Skip to main content

Sederhana itu...



Rahma menyiapkan tiga baju untuk dikenakan dalam sebuah acara. Sebelum dikenakan, sepertia biasa ia meminta pertimbangan kak Roni yang sekaligus berperan sebagai ayah baginya.

Baju pertama berwarna coklat susu. Baju lebaran tahun lalu. Tampilannya sederhana. Bahkan nyaris terlihat bukan seperti baju idul fitri karena motifnya yang polos.

Kala itu baju ia beli sehari sebelum idul fitri. Kemungkinan ia kehabisan stok model karena telat beli baju. Anggapannya saat itu.

Baju kedua berwarna hijau toska dengan kombinasi hitam dan merah. Terkesan mahal. Ia beli 3 bulan sebelum idul fitri tahun ini. Ia tidak ingin peristiwa lalu terulang kembali oleh karenanya ia memutuskan membeli via online meski rugi ongkos kirim sebagai konsekuensi yang harus diterima saat itu dalam bertransaksi jual beli online.

Baju berikutnya berwarna pink bermotif garis-garis. Harganya murah tapi modelnya kekinian ala-ala Sabyan gitu.

Ia mencoba memberi kesempatan kepada sang kakak  untuk memilih baju mana yang pantas ia kenakan di acara esok, acara pernikahan sepupunya.

"Yang mana kak?" tanya Rahma.
"Buat acara apa nih? Tanya Roni kembali.
"Ya acara besok lah masak ke pasar? Jawab Rahma ketus.

"emmmh karena kakak gak suka pamer, aku pilih ini" Kak Roni memilih baju berwarna coklat susu.

"Yah kok ini sih? Ini terlalu sederhana. Aku gak suka. " Jawab Rahma menolak.

"Eits ....Rahma,menghadiri undangan pernikahan hukumnya wajib tetapi bukan untuk pamer. Orang bijak gak akan menilai seseorang hanya dari pakaian yang dikenakan. " kak Roni menjelaskan panjang lebar.

"Yah padahal aku kan? " Rahma masih berusaha bertahan menolak.

"Sudah kamu tanya kakak atau gimana nih? Kakak memberi jalan keluar untuk keselamatan akhiratmu. Bukan berniat lain. " Kak Roni menenangkan dan akhirnya Rahmapun mengiyakan pilihan sang kakak.

Iya yakin nasihat kakak semata wayang akan tetap sama saat nanti ia bertanya kembali tentang kepantasan pakaiannya. Bahkan hingga lima tahun ke depan dan berikutnya untuk selalu tetap sederhana seberapapun harta yang dimiliki.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...