Sudah dua hari Farihah selalu mencari Hand Phone tiap bangun tidur. Mulai rengekan hingga jeritan ia lakukan agar diberi HP. Sebagai ibu rumah tangga, ibu Fina merasa khawatir dengan perubahan puteri keduanya. Bukan apa, sejak tetangganya masuk Rumah sakit Jiwa karena keranjingan HP, ia jadi takut hal serupa terjadi pada buah hatinya.
Akhirnya ia dan suami bersepakat untuk menjauhkan HP dari anak anak.
" Eh iya lo bu, keponakan saya matanya jadi rusak. Setelah ditelusuri penyebabnya, si anak terlalu sering berinterakai dengan HP. " Kata bu Ani tetangga sebelah bercerita saat mengitari gerobak sayur pagi itu.
Wah bahaya juga ya. Pikir ibu Fina saat itu.
" Sepertinya memang harus dijauhkan sih bu agar anak anak berkembang secara normal." ungkap si ayah kepada ibu Fina saat makan malam.
Ok, ibu Fina faham. Ia harus segera bertindak menjauhkan anak anak dari Hp. Tapi masalahnya ibu Fina memiliki acara rutinan setiap minggunya. Arisan, pengajian RT dan beberapa acara lainnya.
"Wah bagaimana caranya agar aku tidak terlihat membuka HP di hadapan anak anak ya? Tanya ibu fina pada si ayah.
"kegiatan mingguan juga sangat menuntutku untuk selalu buka wa group. Kalau gak gitu aku tertinggal informasi." Tambahnya pada suami yang terlihat lebih menawan saat itu.
"Hmmm...Ya kamu harus pilih. Semua pilihan ada konsekuensinya masing- masing. Mau pilih rutinan ya harus siap dengan sikap anak yang juga ikut keranjingan HP. Mau pilih anak, ya harus siap berkorban".Jawab si ayah simpel.
"Masalahnya, kamu sering lupa diri. Lupa kalau anak anak kita masih kecil. Mereka sangat butuh perhatianmu. Lupa kalau..." si ayah mengingatkan namun bibirnya segera ditutup oleh ibu Fina dengan jari telunjuknya.
"kali ini aku ngaku, aku salah" ucap ibu Fina kepada kekasih hatinya.
"Tetapi aku kan punya tanggungjawab? Ibu Fina kembali bertanya.
" Ya pintar pintar kamu lah yang bijak membagi waktu. Setidaknya kamu tahu dengan kewajibanmu di depan mata. Bukan justeru yang jauh dikerjakan". Jawab si ayah segera pergi keluar teras.
Ibu Fina bingung. Dalam bingungnya ada kemauan untuk menjalankan dua perannya dengan baik.
Pertama,menjadi ibu baik buat anak anak dengan memberi tauladan positif.
Kedua, menjadi perserta baik di acara rutinan. Bagaimanapun ia butuh wadah untuk bersosial. Agar pikiran dan otaknya tidak mandeg.
Comments
Post a Comment