Skip to main content

Rujak Manis


Dulu saat belum punya anak kedua, paling anti yang namanya makanan pedas dan asam seperti rujak.

Saat semua teman teman menikmati kesegaran rujak hanya aku sendiri yang enggan menyantapnya. Penyakit maag menjadi alasan utama penolakanku tiap kali ada yang mengajakku menikmati rujak manis.

Kala itu, saat hamil anak pertama suami yang sedang ngidam rujak dapat menikmatinya tanpa ku ikut nimbrung.

Sekarang, hari ini kondisi itu berbalik 180 derajat. Sejak kehamilan kedua yang bawaannya selalu ingin memakan rujak manis membuatku terbiasa dan menjadi suka pedas.

Entah mengapa seolah penyakit maaghku sembuh. Tiap kali menyantap rujak biasanya perut tidak bisa dikondisikan. Selain terasa sakit pasti pusing.

Hal ini tidak lagi ku rasakan saat kehamilan kedua. Hingga banyak orang yang memberiku saran untuk tidak terlalu berlebihan mengkonsumsi pedas. Kasihan mata si dedek bayi saat lahir nanti. Alasan mereka demikian.

Namanya orang hamil, makan batupun bila tidak dituruti akan menjadi masalah. Akhirnya ku abaikan saran itu dan lanjut berdamai dengan rujak yang pedas.

Justeru suamiku yang suka pedas, kini sering menolak tiap kali ku ajak nimbrung menyantap rujak. Baik itu di rumah sendiri ataupun di rumah mertua. Rujak bagiku makanan favorit saat ini terlebih bila musim mangga tiba.

Pernah suatu ketika, mungkin karena keseringan makan rujak, anak keduaku yang masih minum ASI muntah muntah dan diare. Mbah mertua menasehatiku untuk menghentikan hobiku itu sementara waktu hingga si dedek sembuh.
" Coba makan rujaknya disudahi dulu. Kasihan perut bayinya panas". Kata si Mbah.

Aku yang panik hanya dapat diam mengiyaka  n dengan pasrah. Hal ini menjadi pelajaran penting bagiku bahwa kita tidak dapat selalu menuruti keinginan pribadi kita sementara ada orang lain yang terkena imbasnya. Aku yang tidak dapat memberi ASI pada anak sulungku mulai faham bahwa pengorbanan seorang ibu tidak pernah ada batasnya.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...