Berawal dari tingginya kesukaanku dalam hal membaca, mulai dari novel, blog, beberapa artikel pilihanku, ribuan cerpen, majalah religi seperti Annida dan Ummi membuatku terpacu untuk menulis. Walau menulis saat itu sekedar tertuang dalam buku diary dan buku catatan.
Di bangku kuliyah, aku belum begitu tertarik untuk menulis. Tidak ada sama sekali keinginan ke arah itu. Semua fokus belajar meski sempat terganggu dengan beberapa kesalahan dan Alhamdulillah dapat ku lalui dengan baik.
Ketertarikanku menulis mulai muncul saat ratusan blog ku baca. Blogger favoritku saat itu adalah Azimah Rahayu. Tulisan tulisannya banyak menginspirasiku.
"Wah asik juga ya jadi blogger" pikirku saat itu.
Seiring berjalannya waktu, aku pun mulai mencoba menulis di kolom catatan facebook. Hanya beberapa, selebihnya tidak ku lanjutkan karena terkendala banyak hal. Maklum, bila sudah berkeluarga terlebih menyandang status emmak, segalanya butuh penyesuaian dan adaptasi.
Saat bayi mulai lahir, saya dan suamipun beradaptasi dengan status baru. Tidak hanya bahagia yang kami rasakan saat itu, beberapa gesekan perbedaan juga terjadi dalam proses adaptasi dan Alhamdulillah semua mendewasakan kami terutama aku sebagai isteri.
Saat ini, Hampir setengah tahun aku mulai berani mendalami passionku kembali. Kelas menulis online pertama tempat ku belajar adalah Alinea selanjutnya Jenius Writing.
Menulis sebagai terapi adalah tujuan uatamaku. Di sini ku temukan banyak ilmu. Aku yakin tidak ada yang sia sia dari setiap proses ke arah baik. Maka menikmati prosesnya adalah prioritas saat ini.
Terakhir, nasehat belahan jiwa sekaligus suamiku,
"Menulislah sesukamu asal jangan melupakan peranmu sebagai ibu dan isteri dalam keluarga. Apa yang kamu dalami saat ini jangan sampai mengganggu kewajiban kewajibanmu." pesan ini yang dapat mengingatkanku saat Mr. Passion menuntutku bersikap egois.
Comments
Post a Comment