Skip to main content

Mati Suri





Diujung usahanya Mirna memutuskan untuk mengahiri hidup. Memang terdengar bodoh. Mirna yang selama ini paling lantang menyuarakan perjuangan hidup, kini mati menjadi pilihan terakhir baginya.

Berbagai macam ujian yang mendera tidak sanggup lagi ia hadapi. Ia lelah. Ia hanya ingin beristirahat. Ibarat film, ia ingin mengajukan permohonan cuti selama dua hari. Mengistirahatkan fisik, jiwa, hati dan fikirannya kepada sutradara film.

Kali ini keputus asaan benar benar menderanya. Tidak ada lagi kata mungkin. Tidak ada lagi harapan yang menahannya untuk sekedar bertahan di posisinya sebagai manusia.

Mirna terlalu fokus pada hal hal negatif yang menyerangnya hingga ia lupa menyadari bahwa ia belum berbuat apa apa untuk dirinya sendiri.

Kursi ia pesiapkan. Racun tikus ia beli dua botol sebagai pesiapannya bunuh diri. Semua ia persiapkan tanpa ada satu orangpun yang tahu.

" Saatnya tiba" pikirnya saat itu. Kala semua orang pergi keluar rumah, sibuk dengan aktifitasnya masing masing, Mirna segera membuka tutup botol racun itu. Segera ia teguk habis seketika. Aroma racun tidak ia rasakan. Hanya pusing yang dirasakan dan gelap.

******

Mirna tersesat di sebuah lorong gelap, sunyi, hening dan dingin. Ia berusaha bangkit mencari sumber titik cahaya yang bersinar di ujung lorong. Namun tiba tiba sang kakek lengkap dengan pakaian muslim menghampirinya.

"Mirnaaa" kata kakek.

"Kakek, kakek mau kemana? Mengapa kita di sini? "Tanya Mirna dengan mata sembab. Ia benar benar bingung.

"Mirna, kakek ingin bertanya beberapa hal padamu. Kakek yang terlihat pucat kini duduk di hadapannya. Mirna duduk mengikutinya.

"Dulu, saat usia muda kakek punya sebuah impian. Kakek sangat ingin mewujudkannya. Namun sayang Allah berkehendak lain". Kakek tertunduk diam.

"Apa impianmu Mirna? " Tanya kakek.
Mirna yang bingung dengan semua keadaan itu menjawab ragu. "Banyak kek. Banyak sekali". Jawab mirna.

"Menurutmu, mengapa sebaiknya manusia memiliki impian? " Tanya kakek lagi. Mirna diam sejenak.ia mengamati kuku-kukunya yang pucat.

"Agar hidup terasa lebih indah. Agar hidup semakin terasa. Tidak seperti mayat hidup". Jawab Mirna.

Ia belum juga faham dengan semua yang terjadi padanya. Dan kakek? Bukankah kakek sudah lama meninggal? Mengapa ia mampu berkomunikasi denga kakek?

Kakek tiba-tiba memegang pundak Mirna. Menatapnya penuh lekat.

"Bagaimana...caramu meraih impian besarmu? " Tanyanya kemudian.
Mirna diam. Ia semaikn tidak mengerti dengan semua ini termasuk pertanyaan kakek. Tatapan itu seakan mendesaknya untuk menjawab.

"Berusaha sekuat tenaga. Semampu yang kita bisa. Tidak tangung tanggung meski harus tertatih tatih". Jawab Mirna ragu.

" Berapa harga impianmu mirna? Apa saja impian terbesarmu? " Tanya kakek. Suara Mirna tercekat di kerongkongan. Kali ini Mirna terguncang. Ia baru sadar kalau ia mati. Dan kini bertemu sang kakek. Impian dan harapan semua terdengar kosong banginya.

Ia menangis meraung sejadi-jadinya. Andai kakek tahu beban derita yang dialaminya. Kakek tidak mungkin bertanya sejauh ini. Kini semua pertanyaan itu hanyalah harapan kosong bagi perempuan yang sudah menjadi arwah itu.

"Aku tidak mau menjawabnya". Mirna menjawab ketus.

"Mirna, susunlah semua jawaban kakek di hatimu. Bila Allah memberimu satu kesempatan lagi untuk hidup, wujudkanlah jawaban jawaban itu minimal dalam hidupmu sendiri" singkat kakek berpesan.

*******

Beberapa perawat berusaha memompa jantung pasien itu. Selang Oksigen ditancapkan ke hidung dan perawat lain menepuk nepuk pipinya.

Tik...tik...tik...tik...beberapa lama monitor pengukur detak jantung kembali berbunyi
"Alhamdulillah.." Suara Burhan, suami Mirna terdengar lembut diujung ranjang pasien.

Tidak berapa lama Mirna pun sadar meski segalanya belum pulih maksimal, ia tahu kalau ia tidak mati. Ia masih hidup. Dengan untaian kalimat jawaban dua pertanyaan kakek di lorong gelap tadi, Mirna mulai merajut asa.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...