Skip to main content

Obsesi Langsing?





Sudah enam kali Mirna berdiri di depan kaca lemari seraya memandangi badannya yang mulai mengembang. Berkali kali ia tekan perutnya yang besar. Menempelkan telapak tangan di kedua pipi, memandang bentuk lengan atas bagian dalam yang kian membesar dan... " Ah..harus diet nih sepertinya" ucap Mirna pada bayangan yang berdiri di depannya.

" Dulu sebelum punya anak, perutku langsing. Aku bebas tentuin baju yang mana saja. Tetapi sekarang? Mengapa semua serba mengembang? " Tanya Mirna pada bayangan yang seolah tertawa mengolok badannya yang gemuk.

Akhir-akhir ini ia juga sering dijuluki si gembrot. Sedikit menyakitkan sih? Namun pembicaraan terakhir dengan Lula memotivasi tekadnya yang sempat surut untuk berdiet. Minimal mengecilkan ukuran perut.

"Baiklah, aku akan meniru Lula. Mengandalkan agar-agar selama berdiet." ucapnya penuh kesungguhan.

"Semoga usaha terakhir ini berdampak positif" harapnya.

Mirna mulai berburu agar-agar dari merk yang tersedia. Dengan berbagai macam varian rasa tentunya. Saat melihat perut langsing Jessica Iskandar, ia makin terobsesi mengecilkan perutnya yang melar.

*********

Hari ini adalah hari pertama Mirna mengkonsumsi agar-agar. Ia mengolah bubuk agar-agar di mix dengan sari buah tanpa gula.

Ia olah semua bahan di atas kompor. Terbayang di benak Mirna warna agar-agar yang merah menyala bak buah semangka segar tanpa biji.

Mirna segera melakukan hal lain demi menunggu agar-agar memadat sesuai catakan yang tersedia.

Sengaja ia simpan di lemari pendingin agar rasa penat selepas beraktifitas seharian terobati dengan kesegaran agar-agar yang dibuatnya.

******
Setelah lelah beraktifitas, saatnya Mirna menyantap cemilan yang ditunggu tunggu. Perlahan ia keluarkan agar-agar dari kulkas. Ia tuang ke atas papan pengiris kue.


Tiba-tiba rasa kecewa menyerangnya begitu saja setelah tahu di dalam agar-agar ada seekor cicak yang turut memadat.

Ingatannya tidak berhenti berputar. Sehingga ahirnya ia berkesimpulan kalau ia menyimpannya tanpa menutup cetakan dengan rapat saat di meja makan.

Kini Mirna hanya dapat gigit jari. Membayangkan perut langsingpun ia tidak berani sebab cemilan perdana yang dibuat gagal dikonsumsi.


#Perut Agar agar suka kebersihan

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...