Skip to main content

Sesal Rudi




Sejauh mata memandang, hanya nama janda itu yang dibaca di riwayat pencarian di akun medsos Rudi, suaminya.
 "Aku lelah, Mas". Suci mengeluh.

Rudi terdiam. Ia tidak dapat berbuat banyak karena kelakuannya selama ini diketahui suci.

"Tak ku sangka kau sekejam ini padaku." Pedas kalimat itu terlontar dari bibir Suci yang pucat karena dua haru ia jarang makan.

"Suci, ayolah...Maafkan aku! Aku khilaf." Rudi segera memotong lontaran Suci yang sudah ia terima bertubi tubi selama dua hari ini.

"Tidak seburuk yang kamu kira." Rudi membela diri.

"Oya? Apa yang buruk bagimu? Ketahuan setelah kau tidur seranjang dengannya? Hah? " Suci mulai meninggi.

Rudi berusaha diam. Ia sangat tau karakter isterinya.

"Untung baru ketahuan di HP. Coba kalau aku tahu setahun kemudian. Sudah bunting itu janda." Suci menjawab sinis.

"Astaghfirullah... Suci. Aku tidak seburuk itu." Jawab Rudi.

"Hallah..iya aku tahu kamu orangnya diam. Pakaianmu selalu berpeci dan bersarung. Masak tau orang dengan karaktermu yang begini?" Suci mulai gusar.

Telinga Rudi memanas. Tetapi dia memilih diam karena beberapa bukti telah diungkap Suci. Selama ini ia tidak menyadari kalau bangkai yng disimpan akan tercium juga.

"Aku gak habis fikir." Air mata suci mulai mengalir.

"Ternyata cinta yang kita perjuangkan dulu mampu dirusak sesosok janda centil itu. Gayanya berkerudung. Sok alim.ternyata kecentilan menggoda suami orang".
Emosi Suci mulai terdengar meninggi. Ada getaran suara yang tertahan di tenggorokan. Namun tidak keluar. Rudi diam. Dia hanya diam pasrah.

" Trus sekarang, maunya bagaimana? "Tanya Rudi.

"Aku mau kamu jujur padaku. Sejujur jujurnya."  Masih berderai air mata Suci mengutarakan permintaannya.

"Jujur apa lagi sih?kan sudah kamu baca semua? " Tanya Rudi.

"Gak. Aku yakin masih ada yang kamu sembunyikan. Aku minta pasword emailmu. Aku mau tau jangan jangan kamu sudah berani kirim rupiah ke dia". Suci menatapnya sinis.

"Astaghfirullah....Ayolah ... jangan terlalu berburuk sangka. Neti itu orang baik. Dia tidak seburuk itu". Jawab Rudi.

"Ho...iya..bela aja terus. Aku baru tahu ya. Tipikal seperi kamu bukan perempuan Menor dengan pakaian minim yang menggugah hatimu.bukan. tapi tuh, si Neti. Dengan gayanya sok baik. Kerudungnya saja yang panjang. Tapi air matanya diumbar ke suami orang. Biar apa? Hah?" Suci meninggi lagi.

Rudi diam. Kali ini ia benar benar tersudutkan. Ia bingung harus berbuat apa.

*********

Pagi pagi sekali Rudi bersiap diri berangkt ke tempat kerja. Kali ini tekadnya bulat untuk berhenti.mengundurkan diri. Kalau itu dapat mengembalikan kepercayaan Suci, mengapa tidak? Pikirnya. Bukankah selama ini keluarganya tercukupi dari usaha lain. Bukan dari gaji kantor swasta yang tidak seberapa.

"Mau kemana? " Tanya suci dari belakang kursi Rudi.

"Mau ke kantor. Mau mengundurkan diri. " Jawab Rudi tegas.

Ada setitik legah di hati Suci dengan keputusan itu. Ia akan berhenti bertemu Neti. Bukankah kebersamaan juga turut andil dalam berseminya sebuah rasa.

"Ya hati hati di jalan!" Suci membantu Rudi menyiapkan tas dan helm. Rudipun pamit bergegas pergi.

******

Suci merenung terdiam lama di dapur seorang diri. Otaknya mulai kembali waras. Baru disadarinya bahwa Rudi salah berteman selama ini. Lingkungan kerja yang diisi dengan karyawan karyawan baru membuat Rudi ikut arus.

Selama ini yang diketahuinya, Neti adalah janda baik. Tapi dulu, sebelum SMS itu terbaca saat dini hari, Suci hendak membangunkan Rudi sholat malam.

Pesan itu terbaca lewat gawai yang masih bertengger rapi di genggaan Rudi yang tertidur pulas di kamar sebelah.

Ah menyakitkan memang. Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur . Suci harus segera menghargai sikap sesal Rudi. Ia harus bisa memafkan dan memulai cinta mereka dari awal layaknya pengantin baru dulu.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...