Skip to main content

Air dan Sirih


" pergilah ke ustad khair. Minta air buat bu lek. Penyakit ini semakin hari bertambah parah. Serasa nyeri dan panas." Perintah Bu Lek Nadin menyuruh Mina keponakan semata wayang meminta air ke ustad Khair yang terkenal mustajab doanya.

"Sudah dua dokter yang didatangi. Belum sembuh juga. Bu lek khawatir terserang penyakit angin" tambahnya.

Mina segera melajukan motornya dengan membawa sebotol ait mineral. Sesampainya di sana ia segera memarkir motor dan melihat keadaan rumah, meyakinka kalau ustad Khair ada.

Mushollah kayu berdiri tegak di halaman rumah. Dedaunan kering berserakan di halaman dan teras rumah. Pepohonan rindang bergerak keras mengikuti angin kencang siang itu.

Mina memperhatikan keberadaan sandal sebagai pertanda bahwa penghuni rumah ada. Nyatanya tidak ada satu sandal pun. Ia memilih duduk di bagian luar mushollah cangkruk.

Sebuah kontak ia hubungi untuk bertanya keberadaan ustad.

"Assalamualaikum"  Terdengar suara dari lawan bicara.

"waalaikumussalam! Ustad, Saya Mina mau berobat. Ustad sedang di mana?" Tanya Mina.

"Sampean sudah di rumah?" Tanyanya kembali

"Iya. Baru saja saya tiba" Jawab Mina cepat.

"Tunggu sebentar ya. Saya masih di jalan. Sebentar lagi pulang" Jawabnya.

"Baiklah" Mina segera salam dan mengakhiri panggilan.

******

"Apa keluhannya, Mbak?" Tanya Ustad Khair dengan suara lembutnya.

"Ini... Bu Lek saya merasa sakit di punggungnya. Sudah dua kali ke dokter, tidak ada perkembangan sembuh. Sekarang penyakitnya menjalar ke bagian tulang rusuk. Serasa nyeri dan panas katanya." Mina menjelaskan.

"Kata dokter sakit apa?" Tanya ustad Khair.

"Kurang tau juga. Beliau tidak bercerita hanya bilang keluhan yang saat ini dirasa" Jawab Mina.

"Bawa ke sini airnya mbak!" Pintanya.

Setelah air diserahkan,  Ustad Khairpun membawanya ke kamar dengan enam lembar daun sirih yang baru saja ia petik di samping rumah.

Dua puluh menit kemudian, beliau keluar dengan sebotol air mineral dan bungkusan pelastik yang berisi lipatan daun sirih.

Pak Khair pun menjelaskan aturan pakai keduanya ke Mina saat mengobati penyakit Bu Lek.

"Bagaimana kabar suamimu? Tetap fokus dengan kerjaannya?" Tanya beliau yang masih kerabat suami Mina.

"Alhamdulillah baik Ustad. Sekarang masih sibuk urus kerjaan". Jawab Mina.

" Emmm...kira kira bu lek saya terkena sihir tidak ya, ustad?" Mina memberanikan diri bertanya. Diam. Beberapa lama Ustad Khair menjawab,

"Ya saya tidak berani bilang. Yang jelas air ini sudah saya doa kan untuk penyakit sihirnya juga".

"Gini ini bikin galau, Ustad". Curhat Mina.

"Sudah dua kali ke dokter seharusnya ada hasil kesembuhan. E malah kian parah. Mau dibilang ini penyakit sihir juga bingung karena tidak terlihat". Keluh Mina.

"Yang sabar saja Mbak. Barangkali belum saatnya sembuh." Jawab beliau Bijak.

"Kapan hari juga ada yang ke sini dengan keluhan yang mirip dengan sampean. Beberapa kali ke dokter juga belum sembuh sembuh." Ustad Khair menjelaskan.

" Lalu, ustad? Dari sini orangnya sembuh?" Tanya Mina.

"Alhamdulillah beberapa hari seteleh itu, ia datang kembali membawa banyak buah buahan." Jawab Ustad Khair.

"Gini ini Repot ya, Ustad. Hidup di lingkungan serba mengandalkan kemenyan. Sangat susah. Saya rasa tidak hanya di Palestina yang merasa terancam jiwanya. Saya pun merasakan hal sama. Setiap waktu dihantui bagaimana seandainya saya korban berikutnya". Mina mengungkapkan keluh kesahnya.

"Ya, namanya manusia mbak, tidak lepas dari ujian hidup." Ustad Khair menanggapi.

Mina berani berkeluh kesah pada Ustad khair sebab merasa beliau adalah alumni pesantren dengan keilmuan agama yang sangat mumpuni dan sedikit banyak tahu ilmu perdukunan. Kemampuan membaca pikiran orang diperoleh dari leluhur beliau.

"Biasanya sandal sandal itu yang dijadikan objek mereka yang punya ilmu sihir. Jawab ustad Khair.

"Maksudnya, ustad? " Tanya Mina.

"Untuk mengirim santet, medianya dari barang barang yang biasa dikenakan korban. Seperti sandal dan baju" terang Ustad Khair.

Mina memperhatikan dengan seksama. Tidak dihiraukan perasaan ngeri dan takut yang menyergapnya. Ingatannya kembali kepada barang barang yang pernah hilang selama ia dan suami menikah dan menjadi penduduk tetap.

"Hidup di daerah begini serasa mencekam Ustad. Terkadang terbersit pikiran kalau orang orang itu dapat merusak akidah kita." Ungkap Mina.

"Masalahnya, tidak ada sportifitas pada mereka yang memiliki ilmu itu. Contohnya begini, mereka menyebarkan hoax tentang kita. Giliran kita bersikap tidak terima dengan gosip yang disebarkan, esok hari bisa bengkak perut kita." Tambah Mina.

Ustad Khair yang mendengarkan hanya menimpali dengan senyum santai.

"Apa iya, di daerah lain lebih aman ya ustad?" Tanya Mina.

"Begini, di daerah mana pun kita akan tetap bertemu dengan orang demikian. Kita saja yang harus mempertebal keyakinan kalau doa kita pasti dikabulkan."

"Dukun santet mintanya sama kepada Allah meski yang diminta keburukan.  Rasa takut berlebihan terhadap santet justeru akan mengurangi keyakinan kalau doa kita pasti diijabah juga oleh Allah." Ustad Khair menjelaskan.

"Jadi, apa nih yang dapat dilakukan untuk membentengi diri? " Tanya Mina.

" Ya perbanyak berdzikir. Sebisanya bacaan Dzikirnya diistiqomahkan setiap hari." Ustad Khair menjelaskan.

Mina tidak bergeming mendengarkan. Namun berhubung hari mulai sore, ia segera pamit undur diri. Ia segera menuju rumah Bu lek Nadin mengantar air agar segera diminum.

Sesampainya di rumah bu lek Nadine, Mina menyerahkan air dan sirih seraya berkata,

"Lek, pesan Ustad Khair kalau sakit dan sehat sudah ketentuan Allah. Obat, dokter, dukun dan air doa hanyalah perantara saja." Mina mengatakan isi pikirannya mengatas namakan ustad Khair sekalipun beluau tidak mengatakan demikian.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...