Dulu saat belum punya anak kedua, paling anti yang namanya makanan pedas dan asam seperti rujak.
Saat semua teman teman menikmati kesegaran rujak hanya aku sendiri yang enggan menyantapnya. Penyakit maag menjadi alasan utama penolakanku tiap kali ada yang mengajakku menikmati rujak manis.
Kala itu, saat hamil anak pertama suami yang sedang ngidam rujak dapat menikmatinya tanpa ku ikut nimbrung.
Sekarang, hari ini kondisi itu berbalik 180 derajat. Sejak kehamilan kedua yang bawaannya selalu ingin memakan rujak manis membuatku terbiasa dan menjadi suka pedas.
Entah mengapa seolah penyakit maaghku sembuh. Tiap kali menyantap rujak biasanya perut tidak bisa dikondisikan. Selain terasa sakit pasti pusing.
Hal ini tidak lagi ku rasakan saat kehamilan kedua. Hingga banyak orang yang memberiku saran untuk tidak terlalu berlebihan mengkonsumsi pedas. Kasihan mata si dedek bayi saat lahir nanti. Alasan mereka demikian.
Namanya orang hamil, makan batupun bila tidak dituruti akan menjadi masalah. Akhirnya ku abaikan saran itu dan lanjut berdamai dengan rujak yang pedas.
Justeru suamiku yang suka pedas, kini sering menolak tiap kali ku ajak nimbrung menyantap rujak. Baik itu di rumah sendiri ataupun di rumah mertua. Rujak bagiku makanan favorit saat ini terlebih bila musim mangga tiba.
Pernah suatu ketika, mungkin karena keseringan makan rujak, anak keduaku yang masih minum ASI muntah muntah dan diare. Mbah mertua menasehatiku untuk menghentikan hobiku itu sementara waktu hingga si dedek sembuh.
" Coba makan rujaknya disudahi dulu. Kasihan perut bayinya panas". Kata si Mbah.
Aku yang panik hanya dapat diam mengiyaka n dengan pasrah. Hal ini menjadi pelajaran penting bagiku bahwa kita tidak dapat selalu menuruti keinginan pribadi kita sementara ada orang lain yang terkena imbasnya. Aku yang tidak dapat memberi ASI pada anak sulungku mulai faham bahwa pengorbanan seorang ibu tidak pernah ada batasnya.
Comments
Post a Comment