Skip to main content

Posts

Bellpalsy

Sudah dua hari nina duduk termenung meratapi penyakit yang tengah menderanya saat ini. Siapa sangka diumur pernikahan yang masih sebiji jagung, ia sudah terkena stroke. Yah dia mengira menyakit yang membuat mentalnya hancur saat ini adalah stroke. Karena mulutnya yang mencong dan garis wajah di kedua sisi tidak simetris. "Ya Allah, baru saja aku sembuh dari penyakit itu, sekarang kau beri aku penyakit ini". Gumamnya dalam hati. Keluh kesah tak lagi ia pendam. Ia luapkan dengan kucuran air mata yang tak mampu dibendungnya. "Ayo dik, siap-siap ya. Kita ke dokter saraf sekarang" kata Doni, suami Nina yang masih sibuk merekap beberapa nota pengiriman gula. "Sudah, jangan nangis terus. Nanti manisnya hilang lo". Hiburnya dari kursi tempat ia duduk. "ih mas ini..ngeledekin aku terus. Sudah muka perot begini masih dibilang manis. Kena sendiri baru tau rasa". Jawabnya cepat seolah menunjukkan rasa tidak suka dengan sikap suami yang berusah...

Sebuah Rasa

Nina adalah seorang janda dengan satu anak Perempuan yang sedang beranjak remaja. Setiap hari ia habiskan waktu dengan bekerja sebagai pembuat kue basah di sebuah toko catering milik bu Rina. Sebagai single parent, tak membuatnya bersikap lemah dalam memenuhi kebutuhan harian ia dan puterinya. Ia mulai terbiasa hidup keras. Kesedihan sebab ditinggal mati sang suami tidak lagi ia rasakan. Jarang sekali ibu Rina menemukan Nina dalam kondisi bersedih . Sikap qona'ah atas takdir Allah sepenuhnya mampu membuatnya menjadi sosok tangguh di tengah arus persaingan ekonomi yang semakin ketat. Namun, beberapa hari ini, Nina bukanlah wanita yang dapat beraktifitas seperti biasanya. Ia lebih sering terlihat murung dan gelisah. Beberapa kali ibu Rina memergokinya tengah serius memencet-mencet tombol ponselnya seolah mengetik sebuah kalimat namun selalu ia hapus. Ibu Rina tak berani bertanya terlalu dalam tentang perihal yang sedang mengganggunya saat ini. Sementara Nina, sudah d...

Kopi oh Kopi

Semangkuk kopi sangrai dengan asap masih mengepul tanda biji kopi siap dihaluskan. Aroma khasnya memikat penciumanku untuk semakin berani mendekatinya. Ku tatap pekatnya biji kopi itu serasa memaksaku untuk mencoba memakannya meski hanya sebiji. Namun apalah daya, si tangan menahan mulutku untuk ku buka. Seolah ingin menyampaikan pesan kalau ini butuh dihaluskan terlebih dahulu. Kalau makan bijinya, pahit. Memang aromanya mantab tetapi pahit. Sabar deh. Segera tanganku mengambil penghalus kopi dan memproses bebijian itu menjadi bubuk. Ku raba bubuk itu apakah sudah halus ataukah masih butuh diproses lagi. Akh ternyata bubuk siap diolah menjadi minuman pembuka hidangan para tamu. Setelah itu, segera tanganku menyambar gula, sendok dan cangkir. Oiya, air panas tentunya. Ku aduk pelan semua bahan yang telah bercampur agar minuman menghasilkan testy yang sangat ku inginkan. Maklum, sudah lama tidak minum kopi sekalinya buat harus sempurna. Ku cicipi minuman itu sedikit dem...

