Skip to main content

Tetanggaku, Inspirasiku




Sudah lima tahun Pak No menggeluti bisnis barunya sebagai pemborong tebu. Usaha yang ia rintis dari nol kini dirasa mulai berbuah manis.

Dari yang awalnya tidak memiliki apa apa, hanya bermodal satu truk butut untuk mengangkut tebu hasil panen petani ke pabrik penggilingan, kini ia memiliki empat truk tebu yang dapat mengirim tebu ke luar kota bila pabrik gula di kotanya macet.

Pencapaian yang diraih tidaklah mulus. Layaknya perintis lainnya, ada banyak rintangan yang menjadi duri di awal-awal berbisnis.

Mulai dari kehilangan perhiasan sebagai modal bisnis, tertipu dalam bisnis gadai sawah sebagai perputaran roda keuangan hasil borongan, dikhianati rekan bisnis, hingga dituduh pengikut kyai kanjeng.

Semua itu tidak menyurutkan semangatnya dalam merintis usaha tersebut. Justeru ia semakin melebarkan sayapnya. Prinsipnya, lulus sekolah haruslah menjadi sosok bermanfaat bagi sesama minimal sebagai pintu rizki bagi mereka yang butuh pekerjaan.

Teringat dulu saat awal-awal merintis. Mirna dengan penasaran bertanya tentang alasan  pak No, suaminya merekrut karyawan yang usianya tua-tua?

Sementara dalam pekerjaan ini, tenaga kuat sangatlah dibutuhkan. Mulai dari potong tebu, mengangkutnya ke atas truk, belum lagi bila truk mengalami masalah pada bannya yang terjebak di tanah liat basah, tentulah tenaga pekerja yang diandalkan untuk mendorong truk.

"Lah, mereka? Masak iya mereka mampu?" Tanya Mirna pada pak No di perjalanan pulang dari toko jamu.

Salah satu keunikan lain dari pak No adalah Membelikan jamu untuk pekerja tiap kali Pak No membayar gaji mereka. Alasannya agar tenaga mereka segera kembali pulih dan esok hari dapat bekerja dengan prima.

"Jadi gini bu, yang muda-muda biarlah mereka mencari sendiri pekerjaan yang cocok untuk mereka. Toh usia mereka masih muda." Jawab pak No tenang.

"Tapi, kita kan yang rugi pak? " keluh Mirna.

"Eits...bukan begitu. Niatku lurus membantu bapak-bapak itu. Mereka banyak memikul tanggungan. Terlebih adat di sini menuntut laki laki untuk selalu produktif. " Pak No menjelaskan.

" Tanggungan mengembalikan bawaan para tamu saat menikahkan anaknya dulu. Mengembalikan bawaan saudara saudara yang melihat cucu keponakan yang baru lahir, dll."

"Niatku ingin membantu mereka.aku yakin Allah meridhoi mereka. Siapa yang membantu sesama, maka Allah akan membantu." Jawab pak No panjang lebar.

Kali ini Mirna pasrah mengiyakan semua ide ide suaminya.

*********

Seiring berjalannya waktu, para pekerja itu wafat satu persatu karena usia mereka yang sudah semakin menua. Bekerja dengan mereka menciptakan pengalaman tersendiri bagi pak No.

Kini para pekerja tergantikan dengan yang berusia muda. Usia mereka rata rata di bawah 40 tahun. Maraknya pernikahan dini membuat para suami di kotanya rela bekerja apapun demi memenuhi kebutuhan isterinya. Termasuk menjadi kuli tebu.

Niat Pak No pun bergeser. Kini ia berniat meminimalisir angka perceraian karena ketidak mampuan suami dalam menjalankan perannya sebagai pencari nafkah.

Dengan usahanya yang baru dibilang sebiji jagung, ia berharap dapat memberi pekerjaan kepada para pemuda ini sehingga salah satu prahara pernikahan terselamatkan.

Disana, di kota kecil tempat pak No tinggal, dimana pendidikan masih dirasa bukan solusi untuk memerangi kebodohan dan mencetak SDM yang lebih dewasa, terdidik dan kreatif, pak No dan Bu Mirna berusaha bertahan dengan adat dan budaya warisan yang masih sangat kental.

Berharap, meski lamban mereka dapat mencetak jejak, merubah adat dengan cara mengurangi sedikit demi sedikit tentunya bersama sahabat sahabat lain yang memiliki visi dan misi sama.

Comments

Popular posts from this blog

Secangkir Kopi Panas

Tepat jam 09.00 malam, si sulung tidur nyenyak dengan bertelanjang dada di atas ubin. Sejak kecil ia tidak suka tidur beralas kasur. Suatu ketika saya pernah mensiasatinya dengan mengajaknya tidur di atas hambal atau karpet, tetap saja 10 menit dari tidurnya, tubuhnya yang bulat akan bergeser ke samping mencari area dingin untuk badannya. Awalnya, aku sangat mengkhawatirkannya. Khawatir dinginnya ubin berpengaruh negatif pada paru-paru atau organ dalam lainnya. Kekhawatiran itu sirna setelah si Paksu menunjukkan artikel tentang efek tidur di atas ubin yang mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak apa-apa bagi kesehatan hanya saja membuat badan jadi pegal-pegal karena sifat ubin yang keras tidak lembut seperti kasur. Keesokan harinya setelah ku tanyakan si kakak perihal badannya apakah pegal atau tidak? Jawabnya dengan santai " Enggak tuh bu!". Ok, kekhawatiran yang mendera sirna. Kembali pada cerita awal, rasa lelah belum membuat mataku terpejam dan lelap. Aku merasa...

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...