Skip to main content

Sebuah Rencana





" Dik, Skarang kamu ya yang jaga bapak! Selama ini Bapak kan sudah lama tinggal denganku. Sejak mas Danu dipecat, perekonomian keluargaku tidak teratur. Bahkan cenderung minus"
Ucap kak Rani ringan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Padahal sejak menikah, kak Ranilah yang dipilih bapak untuk tinggal bersamanya.

Sebagai pengantin baru dengan keadaan ekonomi yang masih morat marit, bapak justeru dengan hangat membuka pintu hatinya lebar-lebar untuk tinggal di rumah beliau termasuk memenuhi segala keperluannya sementara waktu. Hingga tiga tahun pasca menikah, kakak ipar diterima sebagai salah satu karyawan Bank Swasta yang bertugas di salah satu posisi back office bank tersebut.

Gaji bulanan untuk sepasang suami isteri tanpa anak seharusnya mampu mememuhi kebutuhan mereka bertiga termasuk bapak. Namun faktanya, mengapa kak Rani masih terlunta-lunta mencari pinjaman? Seperti banyak beban hutang yang harus dibayar. Hampir semua tetangganya berkeluh kesah padaku tentang hutang kak Rani yang belum lunas dibayat.

Sementara aku, sebagai anak ke empat dengan mengasuh empat anak balita yang dinafkahi dari usaha jual beli kardus bekas pekerkaan suamiku, masak iya aku sanggup menampung satu orang lagi di rumah sempit ini? Untuk makan harian saja sering mengalah pada si kecil, mau nambah satu orang lagi, ah rasanya mustahil.

Pikiranku mulai bergerak kepada kak Luna. Puteri kedua bapak. Kebetulan suaminya adalah pengusaha meubel terbesar di kotanya. Dengan dua anak yang dimiliki, pasti ia mau merawat masa tua bapak. Namun ingatanku tertarik pada kisah luka kak luna 15 tahun lalu.

"Luna, sini kamu!"
Bapak dengan luapan emosinya yang tinggi berencana menghakimi kak luna di hadapannya dan kak maia, saudara kami beda ibu.
"Kenapa kamu berhenti kerja?"
"saat orang berijazah pusing cari kerja, kamu justeru berhenti?" Tanya bapak dengan nada sinis. Kak luna yang kala itu malu karena merasa dihakimi di depan Maia puteri sulung bapak beda ibu merasa tidak ingin menyerah begitu saja untuk sekedar menjawab beberapa pertanyaan beliau.

Sebagai anak kedua yang sering dibanding-bandinhkan dengan kak Maia, kak Luna tak ingi merasa terluka dan tertindas terus menerus. Toh setiap anak dilahirkan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.

"Memang kenapa? Luna berhenti bukan karena malas bekerja. Tetapi karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk bekerja. Mas Burhan dalam bisnis meabelnya punya jadwal kerja yang padat. Aku tak ingin kedua ankku terlunta-lunta seperti anak kurang kasih sayang sebab posisiku sebagai wanita karir. Lagian, mas Burhan sudah mampu memenuhi kebutuhanku sebagai isteri. Kenapa pula aku bersaing mencari uang dengannya. Seperti pemburu Dollar saja!"
Jawab Luna tak kalah sinis.

" Buka warung kuliner yang besar kamu ya! Agar tidak sia-sia bapak nyekolahin kamu tinggi-tinggi". Bapak mulai hendak membanding-bandingkan lagi antara kak Luna dan kak Maia.

Kak Maia yang berprofesi sebagai perawat di salah satu UGD kota itu plus jualan online yang sukses digelutinya mampu menarik simpatik bapak untuk selalu membangga-banggakannya kepada semua orang.

"Untuk apa buka usaha baru lagi? Luna sama sekali tidak merasa kekurangan dengan nafkah yang diberi mas Burhan?"
Jawab Luna ketus.

"Alah, bilang saja kalau kamu berhenti kerja karena kemampuan otakmu yang kurang"
Bapak mulai memojokkan Luna.

Seketika kak Luna merasa tertampar dengan pernyataan bapak. Kak Maia yang duduk di samping bapak turut memandang sinis padanya.

"Sudah lah pak! Sudah! Bapak ini!"
Ibu tiba-tiba datang mengingatkan bapak namun segera masuk kamar karena gak tahan puterinya diremehkan begitu saja.

Dengan air mata yang mulai jatuh kak Luna tetap berusaha tegar membela diri.
"Asal bapak tahu ya! Bu Ani yodoyono saja isteri seorang presiden bukanlah wanita karir. Pak Farid seorang Rektor yang terkenal kecerdasannya, teman Mas Burhan yang sering ke sini itu, isterinya bukan wanita karir kok." Jawab Luna membela.

" Bapak tahu kenapa mereka tidak bekerja?" tanya Luna sambil menyeka air matanya.

" Ya karena mereka hendak menyiapkan generasi sholeh dan sholehah. Sebagai isteri lulusan S1 mereka hendak mencetak generasi gemilang".

Luna mulai merasakan emosinya mereda karena satu persatu alasannya berhenti kerja telah disampaikan dg baik.

" Mulai sekarang, Buang pemahaman sempit bapak kalau orang sekolah harus jadi ini dan itu. Karena kita manusia hanya mampu berikhtiyar. Hasilnya Allah yang tentukan. Luna ini seorang isteri pak. Punya kewajiban berbeda dengan mas Burhan". Legah rasanya Luna benar2 mengungkapkan uneg-uneg yang selama ini terpendam.
----------------------------------****---------------------------


Rasanya belum sembuh luka kak Luna tentang itu. Hingga ia bercerita kepada Naya dengan masih menahan perih tahun lalu.

" Apa aku harus atur strategi ya agar kk Luna mau menerima bapak untuk tinggal dengannya". Pikirku berkata.

"Sebenarnya ini kesempatan besar buatnya membuktikan kepada bapak bahwa ia bisa hidup layak dengan pilihan hidupnya sendiri"

"Semoga rencanaku berbuah manis" Ucap Naya lirih.
------------------------*****--------------
" giman kalau kita bicarakan dulu dengan kak luna?" Usul Naya pada Rani

"kondisiku juga tak jauh beda dengan kakak.
Kalau kak Luna sepertinya memungkinkan". Tambah Naya meyakinkan Rani.

"Baiklah kita undang Luna dan Maia untuk rembuk bersama" Rani menyetujuinya.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...