para santri di bidang intelektual sangatlah pesat. Ilmu agama yang diajarkan sangatlah luas dan dalam. Hal ini terlihat pada kemampuan santri yang masih berusia dini sudah mengenal beberapa ilmu khusus ciri khas kepesantrenan seperti ilmu Nahwu, ilmu sorrof, akidah, akhlak, fikih dan tafsit al-qur'an.
Sementara Rinai mulai akrab dengan Najma puteri pak Khair. Ibu Ani bercerita masalah yang terjadi pada Rinai sebelumnya pada Rani.
"Saya sangat bingung dengan sikap Rinai yang tiba-tiba membenci al-qur'an. Padahal al-qur'an merupakan sebuah kitab suci yang wajib dipelajari oleh ummat islam."
Sambil menerawang jauh ke depan, ibu ani mengungkapkn beberapa harapan pada puteri kecilnya.
" Dengan menghafal beberapa surat pendek akan memberi nilai lebih pada diri Rinai. Ia akan disegani teman-temannya. Selain itu, ia dapat masuk ke SMP Islam dengan bekal hafalannya itu. Tapi ternyata...." air mata mulai jatuh dari kedua mata bulat ibu Ani. Ia tidak sanggup melanjutkan obrolannya karena rasa kecewa terhadap sikap Rinai dua hari lalu.
Sebagai seorang sahabat, Rani paham dengan keadaan ibu Ani.
" apakah kamu sudah menanyakan alasan ia berkata demikian?" tanya Rani seolah tak ingin menilai cepat sikap Rinai. Ibu Ani diam tanpa kata, membiarkan air matanya mengalir deras.
"Kemungkinan, selama ini Rinai merasa tertekan dengan semua tuntutan mu". Rani menyambung obrolannya dengan hati-hati.
"Bukankah tujuan menghafal al-qur'an adalah untuk beribadah. Agar keaslian teksnya tetap terjaga hingga hari kiamat. Tentang kemudahan-kemudahan yang akan diperoleh nantinya menjadi bonus tersendiri bagi si penghafal." Rani mulai menasehati teman dekatnya itu.
"Apa gak sebaiknya kamu mengarahkan Rinai untuk mempelajari alqur'an dan mentadaburinya terlebih dahulu? Karena memahami kandungan al-qur'an, menurutku lebih penting dari pada menghafal. Setidaknya, Rinai mampu mempraktekkan kandungan al-qur'an di kehidupan nyata nantinya."
Ibu Ani yang menangis dalam diam mulai terlihat antusias mendengar. Ia pun menyadari sikapnya selama ini sangatlah membebani Rinai.
" Mendidik akhlak penghafal al-qur'an lebih utama dari pada memaksa anak mewujudkan obsesi kita sebagai orang tua" Rani menutup nasehatnya dengan pesan singkat yang selalu berbekas di hati sahabatnya, ibu Ani.
Sejak hari itu ia pasrahkan niatnya agar Rinai menjadi penghafal al-Qur'an kepada Rani, sahabat bijaknya.
Comments
Post a Comment