Skip to main content

Aku dan panca inderaku




Awal pertemuan untuk kelas kedua yang aku ikuti. Dag dig dug semua bercampur aduk dalam hati. Terbayang duluan tentang suasana kelas baru. Seseru kelas JeWe 51 Kah?

Tepat jam 07.55 mataku tak berani beralih dari layar gawai. Facebook segera ku tutup. Ku ambil buku dan pena sebagai alat belajar selama kelas berlangsung.

Jam 08.05 Coach Lutfi menyapa kelas dengan ramah seraya mengajukan beberapa pertanyaan. Diantaranya:


1. Berapa harga panca indramu ?
2. Mengapa Allah memberimu panca indra?
3. Bagaimana caramu menyedekahkan panca inderamu?
4. Sejujurnya, kapan anda benar benar mensyukuri panca indera itu?
5. Apa yang akan kau lakukan jika 2 panca inderamu tak berfungsi?
6. Siapa yang bahagia dengan keberadaan panca inderamu?
7. Lalu apa hubungan panca indera dengan
 menulis?
8. Dari hati yang paling dalam apa yang ingin kau katakan pada panca inderamu malam ini?

Dari pertanyaan di muka jawaban yang cukup mewakili tentang aku dan panca indera adalah terlebih dahulu kita perlu menyadari bahwa panca indera kita tidak ternilai harganya.

"Apa?" tanya rambut gak terima.

"Bukannya yang bisa rasain angin itu aku ya? Buktinya, kalau ada angin, aku bergerak bergoyang ke sana ke sini" rambut memaksa menyela diantara pembicaraan ku dan panca indera.

" Eh, kamu sini deh!" sambil ku pegang rambut dan ku sisir lembut.

"Semua benda yang terkena angin pasti bergerak. Dedaunan, pakaian, kertas semya bergerak. Gak hanya kamu." jawabku menenangkannya.

" Oh gitu. Kalau begitu fungsiku apa dunk?" tanyanya melas.

"Tanya saja pada kutu ysng sudah lama menjadi penghunimu." jawabku ketus.

"Lanjut bund lanjuuuuut tugasnya" kulit yang merasa di remehkan fungsinya oleh rambut jerit jerit lantang.
"Baiklah", jawabku santai.

Bersyukurlah atas kesempurnaan itu semua karena dengannya kita dapat menikmati segala keindahan nikmat dan karunia Allah tiada tara.

Kita dapat merasakan kesegaran embun pagi, kesejukan sore hari, siang yang panas namun menyehatkan karena berkat panas, kulit dapat menghasilkan keringat sekaligus berfungsi juga mendetox racun-racun yang terserap badan.

"Huacciiimmmm!!" tetiba telinga bersin keras.

"Bukannya keringat fungsinya untuk membersihkan dakimu kulit? " tanya telinga gak terima kalau keringat berfungsi sekeren itu bagi kulit.

"Ya, itu salah lain nya juga sih selain mendetox" jawab kulit yang sedang kedinginan sampai dalah ngomong.

"O begitu. Lanjut" usul telinga padaku.

Jadi, Kita dapat melihat segala peristiwa keagungan Allah melalui kejadian setiap hari. Seperti peristiwa alam, lingkungan dan individu.

Kita dapat merasakan kenikmatan sebuah makanan. Pahit, manis, asam, asin bahkan pedas dan dingin. Semua itu dapat membuka hati dan pikiran bahwa Allah maha sempurna.

Oleh karenanya dengan kesempurnaan panca indera ini, sebaiknya kita fungsikan mereka kepada hal baik dan positif.

Kita arahkan mereka untuk menyerap energi positif dengan baik. Lalu ditularkan dalam bentuk sikap, tulisan ataupun pikiran positif .

sehingganya kita dapat mendekatkan diri dan orang sekitar kepada sumber kebaikan yaitu Ar Rahman dan Ar Rahim.

Kali ini semua panca indera diam tak bergeming. Entah paham entah males. Yang jelas mereka masih ingin mendengarkan ulasan berikutnya.

Nah, sebagai bentuk rasa syukur atas panca indera  ini, seharusnya kita menghindari sikap mengeluh mengingat ada banyak orang diciptakan dengan keterbatasan sangat menginginkan kesempurnaan panca indera.

Bayangkan seandainya kedua mata kita tidak dapat melihat keindahan dunia? Pasti yang ada hanyalah gelap. Meski panca indera lain masih berfungsi dengan baik.

"Wah so pasti itu" jawab mata seraya menahan kantuk.

Oiya, perlu diingat. Walau kita dikaruniai panca indera sempurna tak elok kita bersikap tinggi hati dan memandang remeh pada mereka yang terbatas. Karena Allah menciptakan makhlukNya lengkap dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Pantaslah bila kita dan orang-orang sekitar berbahagia dengan panca indera yang kita miliki. Setidaknya dengan panca indera ini, kita dapat menularkan energi positif kepada orang sekitr meski melalui tulisan.

Teruntuk semua panca indera kita saat ini, terimakasih karena sudah berfungsi dengan baik. Membuatku merasa menjadi makhluk sempurna. Kedepannya yuk kita fokus kepada yang baik dan positif saja. Alfatihah.


"Baiklah bunda...ayok kita sama sama menuju kebaikan" panca indera kompak menjawab.


#Virus Bahagia
#Menulis itu sedekah

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...