Skip to main content

My Passion is My Life 2



Berawal dari tingginya kesukaanku dalam hal membaca, mulai dari novel, blog, beberapa artikel pilihanku, ribuan cerpen, majalah religi seperti Annida dan Ummi membuatku terpacu untuk menulis. Walau menulis saat itu sekedar tertuang dalam buku diary dan buku catatan.

Di bangku kuliyah, aku belum begitu tertarik untuk menulis. Tidak ada sama sekali keinginan  ke arah itu. Semua fokus belajar meski sempat terganggu dengan beberapa kesalahan dan Alhamdulillah dapat ku lalui dengan baik.

Ketertarikanku menulis mulai muncul saat ratusan blog ku baca. Blogger favoritku saat itu adalah Azimah Rahayu. Tulisan tulisannya banyak menginspirasiku.
"Wah asik juga ya jadi blogger" pikirku saat itu.

Seiring berjalannya waktu, aku pun mulai mencoba menulis di kolom catatan facebook. Hanya beberapa, selebihnya tidak ku lanjutkan karena terkendala banyak hal. Maklum, bila sudah berkeluarga terlebih menyandang status emmak, segalanya butuh penyesuaian dan adaptasi.

Saat bayi mulai lahir, saya dan suamipun beradaptasi dengan status baru. Tidak hanya bahagia yang kami rasakan saat itu, beberapa gesekan perbedaan juga terjadi dalam proses adaptasi dan Alhamdulillah semua mendewasakan kami terutama aku sebagai isteri.

Saat ini, Hampir setengah tahun aku mulai berani mendalami passionku kembali. Kelas menulis online pertama tempat ku belajar adalah Alinea selanjutnya Jenius Writing.

Menulis sebagai terapi adalah tujuan uatamaku. Di sini ku temukan banyak ilmu. Aku yakin tidak ada yang sia sia dari setiap proses ke arah baik. Maka menikmati prosesnya adalah prioritas saat ini.

Terakhir, nasehat belahan jiwa sekaligus suamiku,
"Menulislah sesukamu asal jangan melupakan peranmu sebagai ibu dan isteri dalam keluarga. Apa yang kamu dalami saat ini jangan sampai mengganggu kewajiban kewajibanmu." pesan ini yang dapat mengingatkanku saat Mr. Passion menuntutku bersikap egois.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...