Skip to main content

Tajhin Sora





(Ibu Rima sedang sibuk mengaduk bubur beras yang hampir matang)

"Ratna, sana pergi beli mie kuning, telur dan kacang goreng ya" perintah bu Rima.

"Baik Bu" Ratna segera mengambil kerudung, dompet dan kontak motor. Motor distarter dan langsung tancap gas.

Selang beberapa menit, Ratna datang dengan sekantong pesanan sang ibu.

Lantas ia letakkan semua belanjaan di meja dapur seraya membantu memasak bubur  agar selesai lebih cepat.

"Telurnya digoreng dan sekalian diiriskan ya!"
"Cabe merahnya juga". Suruh ibu.

"baik, bu"Jawab Ratna.

(disela-sela memasak, Ratna menanyakan apa yang menjadi keluhannya selama ini).

"Mengapa kita harus buat begini sih bu?"
"Ini kan makanan Manusia lanjut usia?." cerca Ratna

"Eits, jangan begitu. Ini adat yang semetinya dilestarikan.Tujuannya baik kok."  Jawab ibu Rima santai.

"Menurut yang ibu dengar di pengajian muslimat kemarin, ada banyak kejadian istimewa yang terjadi di bulan Muharram. Salah satunya diselamatkannya perahu Nabi Nuh dari bencana banjir" ibu Rima mulai menjelaskan.

"Apa hubungannya dengan Tajhin Sora?" Tanya Ratna kembali seolah keluhannya selama ini ingin segera diluruskan.

"Konon waktu itu saat perahu Nabi Nuh mendarat, persediaan makanan semakin menipis. Beliau berinisiatif untuk menjadikan beras dimasak menjadi bubur beras."

"Setelah masak, semua penghuni kapal dapat memenuhi rasa laparnya dengan rata". Ibu Rima bercerita ulang ilmu yang didapat saat pengajian muslimat.

"Apa itu artinya tujuan membuat bubur untuk memperingati sejarah terselamatkannya Nabi Nuh? Tanya Ratna

"iyap. Selain itu kita belajar berbagi ke orang orang terdekat. Bubur yang dimasak dibagi bagi ke kerabat dan tetangga terdekat". Tambah ibu Rima.

Bubur beras siap dihias. Ratna menuang adonan bubur ke 15 piring sesuai takaran yang diperintahkan sang ibu.

Diatasnya ditaburi beberapa bahan pelengkap sekaligus sebagai lauknya.

Seperti mie kuning, irisan telur dadar, kacang goreng, irisan tahu dan irisan ikan bakar. Terakhir, kuah santan bumbu kuning disiramkan ke atas bubur. Tajhin siap diantar ke kerabat dan tetangga.

" Bagi Resep dunk bund?" semut merah yang dari tadi bertengger di pohon mangga depan rumah bersuara.

"Ok, tulis baik baik ya ". Jawab Ratna

"bubur beras ya layaknya kita buat bubur beras.

"Bumbu kuahnya, bawang putih, bawang merah, jahe, cabai keriting, kunyit, lengkuas, kencur, santan, daun salam, terakhir batang serrei ya. Agar wangi." tambah Ratna terang.

"cara memasaknya?" Tanya ulat nimbrung.

"Biasanya ibu ibu sudah paham ini. Semua bumbu tadi di ulek kecuali daun salam dan batang serrei. Ditumis hingga wangi dan baru diberi santan. Nah berikutnya daun salam dan serrei dicemplungin." jawab Ratna santai.

"Sudah ya? Aku mau cuci piring dulu. Tuh ntar bala tentara semut hitam datang menyerang." Ratna pamit seraya bergegas ke kran pencucian piring.

" Baik bund. Terimakasih ilmunya. Btw, gak penasaran dengan resep aku tadi?" tanya semut merah.

" Resep apaan? Memang tadi kamu masak apa?" tanya Ratna kesal.

" Tumis ulat sambal balado" kata semut g mau kalah.

" Udah nanti saja setelah cuci piring" . Tolak Ratna halus. Ada ada saja tuh semut merah.

*****

Ratna dan ibu mulai menyantap bubur beras bersama-sama. Tidak lupa kecap dengan irisan cabai menjadi penghangat tenggorokan.

Namun malang, saat asik menyantap bubur Ratna tersedak sambal kecap dan ia pun terbatuk keras. Es Oyen yang baru dibelikan sang Ayah langsung disambar dan habis seketika. Ah nikmat Allah yang mana lagi yang akan didustakan.

Allah menciptakan lidah dengan segala kelebihannya. Dalam satu waktu tidak pernah ia mendengar lidah merasa bosan dengan makanan yang nyaris setiap waktu lewat.

Hanya saat si pemilik tidurlah lidah beristirahat meski esok hari ia harus siap dengan seabrek tugas yang sama dengan hari ini atau bahkan lebih.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...