Resep Rahasia

Bila memasak adalah sebuah seni pengobat kegalauan sekaligus pelipur lara, dengan apa kita mampu mengukur rasa? Sudah dua kali Fino memakan habis masakan ibunya yang diantarkan oleh sang adik ipar tadi pagi. Resti tak habis fikir, dari segi tampilan, masakan tersebut serasa sama dengan buatannya. Apa karena itu masakan sang ibu? Awalnya ia berusaha memaklumi sikap Fino. Tetapi semakin kesini semakin muncul sebuah tanya. Resti yang baru dua bulan menyandang status resmi isteri pegawai bank, memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga full. Kondisi kehamilan yang baru berusia empat minggu mununtutnya untuk segera resign dari pekerjaan dan bedrest total. Banyak aktifitas yang dikerjakan dalam masa penyesuaian dengan rutinitas baru. Berbagai buku resep ia beli untuk mengisi waktu kosongnya nanti. Pada awalnya, dua kali Resti menghidangkan masakannya kepada suami tercinta mendapat respon positif. Terbukti dua kali ia memasak, dua kali habis tak tersisa. Namum belakangan, ini kali ke...

Bertanya Itu Perlu

" Eh tau gak? Orang itu semalam jerit-jerit lo" cabai memulai gosipannya dengan membahas si nyonya penghuni rumah. "Kenapa jerit-jerit?" tanya lengkuas penasaran. " Sepertinya sih bertengkar. Sudah dua hari si suami berangkat pagi pulang petang." Jawab cabai sok tahu. "Wah..wah.. Kamu jangan gitu..sebaiknya bertanya dulu..entar jadi fitnah lo" tiba-tiba air di dalam botol Aqua nyeletuk. Sedikit sih tapi bermakna. "Eh, tapi iya lo, aku semalam dengar sendiri kalau orang itu jerit-jerit." Lanjut lengkuas tidak terima karena air menganggap mereka mengada-ada. Tidak lama dari itu, botol dan air dibawa si nyonya menemaninya di teras rumah. Si nyonya yang mulai tidak kuasa menahan sakit, mulai memencet tombol HP. Di seberang menjawab dengan suara kelelahan namun berusaha untuk mengerti. "Iya bu ada apa? "Tanya sang suami padanya. "Bapak, kalau sudah kerjaannya segera pulang ya! Aku minta dianterin ke dokter g...

ATM Masa Depan

Ingatanku kembali ke masalalu saat masih SMP dulu. Kala itu aku mencari ilmu di sebuah asrama dengan jarak tempuh ribuan kilometer di luar kota dari tempat tinggalku. Berhubung jarak rumah dan asrama sangatlah jauh, ketika aku kehabisan uang, orang tua mengirimiku uang via wesel. Ada yang tahu apa itu wesel? Yang belum tahu, silahkan cari sendiri di google. Ada banyak penjelasan tentang wesel. Jadi ceritanya, bila bapak dan ibuku belum sempat berkunjung ke asrama karena sebuah kesibukan yang tidak dapat ditinggalkan, wesel merupakan solusi manis dalam berkirim uang bulanan yang telah lama habis. Namun, seiring perkembangan zaman sarana tekhnologi mengalami kemajuan. Saat kuliah dulu, untuk mengirim uang pembayaran ini dan itu, orang tuaku pun beralih sarana dari wesel ke mesin ATM. Dari pengiriman yang memakan waktu beberapa hari untuk sampai berubah menjadi sekian menit saja uang telah masuk direkening tujuan. Tidak hanya itu, pengirim juga dimudahkan dengan aplikasi m Bank...

Rengekan si Adek

Tiap kali saya membuka HP, si adek selalu berucap, " Apa itu , ya?". Kalimat tanya dengan ribuan penafsiran. Apakah ia mengajukan pertanyaan sebagai ungkapan komplein? Ataukah memang murni bertanya? Ataukah pura-pura bertanya agar diberi ijin akses membuka youtube? Sejak tahun lalu saya dan suami bersepakat mengurangi penggunaan HP bagi anak-anak. Artinya, sebagai orang tua, kita harus memberi tauladan terlebuh dahulu berupa mengurangi intensitas penggunaan HP di hadapan anak-anak. Hal itu lebih efektif dari pada hanya sekedar melarang. Anak adalah peniru ulung orang tua. Untuk membiasakan hal positif pada mereka, lebih efektif dengan sistem memberi contoh secara langsung dari pada ngomel panjang lebar bikin bibir dower tak berpahala. Sama ketika kita menginginkan anak dapat mengerjakan shalat lima waktu dengan baik. Cara efektif untuk itu ya dimulai dari orang tua sebagai orang terdekat memberi contoh bagi mereka. Penggunaan HP baru saya berikan ketika beradala da...