Skip to main content

Keseruan Iqbal




Sejak duduk di bangku kelas dua, Iqbal maikn intens pergi ke sungai. Amankah?

Sepulang sekolah, seperti biasa dia panggil-panggil aku, tas dan segala atribut sekolah ia lucuti di teras rumah sambil jerit-jerit, ibu ambilkan aku baju ganti, aku ditunggu teman. Aku mau main ke sana.

Sang ibu yang baru saja membuang rasa lelah karena sudah memasak, beberes rumah, mencuci baju plus menjaga si adik, ke luar rumah dengan santai.

"Iqbal, seragamnya dimasukin dulu sana. Jangan ditinggal begini". Perintahku seraya menenteng baju ganti buatnya.

"Ibu saja. Jadwal iqbal besok masukin bajunya sendiri" jawabnya segera berlalu dengan sepeda ke rumah temannya.

Hmmmm begitulah mendidik anak laki-laki. Harus super telaten dan bisa tahan amarah. Meski terkadang emosi marah bergemuruh di dada.

Bagaimana tidak? Semakin aku melarangnya untuk pergi ke rumah teman, semakin jadi pula ia pergi tanpa ijin. Padahal pertimbanganku satu, khawatir pergi ke sungai, khawatir tenggelam. Naudzubillah.

Tetapi setiap kali aku menjemputnya selang dua jam setelah kepergiannya dari rumah, dia selalu berusaha menenangkanku. Seolah dia sudah paham dengan ekspresi mukaku yang sengaja ku buat jutek. Niatku sih agar ia takut.

"Tadi seru banget lo bu! Teman-teman main air pakai pelepah pisang. Siapa yang jatuh, dia yang harus menariknya". Ceritanya riang penuh tawa.

"Temanmu gak ada yang nangis? Kan kamu gendut. Ntar teman-temanmu pada mengeluh." Tanyaku meluapkan kekhawatiranku saat dia bersosial dengan teman-temannya.

"Ya enggaklah bu. Yang mandi juga kakak A, kakak B, kakak C. Mereka kakak kelas semua. Badannya sama kayak iqbal." Jawabnya tetap dalam emosi yang sama.

"Sungainya dangkal kah? Gimana kalau iqbal tenggelam atau teman-trmannya? Kan ibu jadi nangis nanti" tanyaku.

" sungainya segininya iqbal. Gak dalam kok" jawqbnya sambil nunjuk dadanya.

Ok, walau masih ada kekhawatiran akhirnya aku mulai berdamai dengan hobi barunya. Walau sejam atau dua jam selepas kepergiannya ada wali murid teman iqbal yang menelponku, mengabarkan kalau dia sedang di sungai ahirnya aku mau memahami kalau anak laki-laki sukanya bermain yang demikian berbeda dengan anak perempuan yang tahan diam di rumah seharian dengan bermain boneka, masak memasak dan menggambar.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...